Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan

Shadow Play: Bicara Tentang "Sesuatu" Tentang Perjalanan Politik Indonesia

Sekilas cuplikan video tentang sejarah yang tersembunyi yang (mungkin) anda sendiri tidak mengetahuinya ...  




Sumber: Offstream

TOPENG PERLAWANAN SUBCOMANDANTE MARCOS

Membisu maka suara kita meluruh….

Topeng balaclava tak pernah lepas menutup seluruh wajahnya. Tak ketinggalan juga ceruta yang selalu menempel erat di mulutnya, ikut kemana pun ia pergi. Dunia pun terus bertanya-tanya, “siapa orang dibalik topeng itu?” Pertanyaan itu terus berkecamuk dan menimbulkan berbagai spekulasi hingga sekarang tentang siapa si misterius dibalik topeng itu. Tak ada jawaban pasti, hanya sekedar terkaan belaka yang sangat sulit dibuktikan kebenarannya. Orang dibalik topeng itu bisa saja berganti setiap waktu sesuai keadaan tanpa ada yang tahu. “Subcomandante Marcos hanyalah sebuah simbol bagi perlawanan masyarakat adat,” tegas orang dibalik topeng itu.

Banyak pihak memperkirakan, orang dibalik topeng itu adalah salah satu professor muda di salah satu universitas di Meksiko. Ada lagi yang mengatakan, ia adalah mantan gerilyawan marxis yang telah lama menghilang dan sekarang muncul kembali dengan wajah baru. Namun, itu hanyalah rekaan saja karena tak ada yang tahu siapa sebenarnya Subcomandante Marcos itu. orang dibalik topeng balaclava itu juga tak pernah mau membuka topengnya kepada siapa pun sehingga misterinya tetap terjaga. Apalagi, semua pasukan pemberontak (EZLN) memakai topeng yang mirip dengannya. Tanpa wajah, hanya mata saja yang terlihat karena Subcomandante Marcos sejatinya adalah simbol perlawanan. Simbol perlawanan yang apabila eksistensinya dimatikan, maka pemberontakannya akan terus hidup karena tidak bergantung pada satu orang tapi keputusan bersama (klandestine).

Subcomandante Marcos. Inilah nama yang membuat seluruh dunia tercengang pada 1 Januari 1994. Tanggal yang bertepatan dengan pemberlakuan North America Free Trade Agreement (NAFTA) di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Di Chiapas, Meksiko, Subcomandante Marcos mengumumkan adanya pemberontakan masyarakat adat dengan anam Ejercito Zapatista Liberacion Nacional (EZLN) terhadap pemerintahan. Tepat pergantian tahun, mereka menyerbu San Cristobal de Las Casas (Balaikota Chiapas) untuk melakukan pemberontakan dan mengumumkannya ke berbagai kantor berita di dunia.

Penyerbuan itu berlangsung sukses dan seluruh dunia pun langsung mengetahuinya. Tak hanya itu saja, mereka juga membuat seluruh dunia kaget karena gerakan ini tak pernah diduga akan muncul sebelumnya. Dengan status sebagai pemberontak, EZLN terus melakukan perlawanan terhadap rezim neoliberal di Meksiko. Tanpa henti, dibawah komando Subcomandante Marcos, EZLN terus melawan rezim yang hanya menginginkan penggunaan logika pasar dalam kehidupan. Anehnya, meski pemberontak, EZLN tak ingin menjadi penguasa atau mengganti ideologi negara Meksiko. Mereka memperjuangkan demokrasi, kebebasan, dan keadilan dengan dibukanya ruang publik yang bebas intervensi. ”Bendera, UUD, lagu kebangsaan, pahlawan-pahlawan nasional: hal-hal yang sering dianggap usang inilah yang memberi jiwa gerakan Zapatista,” tegas Comandante Ramona pada Februari 1994.

Bagi EZLN, pemberlakuan NAFTA merupakan hukuman mati terhadap petani kecil dan masyarakat adat. Neoliberalisme sebagai ideologi pasar merupakan ancaman bagi eksistensi masyarakat adat karena kehidupan tak hanya dinilai dari uang. Neoliberalisme menghancurkan eksistensi masyarakat adat karena mereka harus memrivatisasikan tanah adat yang sejatinya tak sekedar tempat berpijak. Didalamnya mengandung memori, harapan, dan sejarah masyarakat adat. Ini adalah sebuah kejahatan yang sungguh kejam dengan topeng keuntungan material. Selain itu, neoliberalisme juga juga akan meminggirkan kelompok minoritas karena mereka dipaksa untuk sama atau seragam dengan menghilangkan identitas yang melekat pada dirinya. “Zapatismo bukanlah suatu ideologi. Ia bukan doktrin terima jadi…karena di tiap tempat jawabnya berlainan. Zapatismo semata mengajukan tanya sambil menegaskan bahwa pluralislah jawabannya, inklusiflah jawabannya…” papar Subcomandante Marcos dalam sebuah komunikenya.

Dengan gaya khasnya, Subcomandante Marcos terus melancarkan “serangan” mematikannya ke seluruh dunia. Dunia pun dibuat marah, terkejut, dan terkagum-kagum dengan “bom” yang terus ia hujankan. Dari tempat yang tak pernah terdeteksi di pedalaman hutan belantara Chiapas, “bom” dengan denominator melebihi kekuatan nuklir itu terus ia lontarkan tanpa henti. Tak ada korban jiwa yang jatuh, hanya kuping panas rezim pro pasar dan dukungan dari seluruh penjuru dunia yang mengalir menanggapi “bom” yang ia lontarkan. Apakah senjata mematikan itu? Neil Harvey dalam tulisannya yang berjudul The Political Nature of Identities, Borders, and Orders: Discourse and Strategy in the Zapatista Rebellion mengatakan, senjata mereka adalah kata-kata.

Kata adalah Senjata

Dalam keheningan orang-orang adat ini melihat dan dilihat. Dalam keheningan mereka merasa angin dari bawah sedang bertiup. Dalam keheningan orang-orang adat ini tahu…

Banyak yang bilang, nuklir adalah senjata paling mematikan di dunia. Kekuatan dan dampaknya dapat menghancurkan dunia beserrta isinya. Namun, hal ini tak berlaku bagi para pemberontak EZLN. Senjata paling mematikan bagi mereka adalah kata-kata. Dengan kata, dunia yang ada saat ini tercipta. Segala sesuatu ada karena kata. Dengan kata, pengetahuan seseorang dapat terisi. Seperti yang diutarakan filsuf Perancis, Michael Foucault, power is knowledge. Hal ini juga ditegaskan Subcomandante Marcos, sejnta utama mereka adalah kata yang bisa mengubah dunia berserta isinya. “Kata adalah senjata,” tegasnya.

Dengan puisi dan cerpennya, gerakan Zapatista “menyerang” seluruh belahan dunia tanpa terkecuali. Cerpen karya Subcomandante Marcos tentang kisah seekor kumbang kecil yang melawan neoliberalisme berjudul Durito adalah karya monumentalnya. Bahkan, di harian La Jornada, Subcomandante Marcos bersahut-sahutan menulis cerpen bersambung dengan salah satu sastrawan Meksiko. Subcomandante Marcos juga secara rutin mengirimkan komunike EZLN ke seluruh dunia melalui saluran internet. Tulisan tentang Durito dan komunike ini mengilhami berbagai macam pemikiran tentang pentingnya ruang publik dan penghentian marjinalisasi kelompok minoritas. Secara keseluruhan, EZLN mengilhami berbagai macam gerakan anti-neoliberalisme. Salah satu bukti nyatanya adalah adanya protes dalam setiap KTT WTO, G-8 (sekarang berganti G-20), serta lainnya.

Namun, tanda tanya besar senantiasa muncul tentang gerakan kata-kata mereka. Bagaimana cerpen atau komunike itu bisa tersebar ke selutruh dunia karena belantara Chiapas tak terhubung dengan saluran komunikasi dan informasi? Bagaimana komunike itu ditulis menggunakan data-data terbaru karena mereka tinggal di tengah hutan belantara? Bagaimana cara mereka bisa berkomunikasi dengan dunia luar?? Inilah beberapa pertanyaan penting yang samapi sekarang belum bisa terjawab. Hidup di tengah hutan belantara tapi dapat terus mengakses informasi dan merespon keadaan dunia kontemporer secara detil.

Dengan kata-kata, Zapatista dan Subcomandante Marcos berusaha melawan hegemoni dunia yang berpaham neoliberalisme. Bagi Zapatista, masyarakat adat harus tetap mendapatkan hak mereka secara penuh dan tetap dihormati sebagaimana adanya. Meskipun minoritas, masyarakat adat adalah bagian dari dunia, begitupula kelompok-kelompok marjinal lainnya. Mereka harus dapat tempat semestinya tanpa harus dipinggirkan oleh kekuasaan. Keseragaman hanya akan memperburuk wajah dunia. Dunia akan tampak lebih indah dengan keragaman yang ada didalamnya. Selain itu, keberadaan negara adalah sesuatu yang penting untuk melindungi rakyatnya. Negara tak boleh jatuh ke tangan pemilik modal agar kepentingan semua pihak bisa terpenuhi. Bukan sekedar akumulasi kapital saja. Karena itu, dunia yang lain adalah mungkin…

Referensi:
  1. Fauzi, Noer et al (eds.), Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga (Yogyakarta: Resist Book, 2005)
  2. Justice, Jason, Opposing NAFTA: International Opposition to the Northa American Free Trade Agreement (Edinburg: Haymarket Press, 1996)
  3. Marcos, Subcomandante, Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan, terj. Ronny Agustinus (Yogyakarta: Resist Book, 2005)
  4. ____________________, Kata Adalah Senjata, terj. Ronny Agustinus (Yogyakarta: Resist Book, 2006)
  5. Lapid, Yosep, et. al (eds.). 2001. “Identities, Borders, and Orders: Rethinking International Relations Theory”. London: University of Minnesota
  6. Ronfeldt, David F. dan John Arquila, The Zapatista “Social Netwar” in Mexico (RAND Publication, 2001)
Ditulis oleh: Arif Setiawan
Diambil dari: JURNAL HURIA

25 POIN TENTANG INDONESIA DIMATA PARA PEMABUK DI UJUNG GANG KANCUT

Gambar hanya ilustrasi

Seorang lumpen (pemalas/benalu) atau sebutlah "preman" (bukan Free-Man) bernama Susilo (bukan nama aseli) bersama 3 temannya, sebutlah Bambang, Yudho, dan Yono mabok miras dan berkhotbah di ujung gang yang ramai kendaraan hilir mudik. Mereka ini adalah anggota Ormas Fasis berseragam loreng dominan warna Hitam, Putih, Orange ... diapun dengan lantang berteriak "Negara gue nih. tanah air gue. tanah tumpah darah gue. Banggalah jadi orang INDONESIA, karena:
  1. Cuma di Indonesia seseorang bisa punya KTP lebih dari satu.
  2. Cuma di Indonesia  seseorang  bisa punya SIM tanpa test.
  3. Cuma di indonesia yg sering mati lampu dan gak ada airnya.
  4. Cuma di Indonesia anak SD bisa beli rokok.
  5. Cuma di Indonesia jumlah BB BM yg beredar jauh lbh bnyk dari BB yg legal.
  6. Cuma di Indonesia Duta Anti Narkoba ketangkep make Shabu.
  7. Cuma di Indonesia pemerintahnya murah hati. Bagi-bagi pulau, lagu daerah, sampai tarian GRATISS!!
  8. Cuma di Indonesia segala urusan bisa beres pake UANG.
  9. Cuma di Indonesia kita bisa buang sampah dimana2 tanpa denda.
  10. Cuma di Indonesia kita bisa naik angkutan umum tanpa hrs nunggu di halte,dimana aja bisa.
  11. Cuma di Indonesia makanan2 bekas dan kadaluwarsa bisa disulap jadi makanan siap jual lagi.
  12. Cuma di Indonesia kita bisa off road di Jalan Raya (jalannya lobang semua)
  13. Cuma di Indonesia pesawatnya gak di apa2in bisa jatuh.
  14. Cuma di Indonesia, jembatan baruuu jadi, mur baut nya udah pada hilang buat di loak
  15. Cuma di Indonesia jalan raya bisa jadi kolam renang.
  16. Cuma di Indonesia, ada orang bisa nyebrang di jalan tol.
  17. Cuma di Indonesia Rel Kereta Api jadi toilet, sementara di DPR-RI toiletnya mewah tapi gak digunain alias rusak.
  18. Cuma di Indonesia, kita bisa lesehan di atas kereta api yang sedang jalan. Asoy!
  19. Cuma di Indonesia, orang gak lulus kuliah bisa jadi anggota DPR.
  20. Cuma di Indonesia kita bisa nonton DVD dengan kualitas bagus hanya dengan membayar Rp. 7.000,-! (eh, kdg2 bisa 5000)
  21. Cuma di Indonesia seorang ABG bisa menimbulkan kontroversi hebat. Diperkosa pangeran, dinikahin sama si pangeran, abis itu disiksa, terus pulang dan memberitakan ke seluruh dunia tentang penderitaannya. . oh iya dan dapet job sinetron bernilai milyaran rupiah bahkan sebelum kasusnya selesai.
  22. Cuma di indonesia, rebonding haram hukumnya.
  23. Cuma di indonesia, facebook bawa bencana.
  24. Cuma di indonesia, bom dijual eceran… Gas 3kg =D.
  25. Cuma di indonesia tahanan bisa jalan2..
Disinyalir, beberapa hari kemudian si Bambang dan teman-temannya ini gak kelihatan lagi batang hidungnya. Dengar-dengar dijadikan Tentara khusus untuk menjaga kepenting pemimpin ormasnya yang kebetulan seorang Mafia besar di Jakarta .... hehehehe (Antifara Press)

DIBALIK KERAMAHAN SENYUM RONALD Mc DONALDS DALAM SEBUAH KISAH



Waktu menulis ini, saya langsung kepikiran dan teringat masa-masa dulu, dimana saat saya masih sekolah dulu, saya dan teman-teman sering kali menghabiskan waktu di tempat nongkrong paling nyaman, paling asik, paling gaul dan paling bergengsi se-dunia... McDONALD'S. Siapa sih yang gak kenal 'nama' ini?

Kebetulan waktu itu di kota saya, restoran fast food paling ngetop sedunia ini terbilang masih baru dibuka, jadi pasti banyak remaja kayak saya yang menghabiskan waktu disana. Tempat ini benar-benar mengasyikkan sampai kita begitu betah menghabiskan waktu yang tak terasa lewat begitu saja, kita bisa makan-makanan enak sambil dengerin musik, lihat anak-anak kecil bermain, lihat cewek-cewek, pokoknya asik plus nyaman banget lah...

Tapi sebenarnya jika kita duduk didalamnya, terutama di dekat jendela kacanya, kita bisa melihat keluar menatap 'manisnya' realita kehidupan sebenarnya: anak-anak jalanan yang menggantungkan hidupnya di perempatan, ibu-ibu tua pengemis yang duduk sambil menggendong bayi mereka mengharap belas kasihan dari pengunjung-pengunjung McDonalds, abang-abang pengayuh becak yang sepanjang hari sabar menunggu penumpang dan pedagang kaki lima yang berjejer-jejer di pinggir jalan...
Sampai suatu ketika saya pernah membaca tulisan tentang McDonald's ini...

Oke, saya ceritakan apa yang pernah dikatakan salah seorang eks-pekerja McD tentang bagaimana McD mendapatkan ayam-ayamnya.

Dia mengatakan kondisi peternakan McD sangat buruk, bahkan itu lebih mirip tempat penyiksaan ketimbang tempat peternakan. Ayam-ayam diletakkan di kandang yang sama sekali tidak layak disebut kandang. Sempit dan tak punya akses cahaya matahari. Tempat yang seperti itu menyebabkan ayam-ayam tersebut tidak dapat bergerak, bahkan untuk sekedar berdiri. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang patah tulang atau terluka, bahkan tidak sedikit juga yang mati. Sudah sejak kecil ayam-ayam itu disuntik obat anti-biotik dan obat-obatan yang akan membuat mereka cepat tumbuh besar. 44% ayam-ayam tersebut mengalami gangguan kesehatan akibat obat-obatan tersebut dan pengaruh kandangnya. Ayam-ayam yang mengalami hal ini akan dipisahkan dari ayam-ayam lainnya untuk dibantai secara kejam dengan gas beracun. Ayam-ayam yang terpilih, yang tidak cacat dan telah berumur 6-7 minggu kemudian dikirim ke tempat penjagalan. Sebaiknya jangan pernah membayangkan ayam-ayam tersebut dibunuh dengan baik-baik. Di tempat jagal, ayam-ayam itu digantung terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Kemudian ayam-ayam tersebut dicelupkan ke dalam air yang dialiri listrik. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang tidak mati namun begitu menderita akibat sengatan listrik. Barulah setelah itu ayam-ayam tersebut dipotong. Tapi itu bukan pemotongan yang sempurna, melainkan sembarang saja. Satu persen dari ayam-ayam tersebut masih tetap hidup setelah dipotong untuk kemudian dimasukkan ke dalam tangki daging. Ayam-ayam yang masih hidup tersebut memang akan mati, tapi itu adalah kematian yang perlahan dan sungguh menyiksa! Benar-benar horor yang menakutkan bukan...

Dalam proses produksi itu, McD benar-benar telah melakukan eksploitasi tanpa batas terhadap Sumber Daya Alam yang kita miliki. Mungkin sebagian orang beranggapan... "Terus emangnya kenapa, itu kan cuma ayam !?" Memang itu cuma ayam, cuma seekor hewan yang biasa dijadikan sumber makanan bagi manusia, tapi apakah ayam tidak memiliki rasa sakit seperti manusia? Apakah ayam tidak merasa tersiksa karena ekspolitasi yang diperlakukan kepada mereka? Apakah mereka tidak berhak untuk hidup bebas dan berkeliaran? Ayam-ayam itu telah menderita untuk kita, dan apakah McD peduli dengan hal ini? Tentu saja tidak, korporasi mempunyai sifat dasar untuk tidak peduli kepada apapun kecuali kepada PROFIT/KEUNTUNGAN ! Jadi, ayam-ayam itu telah menderita demi keuntungan yang direguk oleh korporat internasional!

Oh jadi seperti itu ya... Ronald McDonalds, badut McD yang kelihatan lucu, ramah dan selalu tersenyum itu ternyata tidak selucu dan tidak seramah yang saya sangka.

Sampai sini, saya memutuskan untuk tidak lagi melangkahkan kaki ke McD ! (Sebuah pilihan dasar yang kamu semua juga punya, seperti kata Arundhati Roy, penulis dan aktivis India: untuk merubuhkan sistem kapitalisme global dan korporat-korporatnya yang merugikan, kamu hanya perlu menggunakan hak pilih kamu yang paling dasar, yaituMEMILIH UNTUK TIDAK MEMBELI LAGI PRODUK-PRODUK KORPORASI INTERNASIONAL !)

Saya juga pernah membaca...

Pada tanggal 31 Maret 1998, digelar pengadilan untuk kasus tuntutan NUS (National United Student – organisasi pelajar di Inggris) kepada McD. Tuntutan NUS yaitu, McDonald's adalah praktek anti-perserikatan pekerja, pengeksploitasian pekerja yang berhubungan dengan pengrusakan lingkungan, kekejaman pada hewan dan promosi produksi-produksi makanan yang tidak sehat. Dan di akhir persidangan, majelis hakim memenangkan tuntutan NUS dan menyatakan bahwa McD bersalah dengan fakta-fakta berikut:

(1) McD mengeksploitasi anak-anak dalam iklan-iklannya
(2) McD bersalah atas kekejamannya terhadap hewan-hewan
(3) Perusahaan tersebut anti-perserikatan pekerja dan membayar pekerjanya di bawah standar
(4) McD bersalah atas penghancuran hutan hujan di negara-negara dunia ketiga
(5) Penyia-nyiaan, polusi, dan sampah dari sisa-sisa produk McD yang tidak bisa didaur ulang
   
(rilisan London Greenpeace, 14 April 1998)

Akhirnya sampai sini, saya lebih yakin untuk memutuskan tidak lagi melangkahkan kaki ke McD ! (Makan nasi pecel masih enak koq, ya gak...). Dan siapakah yang tahu bagaimana McD memperlakukan sisa lebih stok makanan mereka setiap harinya? McD memasukkan burger-burger, daging-daging, nasi dan stok makanan lainnya ke dalam karung dan kemudian menyiramnya dengan air agar makanan-makanan tersebut tidak berbentuk lagi hingga tak dapat dimakan dan kemudian baru dibuang ke tempat sampah! Wah gila benerrr... Sementara, kita tahu ini, semua orang tahu ini dan Tuhan juga tahu ini: di luar jendela kaca McD, di jalanan-jalanan, dimana anak-anak, gelandangan, pengemis dan jutaan rakyat miskin melilit menahan lapar perutnya setiap hari ! Tapi McD lebih memilih untuk memusnahkan kelebihan stok makanannya daripada membagi-bagikan stok lebih makanannya itu kepada mereka !

Dan inilah mitos yang perlu dikembangkan terhadap McD:
- Penyebab Kanker (McCancer) : merusak kesehatan karena setiap yang dijual di McD adalah hasil dari bahan pengawet dan bukan makanan segar
- Pembunuh (McMurder) : pembantai hewan-hewan hanya untuk menambah keuntungan
- Perusak (McDestructor) : menghabiskan hutan-hutan di negara-negara dunia ketiga untuk kepentingan peternakannya demi (lagi-lagi)menambah keuntungannya tanpa mempedulikan hak rakyat dan hak adat pada tanah untuk melanjutkan hidup
- Penyia-nyiaan Bahan (McWaste) : membuat produk yang tidak bisa di daur ulang
- Rakus (McGreedy) : mengeksploitasi tenaga kerjanya dengan waktu yang represif dan upah yang rendah

SEMUANYA ITU DEMI MENAMBAH KEUNTUNGAN !
Jadi... Ini semua berarti bahwa kunjungan kita ke McD adalah pernyataan dukungan terhadap sistem yang telah merusak dan menghancurkan planet bumi ini, yang telah menghancurkan kehidupan para petani dan kaum adat di dunia ketiga, yang telah memperbudak manusia lewat jam kerja yang panjang, tidak masuk akal dengan upah yang minimum, yang telah membuat nilai rupiah jatuh sedemikian rupa di hadapan dollar dan menyebabkan lumpuhnya perekonomian negara ini.

Dan untuk terakhir kalinya...

Kita bisa memilih seperti apa yang dianjurkan Arundhati Roy, MEMILIH UNTUK TIDAK LAGI MEMBELI PRODUK-PRODUK KORPORASI YANG KEJAM !

Dan tentu saja, di era globalisasi dan konsumerisme seperti saat ini(yang bahkan hanya untuk berlebaran, natal, imlek, dan ritual-ritual keagamaan lainnya, kita merasa harus berbelanja!), McD bukanlah satu-satunya produk korporasi yang harus kita tolak !

CARI, BUAT DAFTAR, dan STOP MEMBELINYA !

Catatan dari seorang ERWIND EGALITE, diambil dari blog MANIFESTASI IMAJINASI yang judul aselinya adalah 
Mengapa Saya (sebaiknya) Tidak Makan di McDonald's

MEMBELI HUKUM, MENELANJANGI KONSPRASI BUSUK APARAT


Depok, 31 Desember 2011 tepat pukul 10.15 WIB di sebuah pertigaan yang lebih dikenal dengan pertigaan lampu merah Ramandha.

Lima belas, empat belas, tiga belas, dua belas ... go! saya meluncur tepat di hitungan tinggal 11 detik lagi lampu merah. Dan secara  gak langsung saya berada dibarisan belakang kendaraan yg berbelok ke kanan menuju jalur AR Hakim. Tiba-tiba, sebuah tangan dibalut kemeja coklat dengan variasi ban hitam putih mencegat motor yang ditumpangi saya, istri dan anak saya. Dan itu POLISI! ya, saya kena tilang, ketika ditanya saya tahu kesalahan saya, naik motor bertiga dan anak saya gak make helm dan itu berbahaya, tapi kebetulan itu motor baru jadi saya belum ada persiapan kesitu. baru sebatas helm saya dan istri saya, mengingat saya harus mondar mandir mengantar istri saya kerja.

Seperti biasa pertama yg ditanyain surat-surat, saya cuma ada STNK itupun atas nama istri saya, secara saya gak punya KTP buat ngurus birokrasi kredit motor tersebut. Kemudian ditanya SIM otomatis saya bilang jawaban umum .. "lagi diurus pak, motor baru soalnya". Akhirnya STNK-lah yang jadi tawanan POLISI tersebutdan dibawa ke sebuah tempat.

Saya matiin mesin motor, dan hendak mengantar kepergian STNK saya, tiba-tiba istri saya lah yg mengambil inisiatif untuk mengantar kepergian STNK sekalian berhadapan dengan POLISI tersebut, otomatis saya menunggu dimotor bersama anak saya.

Selang beberapa waktu, istri saya kembali dan bilang saya dipanggil oleh Polisi di sebuah tempat. Menindak lanjuti apa yg diucapkan istri saya, kemudian saya bergegas ke sebuah tempat yang biasa POLISI mangkal kalau sedang bertugas dipertigaan tersebut. Yup mie instant. Dan saya pun ke Warung mie instant tersebut, tp ternyata gak ada Polisi yang ada orang-orang yang sedang menikmati santapan di warung tersebut. Dimana ya? saya menoleh ke toko percetakan sebelahnya dan ... NAH! keliatan rambut cepak dan seragam cokelatnya sedang duduk dibelakang etalase toko tersebut dan di cover oleh pemilik percetakan tersebut yang emang tidak sedang melakukan apa-apa.

Kemudian saya masuk dan menyapa Polisi itu dengan teguran formil seperti " Selamat siang pak" tapi gak dijawab dia malah langsung mengeluarkan blanko surat tilang berwarna dominan kecokelatan dan malah bertanya, "Tahu kesalahan anda apa?" dan sayapun menjawab, "tahu pak, naik motor bertiga dan gak make helm". Belum selesai saya bicara kemudian rekan kerja Polisi (yang pertama jegat saya) membawa 3 STNK dan 2 SIM. "Ini gak nyalahin lampu, dan yang dua ini nerobos lampu merah" katanya sambil menyerah ke Polisi yg sebelumnya sedang berbincang dengan saya.

Belum selesai lagi Polisi yg membawa SIM dan STNK itu keluar, masuk seorang bapak tua menyodorkan uang receh sekitaran 30.000 rupiah. "Pak saya buru-buru pak, mau beli obat buat anak saya yang sakit." sambil menyodorkan uang tersebut. "Wah gak bisa pak, sidang ya?" kata Polisi sambil membuka lembaran baru blanko. "Kok gue dilewatin?" dalam hati sambil diam melihat percakapan si bapak tua dan Polisi. "Gak bisa pak 70.000, begitu ketentuannya, kalo gak sidang" itu jelas banget tiba-tiba kedengeran dikuping saya, padahal banyak kata yg mareka berdua ucapkan dalam percakapan singkat itu. "Ya udah ini deh, gak ada lagi Pak" si bapak tua menyodorkan selembara 20.000 kepada Polisi tersebut. "Iya, lain kali jangan diulangin ya pak." sela ai Polisi sambil menyambar pelan uang si bapak tua dan kemudian disimpan di bawah buku blanko surat tilang tadi. "Iya Pak, makasih pak" si bapak tua berucap seraya tangannya menggapai STNK yang memang secepat kilat diletakan oleh si Polisi diatas meja setelah menerima uang tadi.

"Sreakk, breekk!!" suara sobekan kertas membalikan pandangan saya sepersekian detik setelah saya melihat kepergian si bapak keluar dan meilhat beberapa orang lagi menunggu giliran setelah saya diluar. Ya, blanko Surat Tilang buat si bapak yang sudah siap di isi untuk bukti sidang nanti itu pun disobek sang Polisi dan dibulatin dilempar ketempat sampah kecil. Disitu saya makin bersemangat karena saya makin tahu sebagian kinerja kriminal berseragam ini, dan konsentrasi saya kembali pecah setelah tiba-tiba "Kamu sidang ya?" kata si Polisi tadi yg saya lihat mulai meneruskan mengisi blanko surat tilang untuk saya yang sempat tertunda tadi. Kemudian saya pun terfikir apa yang dilakukan si bapak tadi, karena sebelumnya saya pikir Polisi lampu merah Ramandha gak bisa dibeli, dan terkenal galak. Lagian kalopun sampai sidang berabe juga urusannya, gak punya KTP, gak ada SIM, buru-buru juga mau ngantar istri kerja, dan sebaginya dan sebagainya. "Pak, saya kaya si bapak tadi aja ya?" ucap saya merendah sambil merogoh kantong saya bermaksud ingin mengeluarkan uang sebesar 50.000 yang tadi memang ada dikantong saya bersama recehan kembalian beli rokok sebelum berangkat tadi. Belum sempat ngeluarin uang itu tiba-tiba, "70.000 ya? begitu ketentuannya, kalo gak sidang ya?" ucap si Polisi sambil sok konsentrasi menulis blanko surat tilang untuk saya. "Gak ada lagi Pak, ini juga saya buru-buru mau nganter istri saya kerja" saya memohon sambil menggulung-gulung uang 50.000 dengan tangan diantara kaki saya. "Wah, kamu udah nerobos lampu merah, gak ada SIM ini ... sidang ya???" si Polisi mulai berhadapan dengan saya agak serius. Kemudian, "Mas keluar dulu mas!!" Polisi itu tiba-tiba sedikit keras nadanya sambil agak mengangkat badan dalam posisi duduknya. Ternyata satu orang yang mengantri diluar berusaha masuk ke toko percetakan itu. Dan akhirnya mereka hanya berdiri didepan etalase sambil melihat kedalam. Melihat pergelutan transaksi "Jual beli Hukum" yang sedang saya dan Polisi lakukan didalam.

Selang beberapa detik, kemudian masuk istri saya dan dengan nada agak berbisik dia bertanya "Gimana ndah??" sambil terus melangkah menuju bangku dibalik meja tempat saya dan si Polisi duduk, karena waktu itu saya duduk tepat disamping si Polisi dan tidak dibatas meja seperti posisi saya duduk sekarang. "Bayar aja" dengan bahasa gerakan mulut saya. "berapa?" dan istri saya diseberang meja pun sama melakukan bahasa gerak mulut tanpa suara, sementara si Polisi sedang menyiapkan blanko saya yang tadi sempat terpotong oleh transaksi yang belum menemukan titik terang. "Ini pak!" istri saya menrauh selembaran 20.000 diatas meja secara tiba-tiba. Sayangnya si Polisi malah acuh dengan tindakan istri saya tersebut sambil saya lihat sesekali bola matanya melirik keluar melihat beberapa orang yang sedang menunggu giliran.

"Ya udah ini pak, saya buru-buru soalnya" sambil menyodorkan uang 50.000 yg sedari tadi saya gulung-gulung, saya serahkan lewat bawah meja. Dan berhasil, uang 50.000 itu disambut dengan cantik oleh si Polisi dan dilanjutkan dikembalikannya STNK saya sambil berkata "Itu SIM nya diurus ya?? saya gak tanggung jawab". "Oke pak, makasih ya" seraya berkata saya berdiri sambil menepuk kecil pundak si Polisi yang memang masih duduk seperti menepuk punggung seorang sahabat. Bersamaan dengan itu saya melihat istri saya sedang membenahi dompet hijaunya merapihkan tata letak selembaran 20.000-an yang dia taruh diatas meja tadi sambil berjalan kecil menghampiri saya. Dan kemudian saya dan istri pun keluar dari toko percetakan kecil itu dan menghampiri anak saya yang menunggu di motor. CASE CLOSE.!!

Oh ternyata belom CLOSE. Sepanjang jalan menuju motor sampai saya duduk dan hendak menyalakan motor saya dan istri membicarakan dakwaan sang Polisi yang katanya saya menerobos Lampu Merah, cuma itu?? Padahal malah saya kira soalnya tadi naik motor bertiga dan si anak gak make helm, ya itu saya akui salah, karena gak aman. Kalo gak punya SIM bisa dimaklumi, motor baru soalnya, tapi tetap salah menurut aturan hukum perlalu lintasan. Tapi menberobos Lampu Merah?? masih 11 detik lagi?? ternyata saya masuk jebakan Betmen para pelaku Kriminal berseragam itu. Tapi biarlah saya rela 50.000 saya melayang, mudah-mudahan dipakai buat hal yang bermanfaat seperti beli sembako keluarganya, atau beli oleh-oleh buat anaknya. Asal jangan buat judi, mabok, atau bayarin kontrakan istri simpanannya aja, saya gak rela kalo itu. Tapi yang jelas saya ambil hikmah dari ini semua karena saya sendiri baru sekali ini kena tilang dan akhirnya saya melihat sendiri betapa rapuhnya Moral dan Mental Polisi walau kedengarannya katanya Polisi di pertigaan Ramandha tegas dan gak bisa dibeli. Ya, mata kepala saya akhirnya menelanjangi kebobrokan Aparat Hukum yang bernama Polisi, apapun bentuknya, mau POLANTAS kek, SABHARA kek, INTEL kek, BRIMOB kek, sama aja. Ya, Polisi benar-benar telah MENJUAL MURAH HUKUM yang sebenarnya dibuat dengan perdebatan seru dan buat keselamatan orang banyak. Tapi Hukum juga gak pengaruh banyak buat orang kecil seperti saya, soalnya saya sendiri gak tau siapa yang buat hukum tersebut. Jadi, menurut saya Hukum yang ada saya simpulin sebagai acuan aja, gak perlu dijalanin mentah-mentah, kalaupun dijalanin sepenuhnya cuma bikin kaku gerak aja. POLISI Oh POLISI ... akhirnya saya tahu bentuk aseli kalian sepenuhnya, dan bukan denger doang ... Hmmm. (DimJoen)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...