Tampilkan postingan dengan label E-BOOK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-BOOK. Tampilkan semua postingan

Neo Liberalisme Mencengkram Indonesia

Buku ini mengulas tentang kebijakan-kebijakan ekonomi dua pemerintahan terakhir, Megawati Soekarno Putri dan SBY yang sangat pro pasar. Ditulis oleh aktivis yang banyak terlibat dalam riset kebijakan ekonomi.

Ulasannya mengenai kondisi makro ekonomi; PDB, pertumbuhan ekonomi, pengangguran, ketenaga kerjaan, moneter dan keuangan, neraca pembayaran cukup kritis. Ia memotret indikator-indikator itu, menggunakan data statistik pemerintah untuk mengkritisinya dengan telanjang.

Tidak selesai disitu, buku ini juga mengupas mengenai negosiasi dan kontrak-kontrak karya yang sangat merugikan kepentingan nasional. Kondisi kemiskinan yang semakin menggenaskan. Juga menguliti tentang manifestasi tangan-tangan neoliberal di Indonesia dalam bekerja misalnya; liberalisasi keuangan lewat kurs bebas, devisa bebas, dan pengembangan BEJ; liberalisasi perdagangan, ratifikasi keputusan WTO-Washintong Konsensus; pengetatan prioritas APBN, pencabutan subsidi, dll; privatisasi BUMN; penjualan korporasi domestik kepada modal internasional; Haki; harga pasar bagi energi; mekanisme harga pasar bagi tenaga kerja; Bank indonesia mengikuti bassel.

Download

Ebook ini berformat PDF, pastikan komputer kamu sudah terinstall PDF Reader seperti Adobe Reader, Foxid Reader, dll. Jika belum terinstall kamu bisa download Foxit Reader melalui cnet.

Sumber Buku : EkstraGratis.Com

DOWNLOAD e-Zine ANTIFARA POSTER edisi 1 Januari 2012 [pdf]


ANTIFARA atau Anti-Fasis Nusantara adalah jaringan Anti-Fasis yang berawal dari menggeliatnya kawan kawan di arena dunia maya yang berusaha menghalau beberapa pengguna dunia maya yang membawa faham NAZI. Berangkat dari sebuah alasan yang sama kemudian kami membentuk sebuah forum di bulan bulan akhir 2011, tepatnya bulan Oktober. Dengan inisiatif penuh terbentuklah fan Page di Facebook dan sekaligus Forum (Group)-nya yang berisi dari beberapa kawan yang berasal dari beberapa kota seperti: Lokhseumawe, Banda Aceh, Medan, Palembang, Padang, dan Bandar Lampung, Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi, Bogor, Sukabumi, Cipanas, Bandung, Semarang, Kudus, Yogyakarta, Blora, Malang, Surabaya, Tarakan, dan Palopo. Dan dari forum ini kami belajar bersama, membicarakan dan mendiskusikan suatu kasus/hal/artikel yg kemudian dilempar ke Fan Page dan Blog kami.

Dan salah satu hasilnya adalah peluncuran beberapa poster di fan page dan akhirnya kami rangkum disini. edisi zine poster pertama ini adalah rilisan zine perdana kami. Yang kami maksudkan sebagai media agar bisa di follow up oleh kawan-kawan yang mengunduh dengan menempelkannya ditempat tempat yang strategis atau tempat / institusi yang anda gak suka seperti POS POLISI atau KANTOR PEMERINTAHAN atau POSKO-POSKO ORMAS FASIS.

Ya, mari kita melakukan Soft/Shock Terror ke pada masyarakat. Katakan pada Dunia bahwa kami ada untuk MEMBANGKANG! Dan PEMBANGKANGAN INI BUKAN TANPA ALASAN ... TERROR INI BUKAN TERROR YANG MEMBUNUH, TERROR INI ADALAH TERROR YANG MEMBERIKAN PENCERAHAN KEPADA MASYARAKAT BAHWA KITA BERADA DALAM SEBUAH SISTEM KORUP YANG MEMBUNUH HASRAT HIDUP (Ini lebih bahaya! Manusia akan seperti Zombie dibuatnya) ...

SELAMAT BERAKSI KAWAN!!
SELAMAT MENGANCURKAN SISTEM KORUP!!
DAN PANJANG UMUR PARA PEMBANGKANG!!


Download ANTIFARA ZINE POSTER [pdf]

FASISME, ANCAMAN BAGI KEHIDUPAN UMAT MANUSIA


Tulisan berikut merupakan ulasan atas buku yang ditulis oleh Wilson yang berjudul “Orang dan Partai Nazi di Indonesia” yang dimuat di KOMPAS.COM. Pengaruh fasisme Jerman yang dikenal dengan Nazisme ini masuk lewat pengaruh Belanda di Indonesia lewat partai fasis yang pada awalnya didirikan oleh orang-orang Belanda di tanah Hindia-Belanda (nama Indonesia pada zaman Belanda dulunya).

Ideologi fasis Jerman ini kemudian mendapatkan lahan yang subur pada masyarakat Jawa yang terbiasa dengan budaya raja-raja seperti Dr. Notonindito seorang anggota PNI zaman dulu dan pemimpin Parindra, Woerjaningrat Soekardjo Wirjopranoto. Sebagaimana para pemimpin fasis Eropa seperti Hitler dan Mussolini yang memuja-muja kekaisaran Romawi sebagai teladan, kaum fasis Jawa di Indonesia mengelu-ngelukan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Nusantara terutama kerajaan-kerjaan Jawa yang utamanya adalah kerajaan Majapahit. Gagasan fasisme Jawa ini kemudian dikembangkan oleh Sukarno, penguasa fasis pertama di Republik Indonesia, yang juga menggunakan “keagungan” dan lambang-lambang kerajaan Majapahit, sebagai dasar daripada kekuasaannya di tanah Indonesia. Sukarno sendiri menjadi penguasa di Indonesia utamanya lewat dukungan kaum fasis Jepang. Sampai kinipun, masih banyak orang Jawa yang berkecenderungan fasis yang masih menggunakan kerajaan Majapahit sebagai pengesahan daripada usaha mereka untuk meraih kekuasaan.

==================================================================

Mendengar kata fasisme, biasanya pikiran kita menerawang ke masa lalu di negeri orang. Sejarah fasisme seolah-olah milik bangsa Jerman, Spanyol, Italia dan Jepang. Padahal, di negeri ini pernah punya partai fasis. Bahkan sekarang karakter fasisme masa lalu masih ada yang mewarisi.

Namun melalui buku ini, Wilson, alumni Fakultas Sejarah Universitas Indonesia yang membuka mata kita untuk mengenal masa lalu fasisme di negeri ini.

Munculnya politik fasisme di negeri ini dimulai sejak kemenangan Partai Nazi Jerman yang memenangkan Pemilu 1933. Kemenangan ini menurut Wilson menjadi pegangan politik baru bagi kaum Indo di negeri Jajahan Hindia-Belanda.

Telah menjadi wacana umum, bahwa sejarah fasisme berakar dari krisis ekonomi dan politik berkepanjangan yang menimpa suatu bangsa. Fasisme memiliki dasar filosofi fascio (Italia), fascis (Latin), yang berarti seikat tangkai kayu.

Di tengah kayu ini terdapat kapak pada zaman Kekaisaran Romawi. Fascis ini merupakan simbol dari kekuasaan. Dengan kata lain, kekuasaan politik fasis adalah diktator; ekonomi, politik, sosial, seni, budaya, hingga agama semuanya harus berjalan sesuai dengan selera penguasa.

Dari sisi “psikologi-politik”, Wilson melihat, menjelang Perang Dunia II Hindia-Belanda terdapat suatu kondisi di mana stratifikasi rasialnya menyediakan bibit-bibit subur bagi fasisme. Sebagian kaum Indo memandang ide-ide fasisme merupakan suatu harapan untuk tetap menjaga kepentingan ekonomi mereka dalam arus perubahan politik dunia. (hlm 102).

Pada tahun ini juga muncul partai fasis di Hindia-Belanda, yakni Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie (NIFO), Facisten Unie (FU). Pengaruh fasisme yang begitu kuat di masa krisis saat itu juga menghipnotis kalangan bumi putera. Bulan Juli 1933, Partai Fasis Indonesia (PFI) berdiri.

Dr. Notonindito, bekas anggota PNI Lama asal Pekalongan adalah tokoh teras pendiri partai fasis ini. Ide dasar pendirian PFI ini memang agak unik karena tidak didasarkan kepentingan ideologi, melainkan oleh cita-cita pembangunan kembali kerajaan-kerajaan Jawa seperti Majapahit dan Mataram, Sriwijaya di Sumatera, dan kerajaan-kerajaan di Kalimantan.

Gema fasisme yang melanda dunia menuai respon beragam dari kalangan pergerakan di Indonesia. Kelompok PNI Baru, PKI dan Partindo adalah kelompok yang menentang gigih fasisme. Alasan dasarnya karena fasisme adalah benteng terakhir dari kapitalisme untuk mempertahankan diri dari krisis ekonomi dan politik (Hlm 178).

Sedangkan di luar kedua kelompok ini, Wilson menilai kaum pergerakan “kebingungan” dalam merespon fasisme. Kelompok PSII dan Parindra misalnya, karena percaya ramalan politik Jayabaya menganggap fasisme Jepang sebagai “saudara tua” yang akan membebaskan bumiputera dari belenggu kolonialisme Belanda.

Istilah “Indonesia Raya” dan “Indonesia Mulia” yang getol dikampanyekan oleh Parindra misalnya, mengingatkan kita pada ide “Jerman Raya” milik kaum Nazi Jerman yang mengakibatkan pembantaian jutaan orang Yahudi. (Hlm 179). Bahkan Agus Salim melihat potensi fasisme sebagai solusi mengusir kolonial.

Fasisme lama tinggal catatan sejarah. Terbukti tidak organisasi atau negara yang menganut fasisme lagi. Namun, sebagaimana kekhawatiran Mansour Fakih (Alm) delapan tahun silam, krisis gawat yang terus melanda negeri ini tidak mustahil menjadi bibit-bibit persemaian fasisme. Hal ini bisa dibuktikan oleh fakta berbagai organisasi yang gemar mobilisasi massa, arak-arakan, dan gemar melakukan tindak kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.

Rekaman sejarah yang ditulis secara objektif dengan penafsiran yang cerdas ternyata mampu menjadikan masa lalu nampak dekat dengan kenyataan masa kini.

Buku ini juga mengisyaratkan kepada kita, bahwa fasisme yang mengancam kehidupan umat manusia itu tidak selalu berupa partai atau gerakan militer, melainkan juga dalam hal cara berpikir, mengambil sikap, berorganisasi, bahkan dalam hal berdakwah.



Diambil dari: Vara Jambak
Judul Aseli: Kisah Fasisme Hindia-Belanda
Ditulis Oleh: Faiz Manshur
Tanggal Posting: 24 Desember 2009

FASISME: Ideologi berdarah Darwinisme (Download e-book gratis)

Fasisme dikenal sebagai ideologi yang lahir dan berkembang subur pada abad ke-20. Ia menyebar dengan pesat di seluruh dunia pada permulaan Perang Dunia I, dengan berkuasanya rezim fasis di Jerman dan Italia pada khususnya, tetapi juga di negara-negara seperti Yunani, Spanyol, dan Jepang, di mana rakyat sangat menderita oleh cara-cara pemerintah yang penuh kekerasan. Berhadapan dengan tekanan dan kekerasan ini, mereka hanya dapat gemetar ketakutan. Diktator fasis dan pemerintahannya yang memimpin sistem semacam itu—di mana kekuatan yang brutal, agresi, pertumpahan darah, dan kekerasan menjadi hukum—mengirimkan gelombang teror ke seluruh rakyat melalui polisi rahasia dan milisi fasis mereka, yang melumpuhkan rakyat dengan rasa takut. Lebih jauh lagi, pemerintahan fasis diterapkan dalam hampir semua tingkatan kemasyarakatan, dari pendidikan hingga budaya, agama hingga seni, struktur pemerintah hingga sistem militer, dan dari organisasi politik hingga kehidupan pribadi rakyatnya. Pada akhirnya, Perang Dunia II, yang dimulai oleh kaum fasis, merupakan salah satu malapetaka terbesar dalam sejarah umat manusia, yang merenggut nyawa 55 juta orang. Namun, ideologi fasisme tidak hanya ada dalam buku-buku sejarah. Meski saat ini tidak ada satu negara pun yang menyebut diri sebagai fasis atau secara terbuka mempraktikkan fasisme, di berbagai negara di dunia terdapat banyak pemerintahan, kelompok dan partai politik yang mengikuti pola-pola fasistik. Walaupun nama dan taktiknya telah berubah, mereka masih terus menimpakan kesengsaraan serupa pada rakyat. Berkemungkinan pula, kemerosotan kondisi sosial dapat membuat dukungan terhadap fasisme makin berkembang. Karenanya, fasisme terus-menerus menjadi ancaman bagi kemanusiaan.

Ebook ini ditulis untuk menghadapi bahaya yang terus membayangi tersebut. Selain menyingkap berbagai kecenderungan fasistik yang muncul dalam aneka bentuk dan metode, buku ini juga dimaksudkan untuk mengungkap akar dan sasaran mereka yang sesungguhnya. Tujuan lainnya adalah untuk menyingkap kedok “agamis” yang terkadang digunakan fasisme dan mengungkap keberadaannya sebagai sebuah sistem yang sama sekali bertolak belakang dengan agama sejati. ditulis oleh Harun Yahya, www.harunyahya.com/indo, jika anda kepingin mendownload langsung ebooknya, silahkan klik DOWNLOAD EBOOKNYA.

IMORALITAS NEGARA [pdf download]

Mikhail Bakunin
"Setiap negara, apakah negara itu mempunyai karakter federasi atau non federasi, mempunyai keharusan untuk melahap negara lain, supaya ia tidak dilahap, memperbudak supaya tidak diperbudak dan menguasai supaya tidak dikuasai. Pada hakikatnya, setiap negara itu mempunyai karakter bertentangan dengan nilainilai kemanusiaan. Negara menghancurkan solidaritas diantara manusia dan mempersatukan sebagian manusia hanya untuk menghancurkan, menguasai dan memperbudak sebagian lain manusia. Sebuah negara hanya melindungi warga negaranya, karena negara itu tidak mengakui hak-hak orang lain diluar batas kekuasannya: dan secara prinsipil, negara ini akan memperlakukan orang asing dengan semena-mena. Kalau negara itu memperlakukan orang asing tersebut dengan manusiawi, itu bukan karena kewajibannya: karena negara itu tidak mempunyai kewajiban kepada siapa pun, tetapi kepada dirinya sendiri dan warga negaranya, yang telah membentuknya."


Selanjutnya Bisa didownload Pdf: IMORALITAS NEGARA

PATRIOTISME : ANCAMAN BAGI KEBEBASAN [pdf]

Emma Goldman
Apakah patriotisme itu? Apakah cinta dengan tempat lahir seseorang, tempat seseorang mengenang masa kecil, mimpi dan aspirasinya? Dengan sebuah tempat, dimana kita dengan jiwa kekanak-kanakan memandang awan yang bergerak dan bertanya mengapa kita tak dapat begerak secepat awan itu? Dengan tempat dimana kita melihat bintang-bintang betebaran di langit ? Dengan tempat dimana kita mendengar kicauan burung dan berangan-angan ingin bisa terbang seperti burung ke tempat nun jauh? Atau, apakah cinta dengan tempat kita dipangku ibu mendengar dongeng-dongengnya ? Singkatnya, apakah patriotisme itu adalah cinta dengan setiap jengkal tempat dimana kita dibesarkan dan bermain, dimana kita dapat mengenang masa kecil yang penuh dengan kegembiraan?

Kalau itu adalah patriotisme, hanya sedikit orang Amerika yang bisa menjadi patriotik, karena tempat bermainnya sudah dibangun menjadi pabrik-pabrik dan dengungan mesin telah menggantikan musik (kicauan) burung.

Kalau begitu, apakah patriotisme itu? Leo Tolstoy, anti patriotisme terbesar zaman ini, mendefinisikan patriotisme sebagai suatu prinsip yang membenarkan pelatihan pembunuh; suatu usaha yang memerlukan peralatan yang lebih canggih untuk membunuh manusia daripada untuk membuat keperluan manusia, misalnya, sepatu, pakaian dan rumah; usaha yang dapat membawa kebesaran dan sukses, lebih daripada usaha-usaha lain.

Gustava Herve, juga seorang anti patriot yang besar, mengartikan patriotisme dengan tepat. Menurutnya, patriotisme adalah takhyul yang lebih bahaya dan brutal daripada agama. Takhyul agama berasal dari ketidak mampuan manusia untuk menjelaskan fenomena alami. Misalnya, ketika seorang manusia primitif mendengar geledek dan melihat kilat, dia tidak dapat menjelaskan kejadian itu dan menganggap bahwa ada kekuatan yang lebih besar darinya. Dia juga akan menganggap semua fenomena lain, seperti hujan sebagai fenomena gaib. Lain dengan patriotisme yang merupakan takhyul yang diciptakan dan dipertahankan secara artifisial, melalui jaringan penipuan dan kebohongan; tahkyul yang merebut kehormatan seseorang dan membuatnya sombong.

Memang, egoisme dan kesombongan adalah sifat-sifat yang harus dimiliki seorang patriot. Saya akan coba menjelaskan pernyataan di atas. Paham patriotisme menganggap bahwa dunia ini terpecah menjadi bagian -begian kecil, setiap bagian dikelilingi pintu besi. Mereka yang beruntung (kebetulan) lahir dalam sebuah bagian tersebut, akan menganggap diri mereka lebih tinggi derajatnya, lebih pandai dan lebih segala-galanya (dibandingkan dengan manusia di luar pintu besinya). Jadi merupakan tugas bagi setiap orang yang lahir di bagian yang ’terpilih’ itu untuk berperang, membunuh dan mati untuk membuktikan "kebenaran dan kelebihannya" kepada orang lain di luar pintu besinya.

Selanjutnya anda bisa download pdf-nya: PATRIOTISME : ANCAMAN BAGI KEBEBASAN

MASYARAKAT KONSUMEN SEBAGAI CIPTAAN KAPITALISME GLOBAL


Kapitalisme global, yang lahir dari proses globalisasi, menciptakan budaya konsumsi dan masyarakat konsumen —yang eksistensinya dilihat hanya dengan pembedaan komoditi yang dikonsumsi, dengan terus menerus mengkonsumsi berbagai tanda dan status sosial di balik komoditi. Kapitalisme global dalam dirinya sendiri mempunyai daya kemajuan yang bisa mempermudah dan membantu manusia dalam menjalankan aktivitas hidupnya. Namun kemajuan yang sama bisa membawa dunia dalam perubahan yang semakin sulit untuk dikendalikan oleh manusia. Semangat kemajuan yang melekat dalam diri kapitalisme global mempunyai kecenderungan untuk membawa dunia dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan ketimpangan dan hegemoni. Tulisan ini ingin menelusuri fenomena kapitalisme global ini, mulai dari hal-hal positif yang dihasilkannya sampai pada dampak-dampaknya bagi perubahan kehidupan manusia sebagai masyarakat konsumen.

Disusun oleh: Selu Margaretha Kushendrawati, download Pdf-nya: MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 10, NO. 2, DESEMBER 2006: 49-57

Anarchy: A Graphic Guide (Bahasa Indonesia)

"Seperti halnya ide-ide cemerlang, anarki terasa cukup mudah ketika kamu benar-benar menjalaninya—manusia berada dalam kondisi terbaiknya ketika mereka hidup bebas dari otoritas, memikirkan dan memutuskan sesuatu secara bersama-sama dibanding menerima perintah. Itulah maksud dari kalimat—Tanpa Pemerintahan. Seringkali kebanyakan dari kita sudah bersentuhan dengan hal semacam ini (meski ada beberapa golongan orang yang memang menikmati diperintah), namun kita juga mengerti, biasanya kita merasa sulit melakukan sesuatu untuk diri sendiri—ketika kamu mencobanya kamu pasti akan melanggar aturan ataupun menentang beberapa regulasi serta hal yang lainnya.

Namun, sepanjang sejarah manusia banyak orang-orang yang benar benar dapat melakukannya. Untuk hidup dengan bebas. Terkadang mereka melakukannya sendiri, terkadang dalam sebuah kelompok yang kecil, adakalanya juga mereka melakukannya di dalam gerakan popular yang dashyat.

Itulah apa maksud dari Anarki—sebuah panduan grafis yang sebenarnya. Buku ini merupakan sebuah catatan dari beberapa orang tersebut dan orangorang yang ingin membangun sebuah dunia baru dan menghidupi kehidupan yang bebas dari belenggu otoritas. Dan ingat—kamu bukannya sedang memegang sebuah buku sejarah di dalam genggamanmu, karena Anarki adalah mengenai orang-orang biasa, seperti kamu dan aku. Apa yang dijelaskannya sedang menuju ke suatu tempat sekarang, mungkin lebih dekat dari apa yang kamu bayangkan." - Clifford Harper

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...