Tampilkan postingan dengan label BACAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BACAAN. Tampilkan semua postingan

5 Trik Cara Mall/Swalayan "Memaksa" Kita Untuk Belanja

Pernah gak waktu kamu mau pergi ke mall atau ke pasar swalayan atau mall yang rencananya hanya membeli yang telah kamu tilis atau inginkan ternyata sampai disana kamu belanja dari apa yang kamu rencanakan diawal, atau bahkan saat mau ke mall yang rencananya cuman pengen jalan2 ternyata akhirnya belanja? ternyata pengelola mall atau pasar swalayan memiliki trik khusus untuk pengunjung agar membelanjakan uang mereka lebih dari yang direncanakan, apakah itu simak fakta-fakta dibawah ini. 

1. Memajang snack dan permen di samping kasir
Ini trik tercerdik. Para pengelola memasang snack dan makanan kecil di samping kasir setinggi mata anak balita. Balita yang ikut mengantri dengan orangtua tentu akan sangat tergoda dan meminta kepada orangtuanya untuk dibelikan snack tersebut. 

2. Tidak semua kasir aktif
Ini juga trik cerdik mereka. Dengan jumlah kasir yang sedikit akan mulai terjadi antrian, biasanya pengelola pasar swalayan mempunyai pedoman bahwa panjang antrian harus sejumlah 7-9 orang. Jumlah antrian ini akan membuat pengunjung merasa pusat perbelanjaan tersebut adalah pusat perbelanjaan yang ramai. Selain itu sambil mengantri mereka juga akan melihat-lihat etalase di samping kasir, antrian ini memperbesar kemungkinan mereka untuk membelinya. 

3. Ubin ukuran 30 x 30
Mungkin kamu sudah pernah berkunjung ke Ma**o ataupun Af**, harga mereka bersaing, pengunjungnya dulu juga banyak, tetapi mengapa mereka merugi? Jawabannya ada pada ubin mereka. Mereka menggunakan cor semen polos untuk lantai mereka. Hal ini menyebabkan para pengunjung yang berkunjung secara tidak sadar berjalan dengan cepat. Berbeda dengan pesaingnya semacam Hyper***, mereka menggunakan ubin ukuran 30×30, menurut riset inilah ukuran yang paling tepat untuk membuat para pengunjung memperlambat langkah mereka dan menengok kanan kiri, para pengunjung akan memperlambat langkah mereka karena mereka secara tidak sadar mengalami guncangan-guncangan karena roda troli mereka melewati sambungan ubin. 

4. Memperbesar budget Kamu
kamu datang dengan batasan tertentu “Hari ini saya Cuma boleh belanja Rp 300.000,00”, namun tentu saja kamu tidak mungkin hanya membawa Rp 300.000,00 kan? Bahkan pada umumnya pembeli juga membawa ATM atau kartu kredit.

Bagaimana cara memperbesar budget kamu ? Ternyata mudah.. Gunakan harga yang tidak pas seperti Rp 12.890,00. Saat kita melihat satu harga seperti ini kita akan langsung sadar bahwa sebenarnya harganya adalah Rp 13.000, rupiah. Namun dengan banyaknya barang yang kamu beli (dan seringkali untuk satu jenis tidak hanya satu), secara tidak sadar ketika menjumlahkannya kamu akan membulatkannya menjadi Rp 12.000,00. Dan jangan heran ketika kamu membayar kamu kaget karena uang kamu menjadi kurang. 

5. Merubah letak barang-barang secara berkala
kamu datang dengan daftar belanjaan… Itulah yang paling ditakuti para pengelola pasar swalayan. Tp ternyata mereka tidak kekurangan akal. Rotasi saja letak rak-rak secara berkala. Hal ini akan membuat kamu harus mencari letak barang yang kamu beli, saat kamu mencari barang yang kamu beli tentu saja kamu juga harus melewati barang-barang lain, di sinilah pikiran kamu mulai memanipulasi kamu untuk membeli barang yang tidak kamu perlukan karena terpengaruh tulisan “disc” dan “buy 1 get 1”

Well, semoga artikel ini bermanfaat setidaknya (minimal) ketika anda datang ke Mall/Swalayan sesuai dengan apa yang ingin cari atau butuhkan. Atau mungkin anda malah merasa dicurangi oleh Mall/Swalayan? Atau bahkan hal terparah adalah Anda membenci Mall/Swalayan?? Hmmm... Who Knows??  .... Semua ada ditangan anda, yang jelas apapun yang anda lihat di Mall hanya akan membuat mata dan hati anda sakit sesaat ... sakit ingin memiliki yang sebenarnya anda belom membutuhkannya ... Yang jadi pertanyaan adalah ketika anda membeli sesuatu barang, apa yang anda pentingkan? FUNGSI atau GENGSI?? :)

TOPENG PERLAWANAN SUBCOMANDANTE MARCOS

Membisu maka suara kita meluruh….

Topeng balaclava tak pernah lepas menutup seluruh wajahnya. Tak ketinggalan juga ceruta yang selalu menempel erat di mulutnya, ikut kemana pun ia pergi. Dunia pun terus bertanya-tanya, “siapa orang dibalik topeng itu?” Pertanyaan itu terus berkecamuk dan menimbulkan berbagai spekulasi hingga sekarang tentang siapa si misterius dibalik topeng itu. Tak ada jawaban pasti, hanya sekedar terkaan belaka yang sangat sulit dibuktikan kebenarannya. Orang dibalik topeng itu bisa saja berganti setiap waktu sesuai keadaan tanpa ada yang tahu. “Subcomandante Marcos hanyalah sebuah simbol bagi perlawanan masyarakat adat,” tegas orang dibalik topeng itu.

Banyak pihak memperkirakan, orang dibalik topeng itu adalah salah satu professor muda di salah satu universitas di Meksiko. Ada lagi yang mengatakan, ia adalah mantan gerilyawan marxis yang telah lama menghilang dan sekarang muncul kembali dengan wajah baru. Namun, itu hanyalah rekaan saja karena tak ada yang tahu siapa sebenarnya Subcomandante Marcos itu. orang dibalik topeng balaclava itu juga tak pernah mau membuka topengnya kepada siapa pun sehingga misterinya tetap terjaga. Apalagi, semua pasukan pemberontak (EZLN) memakai topeng yang mirip dengannya. Tanpa wajah, hanya mata saja yang terlihat karena Subcomandante Marcos sejatinya adalah simbol perlawanan. Simbol perlawanan yang apabila eksistensinya dimatikan, maka pemberontakannya akan terus hidup karena tidak bergantung pada satu orang tapi keputusan bersama (klandestine).

Subcomandante Marcos. Inilah nama yang membuat seluruh dunia tercengang pada 1 Januari 1994. Tanggal yang bertepatan dengan pemberlakuan North America Free Trade Agreement (NAFTA) di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Di Chiapas, Meksiko, Subcomandante Marcos mengumumkan adanya pemberontakan masyarakat adat dengan anam Ejercito Zapatista Liberacion Nacional (EZLN) terhadap pemerintahan. Tepat pergantian tahun, mereka menyerbu San Cristobal de Las Casas (Balaikota Chiapas) untuk melakukan pemberontakan dan mengumumkannya ke berbagai kantor berita di dunia.

Penyerbuan itu berlangsung sukses dan seluruh dunia pun langsung mengetahuinya. Tak hanya itu saja, mereka juga membuat seluruh dunia kaget karena gerakan ini tak pernah diduga akan muncul sebelumnya. Dengan status sebagai pemberontak, EZLN terus melakukan perlawanan terhadap rezim neoliberal di Meksiko. Tanpa henti, dibawah komando Subcomandante Marcos, EZLN terus melawan rezim yang hanya menginginkan penggunaan logika pasar dalam kehidupan. Anehnya, meski pemberontak, EZLN tak ingin menjadi penguasa atau mengganti ideologi negara Meksiko. Mereka memperjuangkan demokrasi, kebebasan, dan keadilan dengan dibukanya ruang publik yang bebas intervensi. ”Bendera, UUD, lagu kebangsaan, pahlawan-pahlawan nasional: hal-hal yang sering dianggap usang inilah yang memberi jiwa gerakan Zapatista,” tegas Comandante Ramona pada Februari 1994.

Bagi EZLN, pemberlakuan NAFTA merupakan hukuman mati terhadap petani kecil dan masyarakat adat. Neoliberalisme sebagai ideologi pasar merupakan ancaman bagi eksistensi masyarakat adat karena kehidupan tak hanya dinilai dari uang. Neoliberalisme menghancurkan eksistensi masyarakat adat karena mereka harus memrivatisasikan tanah adat yang sejatinya tak sekedar tempat berpijak. Didalamnya mengandung memori, harapan, dan sejarah masyarakat adat. Ini adalah sebuah kejahatan yang sungguh kejam dengan topeng keuntungan material. Selain itu, neoliberalisme juga juga akan meminggirkan kelompok minoritas karena mereka dipaksa untuk sama atau seragam dengan menghilangkan identitas yang melekat pada dirinya. “Zapatismo bukanlah suatu ideologi. Ia bukan doktrin terima jadi…karena di tiap tempat jawabnya berlainan. Zapatismo semata mengajukan tanya sambil menegaskan bahwa pluralislah jawabannya, inklusiflah jawabannya…” papar Subcomandante Marcos dalam sebuah komunikenya.

Dengan gaya khasnya, Subcomandante Marcos terus melancarkan “serangan” mematikannya ke seluruh dunia. Dunia pun dibuat marah, terkejut, dan terkagum-kagum dengan “bom” yang terus ia hujankan. Dari tempat yang tak pernah terdeteksi di pedalaman hutan belantara Chiapas, “bom” dengan denominator melebihi kekuatan nuklir itu terus ia lontarkan tanpa henti. Tak ada korban jiwa yang jatuh, hanya kuping panas rezim pro pasar dan dukungan dari seluruh penjuru dunia yang mengalir menanggapi “bom” yang ia lontarkan. Apakah senjata mematikan itu? Neil Harvey dalam tulisannya yang berjudul The Political Nature of Identities, Borders, and Orders: Discourse and Strategy in the Zapatista Rebellion mengatakan, senjata mereka adalah kata-kata.

Kata adalah Senjata

Dalam keheningan orang-orang adat ini melihat dan dilihat. Dalam keheningan mereka merasa angin dari bawah sedang bertiup. Dalam keheningan orang-orang adat ini tahu…

Banyak yang bilang, nuklir adalah senjata paling mematikan di dunia. Kekuatan dan dampaknya dapat menghancurkan dunia beserrta isinya. Namun, hal ini tak berlaku bagi para pemberontak EZLN. Senjata paling mematikan bagi mereka adalah kata-kata. Dengan kata, dunia yang ada saat ini tercipta. Segala sesuatu ada karena kata. Dengan kata, pengetahuan seseorang dapat terisi. Seperti yang diutarakan filsuf Perancis, Michael Foucault, power is knowledge. Hal ini juga ditegaskan Subcomandante Marcos, sejnta utama mereka adalah kata yang bisa mengubah dunia berserta isinya. “Kata adalah senjata,” tegasnya.

Dengan puisi dan cerpennya, gerakan Zapatista “menyerang” seluruh belahan dunia tanpa terkecuali. Cerpen karya Subcomandante Marcos tentang kisah seekor kumbang kecil yang melawan neoliberalisme berjudul Durito adalah karya monumentalnya. Bahkan, di harian La Jornada, Subcomandante Marcos bersahut-sahutan menulis cerpen bersambung dengan salah satu sastrawan Meksiko. Subcomandante Marcos juga secara rutin mengirimkan komunike EZLN ke seluruh dunia melalui saluran internet. Tulisan tentang Durito dan komunike ini mengilhami berbagai macam pemikiran tentang pentingnya ruang publik dan penghentian marjinalisasi kelompok minoritas. Secara keseluruhan, EZLN mengilhami berbagai macam gerakan anti-neoliberalisme. Salah satu bukti nyatanya adalah adanya protes dalam setiap KTT WTO, G-8 (sekarang berganti G-20), serta lainnya.

Namun, tanda tanya besar senantiasa muncul tentang gerakan kata-kata mereka. Bagaimana cerpen atau komunike itu bisa tersebar ke selutruh dunia karena belantara Chiapas tak terhubung dengan saluran komunikasi dan informasi? Bagaimana komunike itu ditulis menggunakan data-data terbaru karena mereka tinggal di tengah hutan belantara? Bagaimana cara mereka bisa berkomunikasi dengan dunia luar?? Inilah beberapa pertanyaan penting yang samapi sekarang belum bisa terjawab. Hidup di tengah hutan belantara tapi dapat terus mengakses informasi dan merespon keadaan dunia kontemporer secara detil.

Dengan kata-kata, Zapatista dan Subcomandante Marcos berusaha melawan hegemoni dunia yang berpaham neoliberalisme. Bagi Zapatista, masyarakat adat harus tetap mendapatkan hak mereka secara penuh dan tetap dihormati sebagaimana adanya. Meskipun minoritas, masyarakat adat adalah bagian dari dunia, begitupula kelompok-kelompok marjinal lainnya. Mereka harus dapat tempat semestinya tanpa harus dipinggirkan oleh kekuasaan. Keseragaman hanya akan memperburuk wajah dunia. Dunia akan tampak lebih indah dengan keragaman yang ada didalamnya. Selain itu, keberadaan negara adalah sesuatu yang penting untuk melindungi rakyatnya. Negara tak boleh jatuh ke tangan pemilik modal agar kepentingan semua pihak bisa terpenuhi. Bukan sekedar akumulasi kapital saja. Karena itu, dunia yang lain adalah mungkin…

Referensi:
  1. Fauzi, Noer et al (eds.), Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga (Yogyakarta: Resist Book, 2005)
  2. Justice, Jason, Opposing NAFTA: International Opposition to the Northa American Free Trade Agreement (Edinburg: Haymarket Press, 1996)
  3. Marcos, Subcomandante, Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan, terj. Ronny Agustinus (Yogyakarta: Resist Book, 2005)
  4. ____________________, Kata Adalah Senjata, terj. Ronny Agustinus (Yogyakarta: Resist Book, 2006)
  5. Lapid, Yosep, et. al (eds.). 2001. “Identities, Borders, and Orders: Rethinking International Relations Theory”. London: University of Minnesota
  6. Ronfeldt, David F. dan John Arquila, The Zapatista “Social Netwar” in Mexico (RAND Publication, 2001)
Ditulis oleh: Arif Setiawan
Diambil dari: JURNAL HURIA

DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PEREMPUAN

Globalisasi, kata ini sering didengung-dengungkan, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut tercantum makna hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dalam perdagangan. Tidak boleh ada lagi proteksi, ataupun monopoli.

Dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain.

Yang sering dilupakan adalah proses pengintegrasian ekonomi satu negara ke dalam ekonomi dunia, akan berimplikasi terhadap kehidupan rakyat banyak.

Logika yang selalu didengungkan oleh para penganut pasar bebas, bahwa dalam proses ini akan dicapai satu perolehan yang adil. Benarkah begitu ?

Seorang ahli ekonomi bernama Torado mengatakan, bahwa sama halnya dengan pasar bebas, perdagangan bebas lebih ada dalam teori ketimbang dalam praktek.

Dari sana kita bisa melihat negara berkembang harus berhadapan dengan bisnis internasional yang seringkali berbuah ketidakadilan, dan ini berdampak terhadap perempuan.

Teori perdagangan bebas mengabaikan adanya perbedaan yang besar dalam kemajuan teknologi, ini mengakibatkan produk-produk tenun yang biasa dikerjakan oleh para perempuan, yang biasa dihasilkan dari pewarna alami, dan kapas alami, harus bersaing dengan teknologi dari berbagai jenis mesin, pewarna kimia ( buatan ), kapas sintetik, belum lagi jika motif tradisional dari kain-kain tersebut diambil lalu dipatenkan.

Mereka para pengrajin dan penenun, dua bidang yang banyak dikerjakan perempuaan di berbagai daerah seperti di Sumba, Flores, dan lain sebagainya, tidak lagi bisa bersaing dengan teknologi.

Asumsi lain dari penganut perdagangan bebas adalah preferensi dan cita rasa konsumen dianggap tetap. Kenyataannya ? Selera konsumen sangat dipengaruhi oleh iklan, satu mata rantai yang sangat berperan dalam masuknya cita satu barang. Baik itu Coca-Cola, Mc Donald, dan lain-lain. Dapat diperkirakan lebih dari 90% dari semua iklan dibiayai oleh perusahaan asing. Dan kalau kita tanya lagi siapa target utama dari pengiklanan ini ??? Kita bisa katakan adalah perempuan. Mengapa ???

Banyak alasan, antara lain perempuan selain sebagai pekerja, merekapun berada sebagai pengatur keuangan dalam keluarga.

Iklan-iklan yang dibiayain oleh perusahaan-perusahaan asing ini, menargetkan perempuaan sebagai tujuan utamanya. Mulai dari iklan kecantikan ( kulit harus tampak putih, tubuh harus terlihat langsing ). Dan disebarkanlah berbagai mitos. Kalau ingin rambut hitam panjang harus memakai produk shampoo ini atau shampoo itu. Di daerah pedesaan, iklan pemakaian peptisida juga digembar-gemborkan. Jadilah perempuan, petani, dan anak-anak terkena dampak dari racun peptisida tersebut. Yang pada akhirnya mempengaruhi utang, para tenaga kerja wanita pun memasukan keuntungan untuk devisa negara.

Jadi perempuan menjadi target pemasukan, dengan dibukanya lintas penjualan jasa...

Pertanyaannya, adakah perlindungan diberikan ???

Ditulis oleh: A.K.A Kapitalis
Dalam sebuah postingan catatan di Facebook tertanggal 11 Januari 2012

MELAWAN KONSUMERISME DENGAN "HARI TANPA BELANJA" ATAU BUY NOTHING DAY

Buy Nothing Day logo
“Wuaduh lebaran koq lagi-lagi belanja belanja belanja, konsumsi konsumsi, beli beli beli !!!”

Hari Tanpa Belanja atau lebih dikenal “Buy Nothing day” awal mulanya dirayakan tiap tanggal 28 November atau hari sabtu setelah perayaan thanksgiving tapi kalo di sini biasanya dirayakan pada hari sabtu pekan terakhir di bulan November. Dan sekarang ide awal tentang Buy Nothing day tersebut berkembang menjadi Buy Nothing Week. Tapi aku postingin artikel ini lantaran kalo di endonesa sekaranglah moment yang menurutku cukup tepat. Moment lebaran dimana biasanya orang-orang pada suka belanja-belanja yang gak penting dan banyak mall juga gelar diskon. Dan menurutku diskon tuh semacem jebakan konsumerisme, dimana seharusnya barang tersebut nggak kalian butuhkan lantas kalian beli karena murah harganya dan diskon pastinya yaaa taulah barang-barang yang gak laku-laku [hehe, koq malah ngelantur ke diskon ???]. Oke berikut ini sedikit sejarah dan penjelasan Buy Nothing Day yang aku dapatkan dari berbagai sumber…

Apa Hari Tanpa Belanja itu?

Hari Tanpa Belanja adalah sebuah ide sederhana untuk bersikap lebih kritis pada budaya konsumen dengan jalan mengajak kita untuk tidak berbelanja selama sehari. Ini adalah suatu bentuk perlawanan terhadap budaya konsumerisme.

Dari mana Hari Tanpa Belanja berasal?

Hari Tanpa Belanja telah dimulai sejak 1993 oleh Adbuster—sebuah kolektif aktivis media yang berpusat di Kanada yang bertujuan meningkatkan kesadaran kritis konsumen (idenya berasal dari Ted Dave, pendiri Adbusters). Kini Hari Tanpa Belanja telah dirayakan secara internasional di lebih dari 30 negara.

Apa tujuannya?

Sebagai konsumen, kita seharusnya mempertanyakan produk-produk yang kita beli dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Idenya adalah untuk membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa dan seberapa banyak yang mereka beli telah berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara berkembang.

Siapa yang merayakan?
Kamu, Kalian! Ini adalah perayaan kita! Beritahu teman-teman, pasanglah poster dan jangan belanja.

Mengapa ada perbedaan tanggal perayaan?

Di Amerika Serikat dan Kanada, Hari Tanpa Belanja biasanya dirayakan sehari setelah hari perayaan Thanksgiving. Namun di Indonesia, Hari Tanpa Belanja biasa dirayakan pada hari Sabtu pada minggu terakhir bulan November dan tidak menutup kemungkinan di Indonesia di adakan beberapa hari sebelum perayaan Idul Fitri, dimana pada hari itu biasanya merupakan klimaks masyarakat Indonesia mendatangi pusat-pusat perbelanjaan didaerahnya masing-masing . Begitu juga ditempat lainnya, hari dipilih berdasarkan hari yang paling memungkinkan pada saat itu orang-orang menghabiskan waktu untuk berbelanja.

Apa yang akan saya dapatkan?

Selama 24 jam atupun seminggu Kamu akan mengambil jarak dari konsumerisme dan merasa bahwa belanja itu tidak terlalu penting. Setelah itu Kamu akan mendapatkan kembali kehidupanmu. Itu adalah sebuah perubahan besar! Kami ingin Kamu membuat komitmen untuk mengurangi belanja, lebih sering mendaur-ulang, dan mendorong para produsen untuk bersikap lebih jujur dan fair. Konsumerisme modern mungkin merupakan sebuah pilihan yang tepat, tetapi tidak seharusnya berdampak buruk bagi lingkungan atau negara-negara berkembang. Satu hal yang sangat menantang tapi akan berbuah kepuasan untuk bisa mencoba hidup tanpa belanja. Ini akan menjadi sebuah prestasi dengan reward nya yaitu diambilnya kembali waktu-waktu yang biasanya Kamu pake “shopping” dengan hal-hal yang bisa kamu gunakan untuk mengembangkan potensimu. Menulis, menggambar, main musik, korespondensi, memasak, olah raga, dll.

Apakah itu berarti saya dilarang belanja?

Percayalah, sehari tanpa belanja tak akan membuat Kamu menderita. Kami ingin mendorong agar orang-orang berpikir tentang akibat-akibat dari apa yang mereka beli bagi lingkungan dan negara-negara berkembang.

Belanja? Apa salahnya?

Sebenarnya bukan hanya belanja itu sendiri yang berbahaya, tetapi juga apa yang kita beli. Ada dua wilayah yang perlu kita perhatikan, yaitu lingkungan dan kemiskinan. Negara-negara kaya di Barat (hanya 20% dari populasi dunia) mengkonsumsi lebih dari 80% sumber alam dunia, dan menyebabkan ketakseimbangan dan kerusakan lingkungan, serta kesenjangan distribusi kesejahteraan. Kita patut cemas pada cara barang-barang kita dibuat. Juga banyaknya perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan tenaga kerja di negara-negara berkembang karena murah dan tidak ada sistem perlindungan pekerja.

Bagaimana dengan lingkungan?

Bahan-bahan baku dan cara pembuatan yang digunakan untuk membuat barang-barang kita memiliki dampak buruk seperti limbah beracun, rusaknya lingkungan, dan pemborosan energi. Pengiriman barang-barang ke seluruh dunia juga menambah tingkat polusi.

Apakah satu hari akan membuat perubahan?

Hari Tanpa Belanja tidak akan mengubah gaya hidup kita hanya dalam satu hari, ia lebih merupakan sebuah pengalaman melakukan perubahan! Kami bertujuan membuat Hari Tanpa Belanja mengendap dalam ingatan setiap orang—layaknya peringatan Lebaran, Natal, atau Tujuh Belasan—agar juga berpikir tentang diri mereka sendiri, tentang keluarga terdekatnya, keluarga, teman-teman, dan masa depan.

Pikir lagi sebelum membeli! Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini sebelum berbelanja!

  • Apakah saya benar-benar memerlukannya?
  • Berapa banyak yang sudah saya punya?
  • Seberapa sering saya akan memakainya?
  • Akan habis berapa lama?
  • Bisakah saya meminjam saja dari teman atau keluarga?
  • Bisakah saya melakukannya tanpa barang ini?
  • Akankah saya bisa membersihkan dan/atau merakitnya sendiri?
  • Akankah saya bisa memperbaikinya?
  • Apakah barang ini berkualitas baik?
  • Bagaimana dengan harga? Apakah ini barang sekali pakai?
  • Apakah barang ini ramah lingkungan?
  • Dapatkah didaur-ulang?
  • Apakah barang ini bisa diganti dengan barang lain yang sudah saya miliki?

Info lainnya tentang Hari Tanpa Belanja:

Diambil dari: HitamMerah
Judul Aseli: Buy Nothing Day [Hari Tanpa Belanja]
Posting: 19 September 2008

LAWAN FASISME BERKEDOK AGAMA!!


Melihat kehidupan toleransi keberagamaan di negeri ini yang akhir-akhir ini ramai dikejutkan oleh beberapa kasus, tentu saja tak bisa didiamkan begitu saja. Saya kira seluruh umat beragama mesti saling membantu untuk menekan kuasa represif kelompok agama fasis yang selalu bikin rusuh ini.

Ya, saya sebetulnya menghargai keberagamaan. Namun tidak untuk yang mebikin onar. Dalam sejarah islam masa Rasulullah pun, tidak ada bentuk penyampaian kebenaran yang melalui jalur kekerasan. Tidak ada. Pelbagai peperangan yang terjadi masa Rasulullah adalah murni peperangan politik semata. Bukan peperangan agama–sebagaimana yang kita dengar dari pelajaran agama mainstream. Kenapa tampak seperti perang agama, hanya karena kebetulan saja bangsa yang berperang itu memiliki mayoritas masyarakat yang berbeda secara agama.

Tuan, nona, kisana, nisanak, saudaraku, tentu berfikir, apa buktinya kalau peperangan itu bukanlah perang agama? Juga, apa buktinya kalau itu adalah pertarungan politik? Silakan duduk sebentar. Mari berefleksi.

Singkat saja jawabnya. Setelah Rasul memenangkan pertarungan, tidak ada kewajiban bagi para penduduk yang kalah untuk masuk Islam. Itulah mengapa ada kafir (sebutan bagi non muslim, waktu itu), dalam hal ini kafir dzimmi, yang hidup tenang di bawah kepemimpinan Rasul. Kalaupun masyarakat yang kalah perang itu masuk islam, itu lantaran kesadaran mereka sediri. Bukan lantaran dipaksa. Andai itu adalah perang atas nama penegakan agama, tentu saja tidak akan ada istilah kafir dzimmi.

Kalian tentu tau, kafir ini adalah orangorang yang memilih untuk tidak memeluk islam, meskipun  juga hidup dan tinggal di dalam bangsa yang dipimpin oleh Rasul. Bahkan kelompok masyarakat ini juga sangat dilindungi oleh Rasul. Hukum tetap diberlakukan bagi mereka yang menyakiti kaum ini. Misalnya saja saya hidup waktu itu, lalu saya mencuri barang perniagaan mereka, tentu saya juga dihukum. Kalau saya mencuri dalam kadar tertentu, tangan saya bisa dipotong, sebagaimana hukum yang diterapkan di Arab waktu itu.

Ini sekaligus penegas banwa peperangan itu adalah peperangan politik. Rasulullah hanya mengambil alih kekuasan politik saja. Beliau tidak mengambil alih kebenaran agama dengan memaksakan untuk memeluk agama Islam. Saya kira ini berlu kita sadari, bahwa Rasul pun mengakui dan toleran terhadap kaum yang memilih untuk tidak memeluk Islam.

Pada pengembangannya kini, kita juga perlu menginterpretasi pada konteks kekinian. Problem keagamaan kita adalah pada pemaksaan kebenaran tafsir agama yang tunggal. Inilah yang membuat pelbagai saudara islam yang lain diberangus, sebagaimana pada Ahmadiyah yang terjadi pada akhir-akhir ini. Terlebih penegakan itu menggunakan cara-cara kekerasan. Tentu saja ini kelewatan–untuk tidak menyebut ketololan. Karena bahkan Nabi pun tidak pernah melakukannya, lebih lanjut Ia melarang kekerasan. Seharusnya kasus akhir-akhir ini tidak terjadi, bukan?

Kalau saja ajaran nabi tidak dicermati dengan baik, tentu saja kehidupan beragama kita saat ini akan terasa lebih indah. Entah mengapa, saya merasa kasus kasus belakangan sudah sangat kelewatan. Saya merasa ini dorongan kemusliman saya. Bahwa saya tidak ingin agama dijadikan sebagai alat untuk menegakkan fasisme gerakan. Sekiranya kini kita semua perlu bersepakat untuk bersama-sama menyelamatkan kehidupan keberagamaan di negeri ini. Meneriakkan suara lantang yang dititipkan Tuhan kepada kita: Lawan Fasisme Berkedok Agama.

Ingat kawan, saya tidak meneriakkan perangi agama, perangi FASISME berkedok agama.

Mau Poster-poster yang terpampang dalam postingan ini yang berukuran A3?? Silahkan download:
Poster 1, Poster 2, Poster 3


















Ditulis Oleh: Rifqi Muhammad
Diambil dari: Rifqiblog
Tanggal Posting: 9 Februari 2011

FASISME, ANCAMAN BAGI KEHIDUPAN UMAT MANUSIA


Tulisan berikut merupakan ulasan atas buku yang ditulis oleh Wilson yang berjudul “Orang dan Partai Nazi di Indonesia” yang dimuat di KOMPAS.COM. Pengaruh fasisme Jerman yang dikenal dengan Nazisme ini masuk lewat pengaruh Belanda di Indonesia lewat partai fasis yang pada awalnya didirikan oleh orang-orang Belanda di tanah Hindia-Belanda (nama Indonesia pada zaman Belanda dulunya).

Ideologi fasis Jerman ini kemudian mendapatkan lahan yang subur pada masyarakat Jawa yang terbiasa dengan budaya raja-raja seperti Dr. Notonindito seorang anggota PNI zaman dulu dan pemimpin Parindra, Woerjaningrat Soekardjo Wirjopranoto. Sebagaimana para pemimpin fasis Eropa seperti Hitler dan Mussolini yang memuja-muja kekaisaran Romawi sebagai teladan, kaum fasis Jawa di Indonesia mengelu-ngelukan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Nusantara terutama kerajaan-kerjaan Jawa yang utamanya adalah kerajaan Majapahit. Gagasan fasisme Jawa ini kemudian dikembangkan oleh Sukarno, penguasa fasis pertama di Republik Indonesia, yang juga menggunakan “keagungan” dan lambang-lambang kerajaan Majapahit, sebagai dasar daripada kekuasaannya di tanah Indonesia. Sukarno sendiri menjadi penguasa di Indonesia utamanya lewat dukungan kaum fasis Jepang. Sampai kinipun, masih banyak orang Jawa yang berkecenderungan fasis yang masih menggunakan kerajaan Majapahit sebagai pengesahan daripada usaha mereka untuk meraih kekuasaan.

==================================================================

Mendengar kata fasisme, biasanya pikiran kita menerawang ke masa lalu di negeri orang. Sejarah fasisme seolah-olah milik bangsa Jerman, Spanyol, Italia dan Jepang. Padahal, di negeri ini pernah punya partai fasis. Bahkan sekarang karakter fasisme masa lalu masih ada yang mewarisi.

Namun melalui buku ini, Wilson, alumni Fakultas Sejarah Universitas Indonesia yang membuka mata kita untuk mengenal masa lalu fasisme di negeri ini.

Munculnya politik fasisme di negeri ini dimulai sejak kemenangan Partai Nazi Jerman yang memenangkan Pemilu 1933. Kemenangan ini menurut Wilson menjadi pegangan politik baru bagi kaum Indo di negeri Jajahan Hindia-Belanda.

Telah menjadi wacana umum, bahwa sejarah fasisme berakar dari krisis ekonomi dan politik berkepanjangan yang menimpa suatu bangsa. Fasisme memiliki dasar filosofi fascio (Italia), fascis (Latin), yang berarti seikat tangkai kayu.

Di tengah kayu ini terdapat kapak pada zaman Kekaisaran Romawi. Fascis ini merupakan simbol dari kekuasaan. Dengan kata lain, kekuasaan politik fasis adalah diktator; ekonomi, politik, sosial, seni, budaya, hingga agama semuanya harus berjalan sesuai dengan selera penguasa.

Dari sisi “psikologi-politik”, Wilson melihat, menjelang Perang Dunia II Hindia-Belanda terdapat suatu kondisi di mana stratifikasi rasialnya menyediakan bibit-bibit subur bagi fasisme. Sebagian kaum Indo memandang ide-ide fasisme merupakan suatu harapan untuk tetap menjaga kepentingan ekonomi mereka dalam arus perubahan politik dunia. (hlm 102).

Pada tahun ini juga muncul partai fasis di Hindia-Belanda, yakni Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie (NIFO), Facisten Unie (FU). Pengaruh fasisme yang begitu kuat di masa krisis saat itu juga menghipnotis kalangan bumi putera. Bulan Juli 1933, Partai Fasis Indonesia (PFI) berdiri.

Dr. Notonindito, bekas anggota PNI Lama asal Pekalongan adalah tokoh teras pendiri partai fasis ini. Ide dasar pendirian PFI ini memang agak unik karena tidak didasarkan kepentingan ideologi, melainkan oleh cita-cita pembangunan kembali kerajaan-kerajaan Jawa seperti Majapahit dan Mataram, Sriwijaya di Sumatera, dan kerajaan-kerajaan di Kalimantan.

Gema fasisme yang melanda dunia menuai respon beragam dari kalangan pergerakan di Indonesia. Kelompok PNI Baru, PKI dan Partindo adalah kelompok yang menentang gigih fasisme. Alasan dasarnya karena fasisme adalah benteng terakhir dari kapitalisme untuk mempertahankan diri dari krisis ekonomi dan politik (Hlm 178).

Sedangkan di luar kedua kelompok ini, Wilson menilai kaum pergerakan “kebingungan” dalam merespon fasisme. Kelompok PSII dan Parindra misalnya, karena percaya ramalan politik Jayabaya menganggap fasisme Jepang sebagai “saudara tua” yang akan membebaskan bumiputera dari belenggu kolonialisme Belanda.

Istilah “Indonesia Raya” dan “Indonesia Mulia” yang getol dikampanyekan oleh Parindra misalnya, mengingatkan kita pada ide “Jerman Raya” milik kaum Nazi Jerman yang mengakibatkan pembantaian jutaan orang Yahudi. (Hlm 179). Bahkan Agus Salim melihat potensi fasisme sebagai solusi mengusir kolonial.

Fasisme lama tinggal catatan sejarah. Terbukti tidak organisasi atau negara yang menganut fasisme lagi. Namun, sebagaimana kekhawatiran Mansour Fakih (Alm) delapan tahun silam, krisis gawat yang terus melanda negeri ini tidak mustahil menjadi bibit-bibit persemaian fasisme. Hal ini bisa dibuktikan oleh fakta berbagai organisasi yang gemar mobilisasi massa, arak-arakan, dan gemar melakukan tindak kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.

Rekaman sejarah yang ditulis secara objektif dengan penafsiran yang cerdas ternyata mampu menjadikan masa lalu nampak dekat dengan kenyataan masa kini.

Buku ini juga mengisyaratkan kepada kita, bahwa fasisme yang mengancam kehidupan umat manusia itu tidak selalu berupa partai atau gerakan militer, melainkan juga dalam hal cara berpikir, mengambil sikap, berorganisasi, bahkan dalam hal berdakwah.



Diambil dari: Vara Jambak
Judul Aseli: Kisah Fasisme Hindia-Belanda
Ditulis Oleh: Faiz Manshur
Tanggal Posting: 24 Desember 2009

DARI TWEETER SEKILAS TENTANG FASISME DI INDONESIA MASA LALU


Foto ini diambil pas pemakaman MH Thamrin.
Oke tweeps, saya mau nge-tweet ringan ttg Fasisme di Indonesia. Bukan yang terjadi sekarang — tp dimasa lalu sebelum kemerdekaan

Di Indonesia pada tahun 1933, berdiri Partai Fasis Indonesia di Bandung. Yang mendirikan namanya Dr. Notonindito – lulusan Jerman

pertanyaan : Kok tahunnya pas tahun naiknya Hitler jd Kanselir?

hanityo : emang — hal itu yang mengilhami berdirinya partai fasis indonesia

tapi paham fasisme pada waktu itu, berbeda aplikasinya dgn sekarang. Sblm kemerdekaan, paham fasisme ditujukan untuk melawan kolonialisme

Sama seperti Mussolini yang terbuai dgn kejayaan masa lalu Romawi — pendukung partai fasis di Indonesia rindu kejayaan Nusantara

Pendukung paham fasisme di Indonesia ingin mewujudkan kembali kejayaan Majapahit,Sriwijaya dan Mataram. jg berpedoman pd ramalan Jayabaya

Jadi waktu itu di Indonesia ada 2 partai dgn paham bertolak belakang. Fasis dan Komunis — tp dua2nya menentang kolonialisme. keren kan?

Di kalangan londo Belanda paham fasis juga ada dgn partai2 seperti Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie (NIFO) dan Facisten Unie (FU)

Bahkan cita2 para fasis di Hindia Belanda adalah — memisahkan diri dari Belanda Eropa, & memerdekakan diri menjadi negara Hindia Belanda

Tolong bedakan ya.. Fasis indo-Belanda dan fasis pribumi. Fasis pribumi ingin merdekaa!

Pada tahun 30-an, orang2 Jerman di Hindia Belanda serta orang Belanda pro NAZI ramai2 mendukung kebangkitan Hitler.

Tapi kondisi tahun 30-an ya harmonis — tidak pernah ada bentrokan antara pendukung fasis dan komunis.

lumrah bila di sebuah taman di Batavia — ada yang berteriak sambil berbaris Sieg Heil, sementara di sisi lain ada nyanyi Internationale

Oiya, rivalitas fasis-komunis ini juga terjadi di Lapangan Bola. Saat itu, NIVU (organisasi sepakbola saingan PSSI)jg rutin adakan kompetisi

Kompetisi sepakbola NIVU terpisah dgn kompetisi yang diadakan PSSI. Mirip dengan yang akan terjadi bila LPI berkompetisi next year

Sebagai contoh : Kiper terbaik Indonesia (Maladi) bermain di kompetisi PSSI sedangkan playmaker terbaik (Ahmad Nawir) main di liga NIVU

Kompetisi yg diadakan NIVU jauh lebih rapih — dgn revenue pertahun mencapai 15ribu gulden. PSSI waktu itu kelasnya msh amatir

Waktu itu yang mendominasi liga NIVU adalah tim Batavia (SVB,Vios,Sparta,Hercules) dan Surabaya (Excelsior, HBS,TiongHoaClub dll)

pertanyaan : Club trsbut ada yg menjadi cikal bakal dengan club yg skrg ga ??

hanityo : kayaknya nggak ada. Setelah kemerdekaan pada bubar — pemain2nya masuk klub lain dibawah PSSI

Namun pertemuan antara football bund Bandung & Semarang pasti selalu panas. Fans bund Bandung pendukung fasis sedang SMG dukung komunis

Ini karena pengaruh konsentrasi kaum fasis yg daridulu memilih Bandung sbg pusat pergerakan & kaum kiri (pengikut Sneevliet) di Semarang

Cikal Bakal PKI kan ada di Semarang, dulunya namanya Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV) dikonsep oleh Sneevliet

Makanya, Jateng/Jatim jaman dulu kiri banget — sementara pengaruh kiri di Jabar nggak kentara, karena emang paham fasis yg ngetop di Jabar

Balek ke sepakbola, Pertandingan antara bund Bandung & Semarang mirip dgn pertemuan antara Lazio & Livorno di Serie A. Suasananya panas

Topik Sepakbola-Politik sebelum kemerdekaan ditunda kapan2 ya.. kita balik ke fasisme di tanah air.

Kita sudah tau pergerakan kiri Indonesia terus berjalan melalui PKI yang anti-fasis. Lha kaum fasis di Indonesia masuk partai apa?

*Ehem* Kaum fasis di Indonesia bergabung dgn Parindra & PSII, tapi jgn berprasangka negatif dulu. Fasis disini adalah fasis anti kolonial

pertanyaan : parindra bukannya partainya tan malaka abis dia ditendang dari pki ya?

hanityo: Tan Malaka partainya Murba kak

Bahkan, petinggi Parindra menghubungkan paham fasis dengan serat Jayabaya, sehingga mereka menyambut Jepang sbg negara pembebas

Karena itu pulalah, Husni Thamrin selalu dimata2i oleh dinas rahasia Belanda, karena Thamrin dianggap pro Jepang

Oiya, MH Thamrin itu tokoh Parindra — dia dikenai tahanan rumah sampai akhir hayatnya. Namun meninggalnya MH Thamrin jg msh kontroversi

Dalam laporan resmi,MH Thamrin meninggal karena malaria. Namun banyak yg jg pendapat bahwa MH Thamrin meninggal diracun agen rahasia Belanda

Btw, balik sedikit ke tahun 20-an. Jaman kuliah,saya pernah nemu thesis yang menghubungkan antara Sumpah Pemuda dgn Fuhrerprinzip.

Slogan Fuhrerprinzip yang diulang-ulang adalah Ein Volk, Ein Reich, Ein Fuhrer — “One People, One Nation, One Leader”.

Prinsip tersebut mengilhami Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Ini menurut thesis tersebut lho yaa. Keren bgt yg nulis mahasiswa Ceko

Btw, Fuhrerprinzip dikonsep oleh Hermann Keyserling pada awal 1920, diadaptasi oleh NAZI tak lama setelahnya.

Foto ini diambil pas pemakaman MH Thamrin. Coba liat salam “Sieg Heil” pemuda2 dipinggir iringan jenazah [gambar diatas]

pertanyaan : salam ganesha ITB juga begini tangannya, apakah fasis juga abang2ku terdahulu?

hanityo: beda — salam Ganesha ITB (untuk tuhan,bangsa & almamater) berbeda dgn gerakan Sieg Heil.

Lebih lanjut ttg fasisme di Indonesia silahkan cekidot buku “Orang dan Partai Nazi di Indonesia: Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme”

Kita sama2 tau pasca 65, Komunis Habis — Fasis Eksis. Tokoh2 fasis bahkan ada yg jadi pahlawan Nasional #NoMention yaa. sok di-google aja

Ok tweeps, sekian tweet ringan ttg fasis di Indonesia. Tar gw compile deh, lupa ngasih hash-tag. Sekian TarimaKasih

Penganut paham fasisme-nasionalis yang jadi pahlawan Nasional Indonesia itu sbenernya bisa diliat di foto yg saya post barusan


Yang Blangkonan itu namanya Sukarjo Wiryopranoto — pahlawan Nasional lho. cek wikipedia deh. Lainnya? ehehee jgn deh auw, kontropersi soale
–end.

Diambil dari: Twitpocket / Judul Aseli: tentang fasisme di Indonesia dari @hanityo / Tertanggal: 30 Desember 2010



V de Vendetta The Comics (Menjelaskan Anarkisme Lewat Komik)


"Kerusuhan dan keributan ini, V… Inikah anarki? ... Anarki berarti "tanpa pemimpin", bukan "tanpa peraturan". Bersama anarki datang masa ordnung, masa keteraturan sejati… dgn kata lain keteraturan secara sukarela. […] Ini bukan anarki, Eve. Ini kekacauan." (petikan percakapan V dengan Eve dari komik V for Vendetta, hlm. 195)

Anarki dan kekacauan, samakah? Ya bila kita lihat pemakaian kata "anarki" dalam bahasa sehari-hari. Tapi tidak bila kita melihatnya dari sejarah aliran pemikiran kritis.Buku Sean M. Sheehan, Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan (Marjin Kiri, 2007) berusaha mengupas sejarah anarkisme sebagai sebuah falsafah politik, dengan dampaknya yang meluas pada bidang kebudayaan dan kesenian.

Sebagai falsafah politik, anarkisme sering dianggap tidak serius dan diasosiasikan sebagai "kenakalan liar" belaka. Sebagian penyebabnya adalah karena anarkisme menolak konsep Negara tunggal atau tersentral, padahal "Negara berdaulat adalah sumber otoritas politik sebagaimana yang kita pahami. Sedemikian kuat konsep ini sampai sulit untuk membayangkan apa jadinya ilmu politik tanpa konsep Negara" (Anarkisme hlm. 23). Meskipun menentang Negara, anarkisme tidaklah menentang pemerin­tahan dalam arti "administrasi sistem politik". Anarkisme mendambakan pemerintahan swakelola yang dijalankan sukarela oleh warganya, bukan lewat paksaan aparatus hukum Negara yang kita kenal sekarang.

Proyek macam ini sering dibilang utopis, namun Sheehan mencontohkan komunitas-komunitas anarkis kuno maupun baru yang terbukti mampu menjalankan ideal macam ini, mulai dari komunitas Diggers di Inggris abad ke-17 sampai komunitas Zapatista di Meksiko yang melancarkan pemberontakan menjelang akhir abad ke-20. Sheehan juga merayakan kejayaan kubu Anarkis dalam memerangi pasukan Fasis dalam Perang Saudara Spanyol tahun 1930-an. Dalam perang inilah terbukti bahwa prinsip-prinsip anarkis mungkin diterapkan dalam penataan kehidupan politik modern. Revolusi anarkis ini terbukti berdampak positif pada kinerja perekonomian. Produksi pertanian Spanyol meningkat antara 1936 dan 1937 (hlm. 102). Sheehan menggugat, meski bukti-bukti ini berlimpah, "namun anehnya tidak dianggap sebagai argumen bahwa anarkisme itu mungkin diterapkan pada abad ke-21." (hlm. 49).

Dianaktirikan dalam lingkup ilmu sosial-politik, anarkisme justru memberi banyak pengaruh dalam kebudayaan dan kesenian. Musik punk misalnya, adalah anak kandung anarkisme. Sheehan memaparkan banyak contoh karya-karya sastra dan film yang mengangkat tema atau prinsip anarkisme dengan stereotipnya masing-masing. Sungguh kebetulan bahwa dalam waktu yang tak beda jauh terbit pula komik V for Vendetta (Gramedia, 2006) yang juga bisa dipakai sebagai contoh bagaimana anarkisme ditampilkan dalam budaya pop. Publik Indonesia mungkin lebih dahulu mengenal V for Vendetta di layar lebar.

Alkisah dalam komik ini, Inggris tahun 1997 dikuasai oleh kediktatoran fasis Takdir yang dipijakkan pada konspirasi militer, birokrat, dan rohaniawan, dengan dipadu oleh kemahakuasaan teknologi. Kebudayaan, kesenian, dan pemikiran pada umumnya diberangus. Rakyat hanya boleh mendengarkan siaran radio yang mengudarakan Suara Takdir. Kamera televisi siaran terbatas (CCTV) dipasang di tiap sudut jalan mengawasi gerak gerik masyarakat. Intel bertebaran di mana-mana. Kebebasan nol. Dalam kata-kata Sang Pemimpin: "Aku percaya pada persatuan. Dan jika kekuatan itu, kesamaan tujuan itu menuntut keseragaman pikiran, kata, dan perbuatan, itulah yang harus diterapkan." (Vendetta, hlm. 37).

Di tengah situasi represif inilah muncul tokoh V yang melancarkan serangkaian perlawanan dengan teknik-teknik anarkis. V adalah tokoh eksentrik yang memakai jubah dan topeng teater yang selalu tersenyum. Dulu ia pernah dijadikan kelinci percobaan medis di kamp konsentrasi, namun tak ada penjelasan bagaimana setelah lolos ia bisa merintis proyek perlawanannya. Yang jelas, di rumahnya berjajar karya-karya sastra, musik, dan film yang telah diberangus dari kehidupan publik. Dari sinilah ia menimba ilmu dan inspirasi tentang kebebasan.

V disebut anarkis karena dalam perlawanannya ia tidak berusaha menggulingkan rezim Takdir lalu menggantinya dengan "pemerintahannya" sendiri. Ia berusaha menyadarkan masyarakat bahwa ada kehidupan lain di luar hidup yang mereka alami sekarang ini. V cuma membuka jalan, hanya pemberontakan bersamalah yang bisa mengubah kehidupan. Hal pertama yang dilakukannya adalah meledakkan Gedung Parlemen. Rezim berusaha berdalih bahwa ini adalah "penghancuran disengaja untuk menghindari kemacetan." Kekuasaan yang hendak berlaku total dalam prakteknya justru mudah digoyang oleh hal-hal kecil, karena itulah V lalu menculik Komandan Lewis Prothero yang setiap harinya menjadi pengisi Suara Takdir di radio. Karena tak berhasil menemukan penggantinya, rezim pun siaran seadanya, dan "seluruh negara mendengarkan. Ada yang salah dengan Suara Takdir. Hal seremeh itu telah menebarkan bayangan gelap […] Segalanya tak lagi sama." (hlm. 36). Totalitas Negara mulai rontok.

Komik V for Vendetta adalah novel grafis serius yang sungguh memukau dalam cerita maupun visualnya. Sayang sekali penggarapan edisi Indonesia ini tidak sepadan dengan kualitas komik ini aslinya. Banyaknya salah penggal kata menunjukkan rendahnya kualitas proofreading, sementara penerjemahan beberapa kutipan yang merujuk pada karya-karya sastra "tinggi" tidak dilandasi pengetahuan memadai tentang kutipan tersebut, sehingga membuat tokoh V jadi kelihatan seperti tukang ngelantur yang tidak jelas apa yang dibicarakannya. Lihat kutipan puisi W.B. Yeats ini di hal. 196: "Berputar-putar di pusaran yang membesar, burung falcon tak dapat mendengar tuannya, segalanya hancur… inti tak dapat bertahan." Andai penerjemah mau sedikit teliti melacak puisi tersebut, tentu akan tahu bahwa puisi "The Second Coming" ini dipakai sebagai epigram pembuka mahakarya Chinua Achebe Things Fall Apart, yang telah diterjemahkan dengan sangat baik menjadi Segalanya Beran­takan (Sinar Harapan, 1986): "Berputar-putar dalam putaran melebar/ elang pun tiada mendengar sang pemburu/ segalanya berantakan; pusat tak dapat bertahan/ hanya anarki kini melanda dunia."

Achebe memakai puisi Yeats sebagai alegori runtuhnya kolonialisme di Afrika, dan Moore mengutipnya di Vendetta sebagai alegori runtuhnya pusat kekuasaan fasisme Takdir--sesuatu yang tak tertangkap dalam terjemahannya di komik ini. Hal sama juga berlaku untuk kutipan soneta-soneta Shakespeare, yang tentunya akan jadi lebih baik bila penerjemah mau menengok terlebih dahulu hasil terjemahan Trisno Sumardjo.

Meski kedua buku ini menyegarkan, sebenarnya ini bukan pertama kalinya buku-buku anarkisme diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Setahu saya, dulu pernah beredar secara bawah tanah terjemahan karya tokoh-tokoh anarkis macam Rudolf Rocker dan Emma Goldman dalam bentuk stensilan. Namun inilah pertama kalinya buku tentang anarkisme digarap secara serius dan beredar di toko buku mainstream. Apakah dengan ini wacana anarkisme diharapkan bisa dengan bebas memasuki ruang publik tanpa disertai kecurigaan dan resistensi? Sepertinya itulah yang hendak disasar oleh penerbit Marjin Kiri, seperti bisa dibaca pada penjelasan mereka: "Apakah kita tengah berada dalam era kebangkitan anarkisme global sebagai respon terhadap neoliberalisme global? Hal ini penting untuk dikaji, karena setelah kapitalisme dan komunisme turut menanggung dosa sejarah yang besar, barangkali anarkisme kontemporerlah yang bisa menawarkan alternatifnya." (Anarkisme, hlm. i). Mengkaji anarkisme secara ilmiah dalam konteks neoliberalisme sekarang tentu saja menarik, meski ada beberapa soal yang masih bisa diperdebatkan. Benarkah gerakan-gerakan antineolib yang sering disebut sebagai "masyarakat sipil global" ini sama dengan "anarkisme global"? Tidakkah neoliberalisme yang bertujuan menciutkan seminimal mungkin peran Negara justru berbatasan tipis sekali dengan prinsip anarkis yang menolak Negara terpusat?

Banyak pertanyaan belum terjawab dari buku Sheehan, namun kehadirannya diharap bisa memberi masukan baru dalam pemikiran progresif di negeri ini. Ketika "kiri" disebut-sebut, asosiasinya diharap tidak lagi tertuju secara kaku pada "sosialisme" atau "komunisme" semata, namun juga "anarkisme" dan pelbagai varian pemikiran libertarian lainnya. Sheehan bahkan menggaris­bawahi keberagaman spektrum politik kiri ini dengan menuliskan bahwa pihak yang paling banyak menghabisi gerakan anarkis justru bukan kaum kapitalis, melainkan Lenin dan Stalin yang komunis.

Tapi sebagai gagasan, anarkisme terbukti mustahil dihabisi. Dalam V for Vendetta tokoh V tanpa gentar menerjang peluru-peluru pistol sambil berkata ke penembaknya: "Kau hendak membunuhku? Tak ada darah atau daging di balik jubah ini yang dapat dibunuh. Hanya ada ide. Dan ide tahan peluru." (Vendetta, hlm. 236). Toh V tetap manusia dan mati juga kena peluru itu. Tapi Eve sang murid mengambil­alih jubah dan topengnya untuk menjadi V baru. Sama seperti ketika Uni Soviet ambruk dan kapitalisme dirayakan se­bagai pemenang tunggal, neo-anarkisme justru dengan cepat merebak di sekujur bumi: Chiapas, Seattle, Praha… Atau dalam kata-kata Eve yang sekarang men­jelma V: "Mereka bilang anarki sudah mati, tapi lihat saja… berita kematianku dibesar-besarkan." (Vendetta, hlm. 258).

Diambil dari: Koran Tempo, 25 Februari 2007
Ditulis oleh: Donni Ramdani (pencinta buku, Jakarta)
Judul Aseli tulisan: Mempopulerkan Anarkisme
Download Komiknya (Pdf, mediafire): V de Vendetta - Alan Moore & David Lloyd - Comp.rar

IMORALITAS NEGARA [pdf download]

Mikhail Bakunin
"Setiap negara, apakah negara itu mempunyai karakter federasi atau non federasi, mempunyai keharusan untuk melahap negara lain, supaya ia tidak dilahap, memperbudak supaya tidak diperbudak dan menguasai supaya tidak dikuasai. Pada hakikatnya, setiap negara itu mempunyai karakter bertentangan dengan nilainilai kemanusiaan. Negara menghancurkan solidaritas diantara manusia dan mempersatukan sebagian manusia hanya untuk menghancurkan, menguasai dan memperbudak sebagian lain manusia. Sebuah negara hanya melindungi warga negaranya, karena negara itu tidak mengakui hak-hak orang lain diluar batas kekuasannya: dan secara prinsipil, negara ini akan memperlakukan orang asing dengan semena-mena. Kalau negara itu memperlakukan orang asing tersebut dengan manusiawi, itu bukan karena kewajibannya: karena negara itu tidak mempunyai kewajiban kepada siapa pun, tetapi kepada dirinya sendiri dan warga negaranya, yang telah membentuknya."


Selanjutnya Bisa didownload Pdf: IMORALITAS NEGARA

25 POIN TENTANG INDONESIA DIMATA PARA PEMABUK DI UJUNG GANG KANCUT

Gambar hanya ilustrasi

Seorang lumpen (pemalas/benalu) atau sebutlah "preman" (bukan Free-Man) bernama Susilo (bukan nama aseli) bersama 3 temannya, sebutlah Bambang, Yudho, dan Yono mabok miras dan berkhotbah di ujung gang yang ramai kendaraan hilir mudik. Mereka ini adalah anggota Ormas Fasis berseragam loreng dominan warna Hitam, Putih, Orange ... diapun dengan lantang berteriak "Negara gue nih. tanah air gue. tanah tumpah darah gue. Banggalah jadi orang INDONESIA, karena:
  1. Cuma di Indonesia seseorang bisa punya KTP lebih dari satu.
  2. Cuma di Indonesia  seseorang  bisa punya SIM tanpa test.
  3. Cuma di indonesia yg sering mati lampu dan gak ada airnya.
  4. Cuma di Indonesia anak SD bisa beli rokok.
  5. Cuma di Indonesia jumlah BB BM yg beredar jauh lbh bnyk dari BB yg legal.
  6. Cuma di Indonesia Duta Anti Narkoba ketangkep make Shabu.
  7. Cuma di Indonesia pemerintahnya murah hati. Bagi-bagi pulau, lagu daerah, sampai tarian GRATISS!!
  8. Cuma di Indonesia segala urusan bisa beres pake UANG.
  9. Cuma di Indonesia kita bisa buang sampah dimana2 tanpa denda.
  10. Cuma di Indonesia kita bisa naik angkutan umum tanpa hrs nunggu di halte,dimana aja bisa.
  11. Cuma di Indonesia makanan2 bekas dan kadaluwarsa bisa disulap jadi makanan siap jual lagi.
  12. Cuma di Indonesia kita bisa off road di Jalan Raya (jalannya lobang semua)
  13. Cuma di Indonesia pesawatnya gak di apa2in bisa jatuh.
  14. Cuma di Indonesia, jembatan baruuu jadi, mur baut nya udah pada hilang buat di loak
  15. Cuma di Indonesia jalan raya bisa jadi kolam renang.
  16. Cuma di Indonesia, ada orang bisa nyebrang di jalan tol.
  17. Cuma di Indonesia Rel Kereta Api jadi toilet, sementara di DPR-RI toiletnya mewah tapi gak digunain alias rusak.
  18. Cuma di Indonesia, kita bisa lesehan di atas kereta api yang sedang jalan. Asoy!
  19. Cuma di Indonesia, orang gak lulus kuliah bisa jadi anggota DPR.
  20. Cuma di Indonesia kita bisa nonton DVD dengan kualitas bagus hanya dengan membayar Rp. 7.000,-! (eh, kdg2 bisa 5000)
  21. Cuma di Indonesia seorang ABG bisa menimbulkan kontroversi hebat. Diperkosa pangeran, dinikahin sama si pangeran, abis itu disiksa, terus pulang dan memberitakan ke seluruh dunia tentang penderitaannya. . oh iya dan dapet job sinetron bernilai milyaran rupiah bahkan sebelum kasusnya selesai.
  22. Cuma di indonesia, rebonding haram hukumnya.
  23. Cuma di indonesia, facebook bawa bencana.
  24. Cuma di indonesia, bom dijual eceran… Gas 3kg =D.
  25. Cuma di indonesia tahanan bisa jalan2..
Disinyalir, beberapa hari kemudian si Bambang dan teman-temannya ini gak kelihatan lagi batang hidungnya. Dengar-dengar dijadikan Tentara khusus untuk menjaga kepenting pemimpin ormasnya yang kebetulan seorang Mafia besar di Jakarta .... hehehehe (Antifara Press)

SEJARAH PERGERAKAN BURUH INDONESIA

Bung-Karno sedang menerima massa buruh pada peringatan Hari Buruh 1 Mei 1948 di Jogjakarta

Pergerakan buruh di Indonesia penuh dengan liku-liku sejarah yang panjang dan melelahkan. Beberapa tonggak sejarah besar dan berpengaruh terangkum dalam tulisan ini. Namun, masa panjang perju-angan pergerakan buruh Indonesia belum berakhir…

1878
Muncul serikat buruh guru Bahasa Belanda yang dipengaruhi oleh pergerakan sosial demokrat di Belanda. Pada masa itu serikatburuh tampil sebagai organisasi golongan yang hanya menampung kulit putih.

1879
Lahir Nederland Indische Onderwys Genootschap (NIOG),Serikat Pekerja Guru Belanda.

1905
Lahir Serikat Pekerja Pos (Pos Bond).

1906
Lahir Serikat Pekerja Perkebunan (Cultuur Bond) dan SerikatPekerja Gula (Zuiker Bond).

1907
Lahir Serikat Pegawai Pemerintah.

1908
Lahir Vereniging Spoor-Traam Personeel (VSTP) dipimpin oleh Semaoen.

1909
Pada 26 September di kalangan Tionghoa di Jakarta dibentuk Tiong Hoa Sim Gie dipimpin oleh Lie Yan Hoei. Empat bulan kemudian kelompok ini merubah nama menjadi Tiong Hoa Keng Kie Hwee yang kemudian menjadi inti dari Federasi Kaoem Boeroeh Tionghoa.

1911
Lahir Perkumpulan Bumi Putra Pabean (PBPP).

1912
Lahir Sarekat Dagang Islam (SDI) yang bergerak di bidang perekonomian dan perdagangan, Serikat Islam sebagai serikatburuh kaum pribumi dan Persatuan Guru Bantu (PGB).

1913
Lahir Serikat Pekerja Kereta Api (Spoor Bond).

1914
Lahir Persatuan Pegawai Pegadaian Bumiputra (PPPB).

1915
Lahir Serikat Pekerja Perusahaan Swasta (Partikulir) / (SPPP).

1916
Lahir Serikat Pekerja Opium Regie Bond (ORB).

1917
Lahir Serikat Pekerja Pabrik Gula.

1918
Pada bulan Agustus lahir PFB (Personeel Fabriek Bond) yang beranggotakan buruh tetap, Perkumpulan Tani dan koperasi yang kemudian lazim disebut sebagai Sarekat Tani dengan anggota kuli kenceng atau pemilik tanah yang disewa pabrik, serta Perserikatan Kaum Buruh Umum (PKBO) yang beranggotakan buruh musiman. Ketiga perhimpunan itu diketuai Suryopranoto yang juga menyebut dirinya sebagai komandan Tentara Buruh Adidarmo.

1919
Lahir Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) dipimpin oleh Semaoen.

1920
Pemogokan buruh terjadi pada 72 pabrik gula di seluruh Jawa. Dari jumlah itu 28 pemogokan terjadi pada masa sebelum dan sesudah giling yang meliputi 4.700 pekerja; sedangkan pemogokan yang lain terjadi dalam masa giling (dari bulan Mei sampai Oktober) dengan pemogokan terdiri dari 20.716 orang. Pemogokan yang terjadi di luar musim giling biasanya terpaksa dilakukan sebagai reaksi tindakan pengusaha yang dianggap tidak adil dan sewenang-wenang. Dari jumlah 4.700 pemogok sebagian besar terdiri dari tukang yang berperan penting dalam menjalankan proses produksi di pabrik gula. Pemogokan dalam musim giling biasanya dilakukan atas inisiatif buruh karena motif-motif ekonomis. Gerakan telah dipersiapkan sehingga meskipun pemogok yang terdiri dari buruh tetap hanya mencapai 1.997 orang tetapi mereka mampu memimpin sejumlah besar buruh musiman (7.584 orang) dan buruh tidak tetap sekitar pabrik (11.135 orang).

1920
Para pekerja anggota Personeel Fabrik Bond (PFB) mogok kerja, menuntut majikan supaya mau mengakui keberadaanSerikat Pekerja mereka.

1921
Harga gula, komoditas andalan Belanda di tanah jajahannya jatuh di pasaran dunia. Pemodal Belanda yang mengalami kerugian cukup besar terpaksa harus menekan ongkos produksi secara besar-besaran, diantaranya adalah dengan memangkas upah buruh. Buruknya kondisi kerja waktu itu memicu pergolakan aksi buruh. Pemerintah mengaktifkan kantor Pengawasan Perburuhan yang berada dibawah Departemen Kehakiman. Ia punya bagian yang secara terpusat mengawasi pergerakan serikat buruh dan mengamati kebutuhan dikeluarkannya peraturan hukum baru menyangkut perburuhan.

1922
Para pekerja pelabuhan Surabaya melancarkan aksi mogok kerja, menuntut perbaikan nasib. PPKB dan Revolutionaire Vakcentrale berhasil membangun aliansi yang bernama PVH (Persatuan Vakbond Hindia).

1923
Pegawai Kereta Api mogok kerja. Tuntutan mereka kala itu kurang berhasil. Pemerintah kolonial melarang adanya aksi mogok kerja, yang dilakukan kaum pekerja dan segera dikeluarkan Undang-Undang tentang larangan mogok kerja (artikel 161 bis Buku Hukum Pidana) tanggal 10 Mei 1923. Serikat Pekerja Kereta Api dan Trem-Vereniging van Spoor en Trem Personeel (VSTP) menjadi anggota Gabungan SerikatPekerja International yaitu International Federation of Trade Union (IFTU) yang bermarkas besar di Moskow Rusia.
Revolutionaire Vakcentrale membangun hubungan dengan Profintern (Red International Labour Union) dan menjadi anggotanya.

1924
Pada bulan Juni Serikat Pekerja Indonesia bersama-samaSerikat Pekerja Filipina, India, Jepang dan Tiongkok di undang untuk menghadiri Konferensi Serikat Pekerja Angkutan Laut di Kanton. Dengan demikian keberadaan dan kehidupanSerikat Pekerja di samping Iebih erat menjalin hubungan kerja sama dengan Serikat-Serikat Pekerja Internasional, juga lebih memperkuat posisi.

1926
PVH (Persatuan Vakbond Hindia) berakhir akibat dari kegagalan aksi politik PKI yang disusul penangkapan besar-besaran terhadap aktivis RV.
1930
Serikat Kaum Buruh Indonesia (SKBI) dibubarkan oleh pemerintah kolonial, dicurigai turut aktif dalam kegiatan perjuangan kebangsaan.

1932
Lahir dua organisasi Serikat Pekerja, yaitu Persatuan Vakbonden Pegawai Negeri (PVPN) dan Persatuan SerikatPekerja Indonesia (PSPI), yang didirikan oleh dr. Soetomo.

1937
Direktur Intemasional Labour Organization (ILO), Harold B. Butle berkunjung ke Indonesia pada bulan Oktober untuk memperoleh informasi tentang perkembangan kehidupan perburuhan di Indonesia yang akan dijadikan bahan laporan dalam Konfrensi ILO.

1938
Lahir gerakan politik yang bekerja sama dengan gerakanserikat pekerja untuk bersama-sama melindungi dan membebaskan hak-hak dan kepentingan pekerja, memberantas pengangguran, mengantisipasi tantangan industrialisasi yang menggusur lapangan usaha kerajinan rakyat.

1940
Pemerintah kolonial mengeluarkan Ordonansi Regeling Arberdsverhouding (ORA), suatu peraturan yang mengatur tentang jaminan dan perlindungan kaum pekerja di perusahaan-perusahan swasta (partikelir).

1945
Pada 15 September lahir sebuah organisasi massa buruh yang bernama BBI (Barisan Buruh Indonesia). BBI mengutamakan barisan buruh untuk memudahkan mobilisasi oleh serikatsekerja dan Partai Buruh. Dalam kongresnya pada bulan September 1945 yang dihadiri oleh kaum buruh dan tani, tercetuslah Partai Buruh Indonesia. BBI juga sepakat untuk menuntaskan revolusi nasional. Untuk mempertahankan tanah air dari serangan musuh, BBI membentuk Laskar Buruh bersenjata di pabrik-pabrik. Untuk kaum perempuan dibentuk Barisan Buruh Wanita (BBW).

1946
BBI dilebur menjadi GASBI (Gabungan Serikat Buruh Indonesia). Serikat buruh yang tidak sepakat dengan struktur GASBI keluar dan membentuk GASBV (Gabungan SerikatBuruh Vertikal). Tetapi pada bulan November, tahun yang sama, atas usaha Alimin dan Harjono, GASBI dan GASBV berhasil dilebur menjadi SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia).

1948
SOBSI sempat mengalami perpecahan akibat perbedaan sikap dalam menanggapi perjanjian Renville. Tetapi tidak lama kemudian SOBSI berhasil kembali mengkonsolidasikan pecahan-pecahannya. Bahkan dalam pernyataan politiknya tahun 1948, SOBSI kemudian menegaskan menolak perjanjian Renville. SOBSI kemudian menyatakan keluar dari HISSBI (HimpunanSerikat-serikat buruh Indonesia) karena perbedaan garis politik.

1957
Soekarno mengeluarkan dua konsepsi mengenai kabinet karya dan dewan nasional. Kabinet karya ini adalah kabinet eksekutif yang menampung orang-orang di parlemen dan partai politik. Buruh sebagai golongan fungsional mendapatkan tempat di Dewan Perancang Nasional. Anggota Dewan ini 77 orang, dan dari 77 itu ada lima wakil angkatan buruh/pegawai yaitu dari SOBSI, SOBRI,RKS dan dua orang dari KBKI. Sementara di Dewan Pertimbangan Agung, duduk dua orang wakil dari buruh yaitu dari SOBSI dan KBKI.

1973
Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) didirikan sebagai satu-satunya serikat buruh yang diakui pemerintah.

1990
Pada bulan November serikat buruh independen pertama dibentuk dengan nama Serikat Buruh Merdeka Setia Kawan (SBM-SK) di bawah kepemimpinan HJC. Princen. Karena adanya konflik internal dan tekanan pemerintah, serikat ini berhenti beraktivitas.

1992
Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) didirikan pada 25 April oleh sekelompok aktivis pro-demokrasi yang mengadakan “pertemuan buruh nasional” di Cipayung, Jawa Barat. Hadir sekitar 100 buruh dari 18 propinsi. SBSI mendapat dukungan dari Abdurrahman Wahid (NU), Sabam Sirait (PDI) dan Asmara Nababan. Mochtar Pakpahan, seorang lawyer buruh dari Medan menjadi Sekjen SBSI.

1993
Pada 14 Juni, 7 buruh pabrik udang, PT. Tambaksari Jalmorejo di Medan di-PHK karena menjadi anggota SBSI. Kongres SBSI yang sedianya diselenggarakan pada 29 Juli tidak mendapat ijin pemerintah.

1994
Konfederasi Serikat Pekerja Bebas Internasional mengajukan pengaduan resmi terhadap Indonesia ke Organisasi Buruh Internasional, ILO. Mereka menuduh pemerintah menolak hakpekerja untuk membentuk serikat pekerja atas pilihan mereka sendiri, mengganggu organisasi pekerja independen, dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan standar ILO mengenai kebebasan berserikat dan hak untuk tawar-menawar kolektif.
Serikat buruh independen ketiga, Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), lahir pada bulan Oktober.
Permohonan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) untuk didaftar sebagai serikat pekerja kembali ditolak pada bulan November. Departemen Tenaga Kerja juga menghalangi niat SBSI untuk mendaftar pada Departemen Dalam Negeri sebagai organisasi sosial di bawah Undang-undang Keormasan. Pemerintah menganggap SBSI tidak sah.

1995
Struktur Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), dengan 13 federasi serikat pekerja sektoralnya berubah dari kesatuan (sentralisasi) menjadi federasi (desentralisasi) dengan nama Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSPSI). Ke-13 sektor industrinya didaftar sebagai serikat pekerja nasional yang terpisah; SPSI merupakan satu-satunya federasi serikatpekerja yang diakui oleh Departemen Tenaga Kerja. Menteri Tenaga Kerja menyatakan bahwa serikat pekerja yang dibentuk harus berafiliasi dengan SPSI, dan bahwa pemerintah tidak akan mengakui setiap serikat pekerja di luar federasi.

1996
PPBI membantu mengorganisasi demo buruh pada bulan Juli di Surabaya. Dengan partisipasi sekira 15.000 buruh dari 10 pabrik, demo ini barangkali merupakan demonstrasi terbesar di masa Orde Baru.

1998
Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) diakui oleh pemerintah. Ketuanya, Mochtar Pakpahan, dibebaskan pada bulan Mei setelah beberapa tahun mendekam di penjara.

2000
Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang SerikatPekerja/Serikat Buruh disahkan di Jakarta pada 4 Agustus oleh Presiden Abdurrahman Wahid.

2003
Kongres Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang merupakan gabungan dari 12 organisasi serikat pekerja melaksanakan kongres pendirian pada bulan Januari di Jakarta.

2004
Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) yang bertujuan untuk memperjuangkan aspirasi Buruh Migran Indonesia di tingkat nasioanal maupun internasional dideklarasikan di Semarang pada tanggal 10 Juli. Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Sumatera Utara mendapat kehormatan menjadi tuan rumah kongres World Federation of Clerical Workers (WFCW) pada 1-4 November. WFCW beranggotakan 70 negara Asia, Afrika, Eropa dan Amerika, merupakan federasi dari World Confederation of Labour (WCL), organisasi buruh dunia yang terkuat. (DimDjoen)

PATRIOTISME : ANCAMAN BAGI KEBEBASAN [pdf]

Emma Goldman
Apakah patriotisme itu? Apakah cinta dengan tempat lahir seseorang, tempat seseorang mengenang masa kecil, mimpi dan aspirasinya? Dengan sebuah tempat, dimana kita dengan jiwa kekanak-kanakan memandang awan yang bergerak dan bertanya mengapa kita tak dapat begerak secepat awan itu? Dengan tempat dimana kita melihat bintang-bintang betebaran di langit ? Dengan tempat dimana kita mendengar kicauan burung dan berangan-angan ingin bisa terbang seperti burung ke tempat nun jauh? Atau, apakah cinta dengan tempat kita dipangku ibu mendengar dongeng-dongengnya ? Singkatnya, apakah patriotisme itu adalah cinta dengan setiap jengkal tempat dimana kita dibesarkan dan bermain, dimana kita dapat mengenang masa kecil yang penuh dengan kegembiraan?

Kalau itu adalah patriotisme, hanya sedikit orang Amerika yang bisa menjadi patriotik, karena tempat bermainnya sudah dibangun menjadi pabrik-pabrik dan dengungan mesin telah menggantikan musik (kicauan) burung.

Kalau begitu, apakah patriotisme itu? Leo Tolstoy, anti patriotisme terbesar zaman ini, mendefinisikan patriotisme sebagai suatu prinsip yang membenarkan pelatihan pembunuh; suatu usaha yang memerlukan peralatan yang lebih canggih untuk membunuh manusia daripada untuk membuat keperluan manusia, misalnya, sepatu, pakaian dan rumah; usaha yang dapat membawa kebesaran dan sukses, lebih daripada usaha-usaha lain.

Gustava Herve, juga seorang anti patriot yang besar, mengartikan patriotisme dengan tepat. Menurutnya, patriotisme adalah takhyul yang lebih bahaya dan brutal daripada agama. Takhyul agama berasal dari ketidak mampuan manusia untuk menjelaskan fenomena alami. Misalnya, ketika seorang manusia primitif mendengar geledek dan melihat kilat, dia tidak dapat menjelaskan kejadian itu dan menganggap bahwa ada kekuatan yang lebih besar darinya. Dia juga akan menganggap semua fenomena lain, seperti hujan sebagai fenomena gaib. Lain dengan patriotisme yang merupakan takhyul yang diciptakan dan dipertahankan secara artifisial, melalui jaringan penipuan dan kebohongan; tahkyul yang merebut kehormatan seseorang dan membuatnya sombong.

Memang, egoisme dan kesombongan adalah sifat-sifat yang harus dimiliki seorang patriot. Saya akan coba menjelaskan pernyataan di atas. Paham patriotisme menganggap bahwa dunia ini terpecah menjadi bagian -begian kecil, setiap bagian dikelilingi pintu besi. Mereka yang beruntung (kebetulan) lahir dalam sebuah bagian tersebut, akan menganggap diri mereka lebih tinggi derajatnya, lebih pandai dan lebih segala-galanya (dibandingkan dengan manusia di luar pintu besinya). Jadi merupakan tugas bagi setiap orang yang lahir di bagian yang ’terpilih’ itu untuk berperang, membunuh dan mati untuk membuktikan "kebenaran dan kelebihannya" kepada orang lain di luar pintu besinya.

Selanjutnya anda bisa download pdf-nya: PATRIOTISME : ANCAMAN BAGI KEBEBASAN

MASYARAKAT KONSUMEN SEBAGAI CIPTAAN KAPITALISME GLOBAL


Kapitalisme global, yang lahir dari proses globalisasi, menciptakan budaya konsumsi dan masyarakat konsumen —yang eksistensinya dilihat hanya dengan pembedaan komoditi yang dikonsumsi, dengan terus menerus mengkonsumsi berbagai tanda dan status sosial di balik komoditi. Kapitalisme global dalam dirinya sendiri mempunyai daya kemajuan yang bisa mempermudah dan membantu manusia dalam menjalankan aktivitas hidupnya. Namun kemajuan yang sama bisa membawa dunia dalam perubahan yang semakin sulit untuk dikendalikan oleh manusia. Semangat kemajuan yang melekat dalam diri kapitalisme global mempunyai kecenderungan untuk membawa dunia dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan ketimpangan dan hegemoni. Tulisan ini ingin menelusuri fenomena kapitalisme global ini, mulai dari hal-hal positif yang dihasilkannya sampai pada dampak-dampaknya bagi perubahan kehidupan manusia sebagai masyarakat konsumen.

Disusun oleh: Selu Margaretha Kushendrawati, download Pdf-nya: MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 10, NO. 2, DESEMBER 2006: 49-57

TEOLOGI PEMBEBASAN

Gustavo Gutierrez
Teologi Pembebasan adalah sebuah paham tentang peranan agama dalam ruang lingkup lingkungan sosial.[1] Dengan kata lain Teologi Pembebasan adalah suatu usaha kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai keagamaan pada masalah kongkret di sekitarnya.[1] Teologi Pembebasan adalah upaya berteologi secara kontekstual.[2] Teologi Pembebasan yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris Liberation Theology menjadi keharusan bagi kegiatan gereja-gereja dalam komitmen kristianinya pada kehidupan sosial.[1] Teologi pembebasan lahir sebagai respons terhadap situasi ekonomi dan politik yang dinilai menyengsarakanrakyat.[1] Masalah-masalah itu dijabarkan dalam penindasan, rasisme, kemiskinan, penjajahan, bias ideologi dsb.[1] Pada kalangan Jesuit, baik di Asia termasuk Indonesia, Brazil , Amerika Latin, dan Afrika SelatanTeologi ini berkembang pesat sebagai dampak dari hermeneutika Alkitab secara kontekstual untuk menjawab persoalan yang dihadapi umat manusia.[1][3]

Teologi Pembebasan merupakan refleksi bersama suatu komunitas terhadap suatu persoalan sosial.[1]Karena itu masyarakat terlibat dalam perenungan-perenungan keagamaan.[2] Mereka mempertanyakan seperti apa tanggung jawab agama dan apa yang harus dilakukan agama dalam konteks pemiskinanstruktural.[3]

Selanjutnya anda bisa telusuri di: http://id.wikipedia.org/wiki/Teologi_pembebasan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...