Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan

LAND GOLD WOMAN (2012): Review dan Download Filem


Land Gold Woman bukan film untuk mereka yang berfikiran lemah yang mencari hanya happy ending ala Bollywood', - Preeti Arora.

Terjemahan harfiah dari Zan Zar Zameen [Gambar] hanyalah wanita emas dan tanah. Tapi konotasi emosional dari frase ini bisa lebih dari itu. Ini adalah harta tak ternilai bagi siapa pun. Pada masa sekarang ini adalah apakah seorang wanita entitas dalam dirinya sendiri? Atau dia hanya sebuah 'barang' yang dapat dibuang tergantung pada disposisi manusia-nya dan agamanya?

Menurut sang sutradara, Avantika Hari, hal belum benar-benar berubah bagi perempuan. Dan laki-laki masih lebih suka untuk membunuh objek kasih sayang mereka jika mereka menimbulkan pertanyaan tentang etika dan moralitas. Setelah Khuda Ke Liye pada tahun 2008, di sini adalah satu film tentang fundamentalis Islam dan keganasan setia dengan yang mereka klaim untuk melindungi perempuan mereka.

Sebuah peringatan; banyak film dengan tema yang sama (Khuda Ke Liye termasuk) meskipun saat-saat suram meninggalkan pemirsa dengan harapan rapuh tentang cara bertahap di mana perempuan telah mulai mengambil kendali atas hidup mereka sendiri, tapi di filem ini tidak memberikan Anda harapan. Dimulai pada nada putus asa, tidak ada istirahat sama sekali. bukan film untuk mereka yang berfikiran lemah yang mencari hanya happy ending ala Bollywood.

Nazir Ali Khan (Narinder Samra) adalah seorang profesor Sejarah dan hidup sederhana di Inggris. Setelah mencapai tahap hidup di mana hal tak terduga tidak terlalu banyak yang mungkin terjadi, Nazir bangga dengan putrinya Saira (Neelam Parmar), seorang siswa SMA yang berharap untuk masuk Cambridge. takut puterinya menjadi liberal, Nazir dihadang oleh dilema membiarkan putrinya untuk masuk sebuah universitas terkenal, atau menemukan pria yang cocok untuk siapa ia dapat menikah. 

Kehidupan di rumah tangga Khan yang meliputi istri yang patuh, Rizwana (Renu Brindle) dan berbatasan dengan kenakalan remaja anak laki-lakinya, Asif (Ali Zahoor) berlangsung lancar sampai datangnya saudara tua Nazir yang bernama Riyaaz. Riyaaz terus mempengaruhi pemikiran adiknya Nazir yang selalu membicarakan nilai2 korup dari bangsa "kulit putih" yang dapat menghancurkan martabat keluarga besar mereka di tanah leluhurnya, India.

Dalam skenario ini Saira 17-tahun, yang mencintai kedua orangtuanya berusaha keras untuk meyakinkan mereka tentang keraguan nya dalam beradaptasi dengan gaya hidup yang bertentangan dengan cara di mana dia dibesarkan selama ini. Ibunya yang sejauh ini telah melakukan pendekatan persuasif kepada Saira yang pada akhirnya mengantarkan ayahnya ke penjara. Dalam hal ini, Rizwana kemungkinan besar, dia menyadari kebodohan meningkatkan oposisi terhadap anggota laki-laki dari klan.

Nazir, ayah dan protagonis, memberikan kinerja yang sangat baik dimana suara halus dan berkelakuan baik dan efektif menyembunyikan kebrutalan bawaan. Dia menulis puisi, mengagumi kelahiran putrinya tetapi bait fasih hanya menekankan kebutuhannya untuk berpegang pada Saira. Saira sebagai putri terlihat jauh lebih tua dari usianya digambarkan tetapi spontanitas dia membuat untuk itu. Riyaaz sebagai saudara yang lebih tua selalu merasa bisa menilai, meskipun ia baru saja tiba dari India dia berbahasa Inggris dan Hindi dengan aksen sebuah 'Brit'. Sangat menggelegar ke telinga.

Kelemahan serius dalam film ini adalah script. Perlu kasabaran untuk menyimpulkan kesannya, film ini tampil sebagai disertasi tentang pembunuhan demi kehormatan. Juga, pengacara adalah para profesional yang bergerak untuk membela pihak yang bersalah, kita tidak mengambil sebuah kasus dan kemudian mendapatkan moralistik tentang maksud klien.

Meskipun keterbatasan ini, Land Gold Women adalah film yang dibuat dengan niat mulia dan keberanian untuk mengekspos orang-orang yang memutarbalikkan agama dalam rangka untuk memenuhi moralitas kecil mereka. Sang Sutradara berharap untuk menunjukkan sesuatu yang Anda tidak menyadari begitu biasa bahkan hari ini. Dan untuk alasan itu saja, silahkan anda simak sendiri film ini.

DOWNLOAD:

LandGoldWomen01.avi
LandGoldWomen02.avi

LandGoldWomen01.avi
LandGoldWomen02.avi

LandGoldWomen01.avi
LandGoldWomen02.avi

LandGoldWomen01.avi
LandGoldWomen02.avi

KETIKA EVOLUSI MENJADI REVOLUSI (Review & Download Rise The Planet Of The Apes)



Anda mungkin tahu Film Planet Of The Apes - nya Mark Wahlberg (2001), ya, udah sering ditayangin kok di televisi. Dan anda pasti bertanya-tanya kenapa kera-kera itu bisa menguasai bumi? Ya, di film ini menjelaskan asal muasal semuanya terjadi. 

Diawali tentang percobaan untuk menemukan obat bagi penyakit Alzheimer dan percobaan tersebut memunculkan anomali. Sesimpel itu sebenarnya jalan ceritanya. Tokoh utama, si peneliti Will Rodman mempunyai alasan yang bersifat personal terhadap penelitian ini, yaitu karena ayah yang sangat disayangi menderita Alzheimer. Karena itulah, ketika asistennya, Robert Franklin meminta Rodman untuk membawa si bayi simpanse pulang supaya tidak dibunuh/dimatikan, ia sempat merasa keberatan. Karena concern-nya sedari awal adalah ayahnya, bukan kesejahteraan binatang-binatang percobaan tersebut. Dan disinilah
langsung tergambar kerakusan dunia korporasi yang diwakili CEO Gen Sys, Steve Jacobs, versus kesejahteraan lingkungan yang diwakili simpanse-simpanse binatang percobaan mereka.

Ketika si bayi simpanse –Caesar– tumbuh makin besar, afeksi Rodman terhadap Caesar juga makin besar. Selain itu ia melihat bahwa si Caesar ini mempunyai keanehan yang patut diteliti, karena diyakini membawa kabar baik untuk perkembangan penemuan obat Alzheimer. Caesar ini mempunyai kecerdasan yang sangat mengagumkan. Konflik semakin tajam ketika Caesar yang remaja, terpaksa menyerang tetangga mereka. Caesar, berdasar putusan pengadilan, dianggap membahayakan lingkungan sekitarnya, dan tak seharusnya binatang liar seperti simpanse ada di lingkungan pemukiman. Caesar harus direhabilitasi di pusat penampungan satwa liar.

Caesar yang awalnya belum terbiasa oleh lingkungan rehabilitas yang dihuni para kera seperti simpanse, gorila, dan orang utan merasa homesick dan selalu mengharapkan bisa kembali ke rumah. Kerasnya benturan yang dia rasakan tidak sama dengan yang dia dapatkan dirumah sebelumnya. Caesar yang cerdas sempat kecewa kepada Will, karena tidak kunjung melepaskannya dari Rehabilitasi itu. Namun karena kecerdasannya,  Caesar selama masa rehabilitasi di penampungan primata, belajar banyak hal yang tak dia dapatkan di rumahnya. Caesar yang sangat cerdas, mengamati lingkungan dia berada. Interaksi antar primata, hierarki sosial antar kera, hierarki sosial kera-manusia, norma yang berlaku, hingga threatening act yang ditunjukkan Dodge, si penjaga. Yup Caesar bahkan mempelajari aspek psikologis Dodge. Bahkan dari penampungan tersebut dia belajar situasi sosial yang menumbuhkan kepekaannya. Caesar berfikir seperti layaknya seorang Revolusioner. Dia belajar serta menganalisa, apa yang harus dilakukan pada situasi tersebut, apa solusinya. Yup, Caesar menjadi pemimpin yang betul-betul pemimpin, tak sekedar pimpinan. Bagaimana Caesar bisa mempersatukan semua spesies kera untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Mengorganisir dan mengkoordinasi pasukan dengan baik,  dan ini kemudian di follow up menjadi sebuah gerakkan Pemberontakan Primata menuntut kebebasan dan perlakuan yang layak, bahkan cenderung menuntut Persamaan Hak (mungkin).

Ada satu hal lagi yang menarik untuk digarisbawahi. Caesar dari bayi dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Rodman dan ayahnya mengasuh (juga mendidik?) Caesar penuh cinta. Caesar belajar tentang cinta dan kasih sayang dari pengasuhan ini, dari ‘keluarga’nya. Hal ini yang membedakan Caesar dengan kera-kera lain ketika menghadapi musuh mereka. Being human (?). Well, statemen ini memang bisa memancing diskusi sih, apakah kasih sayang dan cinta kasih –yang diterjemahkan dalam film ini menjadi tindakan forgiveness– hanya milik manusia? Ya, saya pribadi kalo dipikir-pikir, bisa jadi tinkah kera LEBIH MANUSIAWI dari kita, atau memang mungkin KITA AKAN MENJADI SPECIES PRIMATA YANG PALING BUAS??? Auh ah ... Tonton aja deh ... hhe (dj)

Download 1 GB 9 Part:

Subtitle (Indonesia):

FASISME, ANCAMAN BAGI KEHIDUPAN UMAT MANUSIA


Tulisan berikut merupakan ulasan atas buku yang ditulis oleh Wilson yang berjudul “Orang dan Partai Nazi di Indonesia” yang dimuat di KOMPAS.COM. Pengaruh fasisme Jerman yang dikenal dengan Nazisme ini masuk lewat pengaruh Belanda di Indonesia lewat partai fasis yang pada awalnya didirikan oleh orang-orang Belanda di tanah Hindia-Belanda (nama Indonesia pada zaman Belanda dulunya).

Ideologi fasis Jerman ini kemudian mendapatkan lahan yang subur pada masyarakat Jawa yang terbiasa dengan budaya raja-raja seperti Dr. Notonindito seorang anggota PNI zaman dulu dan pemimpin Parindra, Woerjaningrat Soekardjo Wirjopranoto. Sebagaimana para pemimpin fasis Eropa seperti Hitler dan Mussolini yang memuja-muja kekaisaran Romawi sebagai teladan, kaum fasis Jawa di Indonesia mengelu-ngelukan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Nusantara terutama kerajaan-kerjaan Jawa yang utamanya adalah kerajaan Majapahit. Gagasan fasisme Jawa ini kemudian dikembangkan oleh Sukarno, penguasa fasis pertama di Republik Indonesia, yang juga menggunakan “keagungan” dan lambang-lambang kerajaan Majapahit, sebagai dasar daripada kekuasaannya di tanah Indonesia. Sukarno sendiri menjadi penguasa di Indonesia utamanya lewat dukungan kaum fasis Jepang. Sampai kinipun, masih banyak orang Jawa yang berkecenderungan fasis yang masih menggunakan kerajaan Majapahit sebagai pengesahan daripada usaha mereka untuk meraih kekuasaan.

==================================================================

Mendengar kata fasisme, biasanya pikiran kita menerawang ke masa lalu di negeri orang. Sejarah fasisme seolah-olah milik bangsa Jerman, Spanyol, Italia dan Jepang. Padahal, di negeri ini pernah punya partai fasis. Bahkan sekarang karakter fasisme masa lalu masih ada yang mewarisi.

Namun melalui buku ini, Wilson, alumni Fakultas Sejarah Universitas Indonesia yang membuka mata kita untuk mengenal masa lalu fasisme di negeri ini.

Munculnya politik fasisme di negeri ini dimulai sejak kemenangan Partai Nazi Jerman yang memenangkan Pemilu 1933. Kemenangan ini menurut Wilson menjadi pegangan politik baru bagi kaum Indo di negeri Jajahan Hindia-Belanda.

Telah menjadi wacana umum, bahwa sejarah fasisme berakar dari krisis ekonomi dan politik berkepanjangan yang menimpa suatu bangsa. Fasisme memiliki dasar filosofi fascio (Italia), fascis (Latin), yang berarti seikat tangkai kayu.

Di tengah kayu ini terdapat kapak pada zaman Kekaisaran Romawi. Fascis ini merupakan simbol dari kekuasaan. Dengan kata lain, kekuasaan politik fasis adalah diktator; ekonomi, politik, sosial, seni, budaya, hingga agama semuanya harus berjalan sesuai dengan selera penguasa.

Dari sisi “psikologi-politik”, Wilson melihat, menjelang Perang Dunia II Hindia-Belanda terdapat suatu kondisi di mana stratifikasi rasialnya menyediakan bibit-bibit subur bagi fasisme. Sebagian kaum Indo memandang ide-ide fasisme merupakan suatu harapan untuk tetap menjaga kepentingan ekonomi mereka dalam arus perubahan politik dunia. (hlm 102).

Pada tahun ini juga muncul partai fasis di Hindia-Belanda, yakni Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie (NIFO), Facisten Unie (FU). Pengaruh fasisme yang begitu kuat di masa krisis saat itu juga menghipnotis kalangan bumi putera. Bulan Juli 1933, Partai Fasis Indonesia (PFI) berdiri.

Dr. Notonindito, bekas anggota PNI Lama asal Pekalongan adalah tokoh teras pendiri partai fasis ini. Ide dasar pendirian PFI ini memang agak unik karena tidak didasarkan kepentingan ideologi, melainkan oleh cita-cita pembangunan kembali kerajaan-kerajaan Jawa seperti Majapahit dan Mataram, Sriwijaya di Sumatera, dan kerajaan-kerajaan di Kalimantan.

Gema fasisme yang melanda dunia menuai respon beragam dari kalangan pergerakan di Indonesia. Kelompok PNI Baru, PKI dan Partindo adalah kelompok yang menentang gigih fasisme. Alasan dasarnya karena fasisme adalah benteng terakhir dari kapitalisme untuk mempertahankan diri dari krisis ekonomi dan politik (Hlm 178).

Sedangkan di luar kedua kelompok ini, Wilson menilai kaum pergerakan “kebingungan” dalam merespon fasisme. Kelompok PSII dan Parindra misalnya, karena percaya ramalan politik Jayabaya menganggap fasisme Jepang sebagai “saudara tua” yang akan membebaskan bumiputera dari belenggu kolonialisme Belanda.

Istilah “Indonesia Raya” dan “Indonesia Mulia” yang getol dikampanyekan oleh Parindra misalnya, mengingatkan kita pada ide “Jerman Raya” milik kaum Nazi Jerman yang mengakibatkan pembantaian jutaan orang Yahudi. (Hlm 179). Bahkan Agus Salim melihat potensi fasisme sebagai solusi mengusir kolonial.

Fasisme lama tinggal catatan sejarah. Terbukti tidak organisasi atau negara yang menganut fasisme lagi. Namun, sebagaimana kekhawatiran Mansour Fakih (Alm) delapan tahun silam, krisis gawat yang terus melanda negeri ini tidak mustahil menjadi bibit-bibit persemaian fasisme. Hal ini bisa dibuktikan oleh fakta berbagai organisasi yang gemar mobilisasi massa, arak-arakan, dan gemar melakukan tindak kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.

Rekaman sejarah yang ditulis secara objektif dengan penafsiran yang cerdas ternyata mampu menjadikan masa lalu nampak dekat dengan kenyataan masa kini.

Buku ini juga mengisyaratkan kepada kita, bahwa fasisme yang mengancam kehidupan umat manusia itu tidak selalu berupa partai atau gerakan militer, melainkan juga dalam hal cara berpikir, mengambil sikap, berorganisasi, bahkan dalam hal berdakwah.



Diambil dari: Vara Jambak
Judul Aseli: Kisah Fasisme Hindia-Belanda
Ditulis Oleh: Faiz Manshur
Tanggal Posting: 24 Desember 2009
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...