Tampilkan postingan dengan label ANARCHIST. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANARCHIST. Tampilkan semua postingan

MOLOTOV COCKTAIL: Menjelaskan Molotov Dan Fungsinya


Meskipun pada saat saya menulis tulisan ini tidak ada laporan mengenai penyebaran tank dari Iran, saya pikir saya akan tetap mengumpulkan beberapa info dasar mengenai taktik anti-tank.

Molotov cocktail (bom molotov, atau biasa disebut molotovkoktor di Iran) sangatlah efektif untuk melawan kendaraan lapis baja dan tank.
Bom molotov tidak bisa menghancurkan kendaraan lapis baja, tetapi dapat menyebabkan suhu yang sangat panas dan berasap di dalam kendaraan tersebut, memaksa crew yang berada di dalam kendaraan tersebut untuk keluar. Hal itu juga dapat menyebabkan tank menjadi tidak berguna dengan menghalangi penglihatannya.

Semua orang tahu bagaimana cara membuat bom molotov. Yang tidak diketahui oleh semua orang adalah ada berbagai macam bom molotov, dan semua mempunyai kegunaan masing-masing. Berikut ini adalah jenisjenis dari bom molotov:

1. Bom Molotov Klasik
Semua orang mengetahui bom molotov klasik. Mengisi botol kaca dengan bensin. Isi dari botol tidak harus penuh. Masukkan sepotong kain di leher botol, itu untuk menjaga bensin yang ada di dalamnya. Potongan kain yang digunakan sebaiknya direndam terlebih dahulu dengan sesuatu yang mudah terbakar. Potongan kain tersebut tidak boleh direndam di dalam bensin, lebih efektif jika direndam dengan minyak tanah (paraffin) atau diesel.
2. Bom Molotov Lengket
Bom molotov jenis ini dibuat untuk melekat/menempel pada sasaran. Hal ini juga menghasilkan asap hitam yang tebal, menghalangi pandangan di dekat lokasi sasaran. Molotov jenis ini sangat ideal untuk tank, karena dapat melekat pada logam, dan menyebabkan suhu panas di dalam tank.

Campurkan bensin dengan potongan polistirena. Polistirena tersebut akan larut di dalam bensin, sehingga membuat larutan itu menjadi sangat kental dan lengket. Saat meletakkan potongan kain di leher botol, pastikan sangat ketat/erat/kuat, dan jangan sampai ada bahan kimia yang tersisa di tangan anda, itu akan membuat anda terbakar juga.

3. Bom Molotov Asap
Bom molotov berasap sangat ideal untuk menghalangi pandangan Basij (organisasi paramiliter yang didirikan oleh Ayatullah Khomeini), atau apapun yang menyebabkan keributan. Asap yang ditimbulkan sangatlah banyak, bertahan hingga beberapa menit, dan menghalangi pandangan penembak.

Campurkan bensin dengan beberapa batang sabun atau sabun pencuci piring. Itu akan membuat larutan menjadi lengket (meskipun tidak selengket campuran bensin dengan polistirena). Menghasilkan asap dengan jarak yang sangat jauh, sangat sempurna untuk menakut-nakuti musuh.

Bagian-bagian Tank yang Harus Diserang

Tank tidak dapat dihancurkan dengan bom molotov, tetapi kita bisa membuat crew di dalam tank tersebut untuk segera keluar dengan menciptakan suhu panas dan asap. Untuk melakukan hal tersebut, kita harus melemparkan bom molotov di bagian yang tepat dari tank. Ini untuk tank tempur yang berada di balik menara. Melemparkan bom molotov di dekat ventilasi udara akan membuat suhu panas dan berasap di dalam kokpit.

Sumber: Freedom Manual

MAYDAY BUKAN HARI BURUH!!


Ya betul, Mayday bukan hanya sekedar hari buruh yang berhak diakui oleh mereka yang merasa dirinya buruh. Mayday adalah hari bagi setiap orang, setiap individu yang merasa kebebasan mereka terebut oleh sebuah sistem ekonomi dan budaya yang hanya menyisakan ruang untuk sebuah aktifitas rutin yang penuh perhitungan untung-rugi.

Hari bagi mereka yang berhasrat menjadi manusia, bukan hanya sekedar penjual dan atau pembeli. Mereka yang menolak diri mereka memimpikan hidup dengan keragaman nilai bukan hanya hidup tanpa kemandirian, kreatifitas, kekuatan dan penemuan-penemuan nilai-nilai baru yang tidak terdesak dan tergusur oleh satu nilai: ‘nilai ekonomi’. Mereka yang menolak mendasarkan hidup mereka hanya pada satu kepentingan dan tujuan: ‘kepentingan dan orientasi pasar’. Mereka yang menginginkan hidup dengan petualangan dan dengan kontrol penuh atas diri mereka sendiri dalam genggaman tangan mereka. Hari bagi setiap individu yang menolak dunia yang hanya menghargai orang dari seberapa banyak property yang ia miliki, seberapa besar kesuksesan yang ia peroleh dan seberapa besar kekuasaan yang ia raih. Hari bagi setiap orang yang menolak untuk di-standarisasi, di massifikasi, diasingkan dan direduksi eksistensinya sebagai komoditas belaka.

Mayday bukan hanya hari para buruh yang menolak diperbudak hanya karena mereka tak punya modal dan melacurkan diri mereka didalam pabrik-pabrik untuk sekedar kebutuhan hidup sehari-hari namun juga hari bagi seorang pekerja kerah putih yang bekerja di sebuah korporasi dan menolak jadi kelas menengah. Hari bagi seorang profesional muda yang menolak menjadi tua dan meninggalkan profesi mereka. Hari bagi seorang agen asuransi yang menjelaskan pada setiap klien mereka bahwa tak pernah ada jaminan polis yang cocok bagi hidup mereka, hari bagi seorang penyair yang menghidupi puisinya dan hari seorang rapper yang mengasah skill-nya hingga ke level gila-gilaan dan menolak menjualnya ketangan sebuah korporasi rekaman. Hari bagi seorang punk rock yang berhenti di-mohawk dan keluar dari stereotipikal ‘punk rock’ dan berbagi pengetahuan tentang independensi komunitas dengan seorang Darul Arqam. Hari bagi seorang gitaris grindcore yang tak lagi menulis lagu tentang kematian karena sadar bahwa kematian adalah hal yang normal didalam masyarakat yang hanya sekedar bertahan hidup. Hari bagi seorang seniman yang memberi jari tengah pada kurator. Hari bagi seorang religius yang membenci institusi agama dan menolak seruan perang agama. Hari bagi seorang desainer pada sebuah perusahaan periklanan yang mem-vandal sendiri billboard hasil ide mereka dan hari bagi seorang anak keturunan sunda yang melecehkan omongan negatif ayahnya tentang ras medan dan cina dan kemudian menyebut ayahnya sebagai seorang rasis. Hari bagi seorang pegawai bank yang pura-pura lupa catatan keuangan satu semester terakhir dan menyimpannya untuk dijual ke tukang beling. Hari bagi seorang ibu rumah tangga yang menolak mencuci piring dan pakaian suami jika hanya lantaran ‘kewajiban moral seorang istri’. Hari bagi seorang anggota geng bermotor yang tak lagi yakin bahwa hidup dapat dijalani diatas sepeda motor dan tak percaya omongan ‘senior’ feodal mereka bahwa membunuh anggota geng musuh dapat mewakili eksistensi mereka. Hari bagi seorang anak SMA yang tak ingin mencari identitas didalam sebuah pencitraan sabun mandi, odol, deodorant atau sepatu Nike dan hari bagi seorang tamtama yang tak yakin lagi dunia ini dapat dibangun dengan komando dan sadar ia punya potensi kebebasan yang tak bisa dicampuri oleh patriotisme dan bacot komandan mereka. Hari bagi seorang intel yang muak mengintai hidup orang lain untuk kemudian mulai sibuk ‘memata-matai’ hidupnya sendiri. Hari bagi pengamen jalanan yang menolak mengemis belas kasihan penumpang angkot dan tetap bernyanyi sepanjang hari dan memakan makanan dari tong sampah sebuah Plaza. Hari bagi sepasang kekasih yang menjalani cinta atas dasar restu dan komentar orang lain dan tidak lagi menghakimi cinta atas alasan kelamin. Hari bagi seorang homoseks yang tak lagi percaya pada klub-klub gay dan mencari kebebesan dengan membakar tabloid “Gaya Nusantara”. Hari bagi seorang karyawan McDonalds yang memperlambat layanan bagi konsumen dan mencuri stok makanan yang terbuang dari gudang dan hari bagi seorang ABG yang membawa rekan-rekannya nangkring di fast food berjam-jam dengan bermodal air putih dan timbel dari rumah dan tak membeli makanan disana. Hari bagi seorang gemar film yang bertanya 1000 kali pada petugas tiket “film apa hari ini?” dan hari bagi seorang seniman performance yang berkostum satpam pada sebuah bank dan breakdance sepanjang hari. Hari bagi mereka yang berikrar akan memblokade setiap jalan yang akan dilalui birokrat IMF, World bank dan WTO di seluruh Indonesia, Hari bagi seorang aktivis lascar jihad yang mempropagandakan perang melawan Israel tanpa terperangkap retorika rasis dan perang agama, Hari bagi seorang aktivis mahasiswa yang tak percaya lagi retorika gerakan moral dan membuat nilai-nilainya moralnya sendiri yang bukan demi nilai-nilai dari slogan-slogan ilusi seperti “Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater”. Hari bagi seorang nasionalis yang tak lagi menyembah patung burung garuda dan mulai membangun komunitas bukan atas alasan cinta tanah air dan hari bagi seorang fasis yang bunuh diri.

Dan yang paling pasti, Mayday adalah hari bagi kami yang tak peduli kalian mengerti selebaran ini atau tidak, tak peduli selebaran ini berguna bagi kalian atau tidak. Di sebuah era dimana massa mayoritas melecehkan kebebasan individu dan kekuatan individu dipakai untuk meraih massa guna kepentingan dirinya dan segelintir orang kami tak tertarik untuk ikut dalam kompetisi meraih simpati dan dukungan ‘massa’. Bagi kami kekuatan ‘massa’ hanya akan lahir jika setiap orang menyadari kekuatannya sendiri untuk dapat bebas dan melakukan apa yang dikatakan hasratnya bukan hasrat yang diciptakan oleh elit, birokrat, pemilik modal, kebutuhan pasar, dan tradisi. Bagi kami, Mayday bukan ‘hari buruh’ karena momen peringatan model begini bagi kami hanyalah omong kosong. Kami tak ingin bebas hanya dalam satu hari saja. Kami tak ingin sebuah hidup hanya diatas sebuah panggung festival sehari seperti layar tancep yang jika ada gerimis langsung bubar. Kami ingin festival ‘setiap hari’ yang memfasilitasi lantai dansa bagi ‘setiap yang hidup’. Mayday adalah hari kita semua ketika menghajar kebosanan sebuah dunia.

Rebut dan curi kembali hidup kalian, tuntutlah yang tak mungkin !!!
LET’S GET THE ‘PARTY’ STARTED !!!

SEBARKAN DAN TULARKAN!!

*Tulisan colongan ini sudah pernah disebarkan beberapa tahun yang lalu. Aku share lagi, karena mungkin kawan-kawan ada yang belum membacanya. 

Diambil dari: HITAM MERAH, Tanggal Posting: 30 April 2010

The Internet Strikes Back # OpMegaupload (by: Anonymous)


Dalam beberapa menit beberapa dari situs ditutup, dan DOJ (Depatement Of Justice) kemudian merilis pernyataan, Anonymous beraksi dan mulai mencatat satu ton situs- termasuk situs untuk DOJ, Kantor Hak Cipta AS, Universal Music, RIAA, MPAA dan banyak situs lain.

Dan berikut target yg berhasil diserang:
  • Department of Justice (Justice.gov)
  • Motion Picture Association of America (MPAA.org)
  • Universal Music (UniversalMusic.com)
  • Belgian Anti-Piracy Federation (Anti-piracy.be/nl/)
  • Recording Industry Association of America (RIAA.org)
  • Federal Bureau of Investigation (FBI.gov)
  • HADOPI law site (HADOPI.fr)
  • U.S. Copyright Office (Copyright.gov)
  • Universal Music France (UniversalMusic.fr)
  • Senator Christopher Dodd (ChrisDodd.com)
  • Vivendi France (Vivendi.fr)
  • The White House (Whitehouse.gov)
  • BMI (BMI.com) 
  • Warner Music Group (WMG.com)

Anonymous meluncurkan serangan terbesar yang pernah diluncurkan, melumpuhkan situs pemerintah dan situs musik industri. Hacktivists dengan Anonim kolektif melancarkan serangan terhadap situs web untuk Gedung Putih setelah berhasil melanggar situs untuk Departemen Kehakiman, Universal Music Group, RIAA dan Motion PictureAssociation of America.

Banyak anggota Kongres baru saja mengubah sikap mereka terhadap UU Hentikan Pembajakan kontroversial Online, atau SOPA, serangan pada Kamis Megaupload membuktikan bahwa FBI tidak perlu SOPA atau saudara undang-undangnya yaitu PIPA, untuk menimbulkan ledakan ke Web.

AnonOps, 19 Januari 2012

Hal Yang Perlu Kita Ketahui Tentang ACTA

Apa itu ACTA?

ACTA atau   Anti-Counterfeiting Trade Agreement adalah Perjanjian Perdagangan Anti-Pemalsuan. Sebuah properti intelektual baru penegakan perjanjian yang dirundingkan oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, Swiss, dan Jepang, dengan Australia, Republik Korea, Selandia Baru, Meksiko, Yordania, Maroko, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Kanada baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan bergabung dalam juga.

Mengapa Anda harus peduli tentang ACTA?

Laporan awal mengindikasikan bahwa perjanjian akan memiliki cakupan yang sangat luas dan akan melibatkan alat-alat baru yang menargetkan "distribusi Internet dan teknologi informasi." (Invasi militer kah??)

Apa tujuan ACTA? 

Kabarnya tujuannya adalah untuk menciptakan standar hukum baru penegakan kekayaan intelektual, serta kerjasama internasional meningkat, contoh yang akan menjadipeningkatan dalam berbagi informasi antara lembaga penegak negara penan datangan 'hukum'.

Berikut penjelasan video tentang ACTA:


TOLAK ACTA!! TOLAK SOPA!! TOLAK PIPA!! 
TOLAK PENGEKANGAN HAK INTELEKTUAL!!
DUKUNG KEBEBASAN!!

**Sebarkan berita ini ... terimakasih!!

TOPENG PERLAWANAN SUBCOMANDANTE MARCOS

Membisu maka suara kita meluruh….

Topeng balaclava tak pernah lepas menutup seluruh wajahnya. Tak ketinggalan juga ceruta yang selalu menempel erat di mulutnya, ikut kemana pun ia pergi. Dunia pun terus bertanya-tanya, “siapa orang dibalik topeng itu?” Pertanyaan itu terus berkecamuk dan menimbulkan berbagai spekulasi hingga sekarang tentang siapa si misterius dibalik topeng itu. Tak ada jawaban pasti, hanya sekedar terkaan belaka yang sangat sulit dibuktikan kebenarannya. Orang dibalik topeng itu bisa saja berganti setiap waktu sesuai keadaan tanpa ada yang tahu. “Subcomandante Marcos hanyalah sebuah simbol bagi perlawanan masyarakat adat,” tegas orang dibalik topeng itu.

Banyak pihak memperkirakan, orang dibalik topeng itu adalah salah satu professor muda di salah satu universitas di Meksiko. Ada lagi yang mengatakan, ia adalah mantan gerilyawan marxis yang telah lama menghilang dan sekarang muncul kembali dengan wajah baru. Namun, itu hanyalah rekaan saja karena tak ada yang tahu siapa sebenarnya Subcomandante Marcos itu. orang dibalik topeng balaclava itu juga tak pernah mau membuka topengnya kepada siapa pun sehingga misterinya tetap terjaga. Apalagi, semua pasukan pemberontak (EZLN) memakai topeng yang mirip dengannya. Tanpa wajah, hanya mata saja yang terlihat karena Subcomandante Marcos sejatinya adalah simbol perlawanan. Simbol perlawanan yang apabila eksistensinya dimatikan, maka pemberontakannya akan terus hidup karena tidak bergantung pada satu orang tapi keputusan bersama (klandestine).

Subcomandante Marcos. Inilah nama yang membuat seluruh dunia tercengang pada 1 Januari 1994. Tanggal yang bertepatan dengan pemberlakuan North America Free Trade Agreement (NAFTA) di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Di Chiapas, Meksiko, Subcomandante Marcos mengumumkan adanya pemberontakan masyarakat adat dengan anam Ejercito Zapatista Liberacion Nacional (EZLN) terhadap pemerintahan. Tepat pergantian tahun, mereka menyerbu San Cristobal de Las Casas (Balaikota Chiapas) untuk melakukan pemberontakan dan mengumumkannya ke berbagai kantor berita di dunia.

Penyerbuan itu berlangsung sukses dan seluruh dunia pun langsung mengetahuinya. Tak hanya itu saja, mereka juga membuat seluruh dunia kaget karena gerakan ini tak pernah diduga akan muncul sebelumnya. Dengan status sebagai pemberontak, EZLN terus melakukan perlawanan terhadap rezim neoliberal di Meksiko. Tanpa henti, dibawah komando Subcomandante Marcos, EZLN terus melawan rezim yang hanya menginginkan penggunaan logika pasar dalam kehidupan. Anehnya, meski pemberontak, EZLN tak ingin menjadi penguasa atau mengganti ideologi negara Meksiko. Mereka memperjuangkan demokrasi, kebebasan, dan keadilan dengan dibukanya ruang publik yang bebas intervensi. ”Bendera, UUD, lagu kebangsaan, pahlawan-pahlawan nasional: hal-hal yang sering dianggap usang inilah yang memberi jiwa gerakan Zapatista,” tegas Comandante Ramona pada Februari 1994.

Bagi EZLN, pemberlakuan NAFTA merupakan hukuman mati terhadap petani kecil dan masyarakat adat. Neoliberalisme sebagai ideologi pasar merupakan ancaman bagi eksistensi masyarakat adat karena kehidupan tak hanya dinilai dari uang. Neoliberalisme menghancurkan eksistensi masyarakat adat karena mereka harus memrivatisasikan tanah adat yang sejatinya tak sekedar tempat berpijak. Didalamnya mengandung memori, harapan, dan sejarah masyarakat adat. Ini adalah sebuah kejahatan yang sungguh kejam dengan topeng keuntungan material. Selain itu, neoliberalisme juga juga akan meminggirkan kelompok minoritas karena mereka dipaksa untuk sama atau seragam dengan menghilangkan identitas yang melekat pada dirinya. “Zapatismo bukanlah suatu ideologi. Ia bukan doktrin terima jadi…karena di tiap tempat jawabnya berlainan. Zapatismo semata mengajukan tanya sambil menegaskan bahwa pluralislah jawabannya, inklusiflah jawabannya…” papar Subcomandante Marcos dalam sebuah komunikenya.

Dengan gaya khasnya, Subcomandante Marcos terus melancarkan “serangan” mematikannya ke seluruh dunia. Dunia pun dibuat marah, terkejut, dan terkagum-kagum dengan “bom” yang terus ia hujankan. Dari tempat yang tak pernah terdeteksi di pedalaman hutan belantara Chiapas, “bom” dengan denominator melebihi kekuatan nuklir itu terus ia lontarkan tanpa henti. Tak ada korban jiwa yang jatuh, hanya kuping panas rezim pro pasar dan dukungan dari seluruh penjuru dunia yang mengalir menanggapi “bom” yang ia lontarkan. Apakah senjata mematikan itu? Neil Harvey dalam tulisannya yang berjudul The Political Nature of Identities, Borders, and Orders: Discourse and Strategy in the Zapatista Rebellion mengatakan, senjata mereka adalah kata-kata.

Kata adalah Senjata

Dalam keheningan orang-orang adat ini melihat dan dilihat. Dalam keheningan mereka merasa angin dari bawah sedang bertiup. Dalam keheningan orang-orang adat ini tahu…

Banyak yang bilang, nuklir adalah senjata paling mematikan di dunia. Kekuatan dan dampaknya dapat menghancurkan dunia beserrta isinya. Namun, hal ini tak berlaku bagi para pemberontak EZLN. Senjata paling mematikan bagi mereka adalah kata-kata. Dengan kata, dunia yang ada saat ini tercipta. Segala sesuatu ada karena kata. Dengan kata, pengetahuan seseorang dapat terisi. Seperti yang diutarakan filsuf Perancis, Michael Foucault, power is knowledge. Hal ini juga ditegaskan Subcomandante Marcos, sejnta utama mereka adalah kata yang bisa mengubah dunia berserta isinya. “Kata adalah senjata,” tegasnya.

Dengan puisi dan cerpennya, gerakan Zapatista “menyerang” seluruh belahan dunia tanpa terkecuali. Cerpen karya Subcomandante Marcos tentang kisah seekor kumbang kecil yang melawan neoliberalisme berjudul Durito adalah karya monumentalnya. Bahkan, di harian La Jornada, Subcomandante Marcos bersahut-sahutan menulis cerpen bersambung dengan salah satu sastrawan Meksiko. Subcomandante Marcos juga secara rutin mengirimkan komunike EZLN ke seluruh dunia melalui saluran internet. Tulisan tentang Durito dan komunike ini mengilhami berbagai macam pemikiran tentang pentingnya ruang publik dan penghentian marjinalisasi kelompok minoritas. Secara keseluruhan, EZLN mengilhami berbagai macam gerakan anti-neoliberalisme. Salah satu bukti nyatanya adalah adanya protes dalam setiap KTT WTO, G-8 (sekarang berganti G-20), serta lainnya.

Namun, tanda tanya besar senantiasa muncul tentang gerakan kata-kata mereka. Bagaimana cerpen atau komunike itu bisa tersebar ke selutruh dunia karena belantara Chiapas tak terhubung dengan saluran komunikasi dan informasi? Bagaimana komunike itu ditulis menggunakan data-data terbaru karena mereka tinggal di tengah hutan belantara? Bagaimana cara mereka bisa berkomunikasi dengan dunia luar?? Inilah beberapa pertanyaan penting yang samapi sekarang belum bisa terjawab. Hidup di tengah hutan belantara tapi dapat terus mengakses informasi dan merespon keadaan dunia kontemporer secara detil.

Dengan kata-kata, Zapatista dan Subcomandante Marcos berusaha melawan hegemoni dunia yang berpaham neoliberalisme. Bagi Zapatista, masyarakat adat harus tetap mendapatkan hak mereka secara penuh dan tetap dihormati sebagaimana adanya. Meskipun minoritas, masyarakat adat adalah bagian dari dunia, begitupula kelompok-kelompok marjinal lainnya. Mereka harus dapat tempat semestinya tanpa harus dipinggirkan oleh kekuasaan. Keseragaman hanya akan memperburuk wajah dunia. Dunia akan tampak lebih indah dengan keragaman yang ada didalamnya. Selain itu, keberadaan negara adalah sesuatu yang penting untuk melindungi rakyatnya. Negara tak boleh jatuh ke tangan pemilik modal agar kepentingan semua pihak bisa terpenuhi. Bukan sekedar akumulasi kapital saja. Karena itu, dunia yang lain adalah mungkin…

Referensi:
  1. Fauzi, Noer et al (eds.), Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga (Yogyakarta: Resist Book, 2005)
  2. Justice, Jason, Opposing NAFTA: International Opposition to the Northa American Free Trade Agreement (Edinburg: Haymarket Press, 1996)
  3. Marcos, Subcomandante, Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan, terj. Ronny Agustinus (Yogyakarta: Resist Book, 2005)
  4. ____________________, Kata Adalah Senjata, terj. Ronny Agustinus (Yogyakarta: Resist Book, 2006)
  5. Lapid, Yosep, et. al (eds.). 2001. “Identities, Borders, and Orders: Rethinking International Relations Theory”. London: University of Minnesota
  6. Ronfeldt, David F. dan John Arquila, The Zapatista “Social Netwar” in Mexico (RAND Publication, 2001)
Ditulis oleh: Arif Setiawan
Diambil dari: JURNAL HURIA

DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PEREMPUAN

Globalisasi, kata ini sering didengung-dengungkan, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut tercantum makna hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dalam perdagangan. Tidak boleh ada lagi proteksi, ataupun monopoli.

Dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain.

Yang sering dilupakan adalah proses pengintegrasian ekonomi satu negara ke dalam ekonomi dunia, akan berimplikasi terhadap kehidupan rakyat banyak.

Logika yang selalu didengungkan oleh para penganut pasar bebas, bahwa dalam proses ini akan dicapai satu perolehan yang adil. Benarkah begitu ?

Seorang ahli ekonomi bernama Torado mengatakan, bahwa sama halnya dengan pasar bebas, perdagangan bebas lebih ada dalam teori ketimbang dalam praktek.

Dari sana kita bisa melihat negara berkembang harus berhadapan dengan bisnis internasional yang seringkali berbuah ketidakadilan, dan ini berdampak terhadap perempuan.

Teori perdagangan bebas mengabaikan adanya perbedaan yang besar dalam kemajuan teknologi, ini mengakibatkan produk-produk tenun yang biasa dikerjakan oleh para perempuan, yang biasa dihasilkan dari pewarna alami, dan kapas alami, harus bersaing dengan teknologi dari berbagai jenis mesin, pewarna kimia ( buatan ), kapas sintetik, belum lagi jika motif tradisional dari kain-kain tersebut diambil lalu dipatenkan.

Mereka para pengrajin dan penenun, dua bidang yang banyak dikerjakan perempuaan di berbagai daerah seperti di Sumba, Flores, dan lain sebagainya, tidak lagi bisa bersaing dengan teknologi.

Asumsi lain dari penganut perdagangan bebas adalah preferensi dan cita rasa konsumen dianggap tetap. Kenyataannya ? Selera konsumen sangat dipengaruhi oleh iklan, satu mata rantai yang sangat berperan dalam masuknya cita satu barang. Baik itu Coca-Cola, Mc Donald, dan lain-lain. Dapat diperkirakan lebih dari 90% dari semua iklan dibiayai oleh perusahaan asing. Dan kalau kita tanya lagi siapa target utama dari pengiklanan ini ??? Kita bisa katakan adalah perempuan. Mengapa ???

Banyak alasan, antara lain perempuan selain sebagai pekerja, merekapun berada sebagai pengatur keuangan dalam keluarga.

Iklan-iklan yang dibiayain oleh perusahaan-perusahaan asing ini, menargetkan perempuaan sebagai tujuan utamanya. Mulai dari iklan kecantikan ( kulit harus tampak putih, tubuh harus terlihat langsing ). Dan disebarkanlah berbagai mitos. Kalau ingin rambut hitam panjang harus memakai produk shampoo ini atau shampoo itu. Di daerah pedesaan, iklan pemakaian peptisida juga digembar-gemborkan. Jadilah perempuan, petani, dan anak-anak terkena dampak dari racun peptisida tersebut. Yang pada akhirnya mempengaruhi utang, para tenaga kerja wanita pun memasukan keuntungan untuk devisa negara.

Jadi perempuan menjadi target pemasukan, dengan dibukanya lintas penjualan jasa...

Pertanyaannya, adakah perlindungan diberikan ???

Ditulis oleh: A.K.A Kapitalis
Dalam sebuah postingan catatan di Facebook tertanggal 11 Januari 2012

DOWNLOAD e-Zine ANTIFARA POSTER edisi 1 Januari 2012 [pdf]


ANTIFARA atau Anti-Fasis Nusantara adalah jaringan Anti-Fasis yang berawal dari menggeliatnya kawan kawan di arena dunia maya yang berusaha menghalau beberapa pengguna dunia maya yang membawa faham NAZI. Berangkat dari sebuah alasan yang sama kemudian kami membentuk sebuah forum di bulan bulan akhir 2011, tepatnya bulan Oktober. Dengan inisiatif penuh terbentuklah fan Page di Facebook dan sekaligus Forum (Group)-nya yang berisi dari beberapa kawan yang berasal dari beberapa kota seperti: Lokhseumawe, Banda Aceh, Medan, Palembang, Padang, dan Bandar Lampung, Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi, Bogor, Sukabumi, Cipanas, Bandung, Semarang, Kudus, Yogyakarta, Blora, Malang, Surabaya, Tarakan, dan Palopo. Dan dari forum ini kami belajar bersama, membicarakan dan mendiskusikan suatu kasus/hal/artikel yg kemudian dilempar ke Fan Page dan Blog kami.

Dan salah satu hasilnya adalah peluncuran beberapa poster di fan page dan akhirnya kami rangkum disini. edisi zine poster pertama ini adalah rilisan zine perdana kami. Yang kami maksudkan sebagai media agar bisa di follow up oleh kawan-kawan yang mengunduh dengan menempelkannya ditempat tempat yang strategis atau tempat / institusi yang anda gak suka seperti POS POLISI atau KANTOR PEMERINTAHAN atau POSKO-POSKO ORMAS FASIS.

Ya, mari kita melakukan Soft/Shock Terror ke pada masyarakat. Katakan pada Dunia bahwa kami ada untuk MEMBANGKANG! Dan PEMBANGKANGAN INI BUKAN TANPA ALASAN ... TERROR INI BUKAN TERROR YANG MEMBUNUH, TERROR INI ADALAH TERROR YANG MEMBERIKAN PENCERAHAN KEPADA MASYARAKAT BAHWA KITA BERADA DALAM SEBUAH SISTEM KORUP YANG MEMBUNUH HASRAT HIDUP (Ini lebih bahaya! Manusia akan seperti Zombie dibuatnya) ...

SELAMAT BERAKSI KAWAN!!
SELAMAT MENGANCURKAN SISTEM KORUP!!
DAN PANJANG UMUR PARA PEMBANGKANG!!


Download ANTIFARA ZINE POSTER [pdf]

MELAWAN KONSUMERISME DENGAN "HARI TANPA BELANJA" ATAU BUY NOTHING DAY

Buy Nothing Day logo
“Wuaduh lebaran koq lagi-lagi belanja belanja belanja, konsumsi konsumsi, beli beli beli !!!”

Hari Tanpa Belanja atau lebih dikenal “Buy Nothing day” awal mulanya dirayakan tiap tanggal 28 November atau hari sabtu setelah perayaan thanksgiving tapi kalo di sini biasanya dirayakan pada hari sabtu pekan terakhir di bulan November. Dan sekarang ide awal tentang Buy Nothing day tersebut berkembang menjadi Buy Nothing Week. Tapi aku postingin artikel ini lantaran kalo di endonesa sekaranglah moment yang menurutku cukup tepat. Moment lebaran dimana biasanya orang-orang pada suka belanja-belanja yang gak penting dan banyak mall juga gelar diskon. Dan menurutku diskon tuh semacem jebakan konsumerisme, dimana seharusnya barang tersebut nggak kalian butuhkan lantas kalian beli karena murah harganya dan diskon pastinya yaaa taulah barang-barang yang gak laku-laku [hehe, koq malah ngelantur ke diskon ???]. Oke berikut ini sedikit sejarah dan penjelasan Buy Nothing Day yang aku dapatkan dari berbagai sumber…

Apa Hari Tanpa Belanja itu?

Hari Tanpa Belanja adalah sebuah ide sederhana untuk bersikap lebih kritis pada budaya konsumen dengan jalan mengajak kita untuk tidak berbelanja selama sehari. Ini adalah suatu bentuk perlawanan terhadap budaya konsumerisme.

Dari mana Hari Tanpa Belanja berasal?

Hari Tanpa Belanja telah dimulai sejak 1993 oleh Adbuster—sebuah kolektif aktivis media yang berpusat di Kanada yang bertujuan meningkatkan kesadaran kritis konsumen (idenya berasal dari Ted Dave, pendiri Adbusters). Kini Hari Tanpa Belanja telah dirayakan secara internasional di lebih dari 30 negara.

Apa tujuannya?

Sebagai konsumen, kita seharusnya mempertanyakan produk-produk yang kita beli dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Idenya adalah untuk membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa dan seberapa banyak yang mereka beli telah berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara berkembang.

Siapa yang merayakan?
Kamu, Kalian! Ini adalah perayaan kita! Beritahu teman-teman, pasanglah poster dan jangan belanja.

Mengapa ada perbedaan tanggal perayaan?

Di Amerika Serikat dan Kanada, Hari Tanpa Belanja biasanya dirayakan sehari setelah hari perayaan Thanksgiving. Namun di Indonesia, Hari Tanpa Belanja biasa dirayakan pada hari Sabtu pada minggu terakhir bulan November dan tidak menutup kemungkinan di Indonesia di adakan beberapa hari sebelum perayaan Idul Fitri, dimana pada hari itu biasanya merupakan klimaks masyarakat Indonesia mendatangi pusat-pusat perbelanjaan didaerahnya masing-masing . Begitu juga ditempat lainnya, hari dipilih berdasarkan hari yang paling memungkinkan pada saat itu orang-orang menghabiskan waktu untuk berbelanja.

Apa yang akan saya dapatkan?

Selama 24 jam atupun seminggu Kamu akan mengambil jarak dari konsumerisme dan merasa bahwa belanja itu tidak terlalu penting. Setelah itu Kamu akan mendapatkan kembali kehidupanmu. Itu adalah sebuah perubahan besar! Kami ingin Kamu membuat komitmen untuk mengurangi belanja, lebih sering mendaur-ulang, dan mendorong para produsen untuk bersikap lebih jujur dan fair. Konsumerisme modern mungkin merupakan sebuah pilihan yang tepat, tetapi tidak seharusnya berdampak buruk bagi lingkungan atau negara-negara berkembang. Satu hal yang sangat menantang tapi akan berbuah kepuasan untuk bisa mencoba hidup tanpa belanja. Ini akan menjadi sebuah prestasi dengan reward nya yaitu diambilnya kembali waktu-waktu yang biasanya Kamu pake “shopping” dengan hal-hal yang bisa kamu gunakan untuk mengembangkan potensimu. Menulis, menggambar, main musik, korespondensi, memasak, olah raga, dll.

Apakah itu berarti saya dilarang belanja?

Percayalah, sehari tanpa belanja tak akan membuat Kamu menderita. Kami ingin mendorong agar orang-orang berpikir tentang akibat-akibat dari apa yang mereka beli bagi lingkungan dan negara-negara berkembang.

Belanja? Apa salahnya?

Sebenarnya bukan hanya belanja itu sendiri yang berbahaya, tetapi juga apa yang kita beli. Ada dua wilayah yang perlu kita perhatikan, yaitu lingkungan dan kemiskinan. Negara-negara kaya di Barat (hanya 20% dari populasi dunia) mengkonsumsi lebih dari 80% sumber alam dunia, dan menyebabkan ketakseimbangan dan kerusakan lingkungan, serta kesenjangan distribusi kesejahteraan. Kita patut cemas pada cara barang-barang kita dibuat. Juga banyaknya perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan tenaga kerja di negara-negara berkembang karena murah dan tidak ada sistem perlindungan pekerja.

Bagaimana dengan lingkungan?

Bahan-bahan baku dan cara pembuatan yang digunakan untuk membuat barang-barang kita memiliki dampak buruk seperti limbah beracun, rusaknya lingkungan, dan pemborosan energi. Pengiriman barang-barang ke seluruh dunia juga menambah tingkat polusi.

Apakah satu hari akan membuat perubahan?

Hari Tanpa Belanja tidak akan mengubah gaya hidup kita hanya dalam satu hari, ia lebih merupakan sebuah pengalaman melakukan perubahan! Kami bertujuan membuat Hari Tanpa Belanja mengendap dalam ingatan setiap orang—layaknya peringatan Lebaran, Natal, atau Tujuh Belasan—agar juga berpikir tentang diri mereka sendiri, tentang keluarga terdekatnya, keluarga, teman-teman, dan masa depan.

Pikir lagi sebelum membeli! Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini sebelum berbelanja!

  • Apakah saya benar-benar memerlukannya?
  • Berapa banyak yang sudah saya punya?
  • Seberapa sering saya akan memakainya?
  • Akan habis berapa lama?
  • Bisakah saya meminjam saja dari teman atau keluarga?
  • Bisakah saya melakukannya tanpa barang ini?
  • Akankah saya bisa membersihkan dan/atau merakitnya sendiri?
  • Akankah saya bisa memperbaikinya?
  • Apakah barang ini berkualitas baik?
  • Bagaimana dengan harga? Apakah ini barang sekali pakai?
  • Apakah barang ini ramah lingkungan?
  • Dapatkah didaur-ulang?
  • Apakah barang ini bisa diganti dengan barang lain yang sudah saya miliki?

Info lainnya tentang Hari Tanpa Belanja:

Diambil dari: HitamMerah
Judul Aseli: Buy Nothing Day [Hari Tanpa Belanja]
Posting: 19 September 2008

PEKAN BUKU ANARKIS KE-8 DI KROASIA

Informasi ini kami terima dari 325 dan disebarluaskan untuk semua.

Pekan Buku Anarkis yang ke delapan (8) akan diadakan pada tanggal 31 Maret hingga tanggal 2 April 2012.

Pekan Buku Anarkis di Zagreb (ASK – Anarhisticki Sajam Knjiga) adalah iven periodikal anarkis yang bertujuan untuk menjadi agenda jangka panjang dan menjadi projek yang terus dikembangkan. Pada penyelenggaraan enam pekan buku yang sebelumnya berlangsung cukup baik, dan kami berharap dapat mengundang lebih banyak orang setiap tahun sebagai partisipan, kelompok penerbit, grup-grup, projek - atau siapapun yang tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh pekan buku ini.

Untuk setiap bagian diskusi dilakukan terbuka, seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan begitu semua usulan, ide-ide dan lain sebagainya dapat diterima juga bila ada tulisan yang menurutmu menarik untuk mempertajam debat yang berlangsung.

Pekan Buku Anarkis (PBA) akan diselenggarakan di Zagreb pada musim semi, sebagai sumber lokal untuk berbagai buku dan publikasi anarkis dan libertarian juga terbitan yang lain. Kami juga berkeinginan untuk membuka diskusi terkait dengan hal-hal atau isu yang penting untuk gerakan anarkis atau untuk komunitas lokal kami.

Ide mengenai pekan buku bukanlah sesuatu yang baru, namun berbasis pada pengalaman positif dari Pekan Buku Anarkis yang sudah pernah diselenggarakan. Dalam berbagai situasi yang berbeda, pekan buku ini telah membuktikan diri sebagai iven yang penting dan menjadi tempat pertemuan sekaligus bagi komunitas lokal dan internasional.

Ini mengapa kami sangat membutuhkan dukungan dari kalian - datang dan mendukung acara ini dengan solidaritas dan partisipasi penuh.

Jika kemudian ternyata kalian tidak bisa hadir dalam pekan buku ini, kalian dapat mengirimkan beberapa publikasi, poster atau material gratis lain yang kalian punya. Kau juga dapat mengirimkan buku atau publikasi lain yang dapat dijual di acara ini, kami akan mengorganisir sebuah ruang untuk semua yang tidak bisa datang, namun bersedia untuk mempresentasikan hasil kerja kalian di pekan buku.

Kalian dapat menghubungi kami untuk detil informasi lebih lanjut di alamat email:
anarhisticki.sajam.knjiga@gmail.com. 

Melalui alamat email ini, kalian akan mendapatkan informasi ke mana mengirim material untuk pekan buku ini.

Partisipasi 

Untuk memudahkan kami mengorganisir Pekan Buku Anarkis ini menyelesaikan program ini tepat waktu, kami membutuhkan konfirmasi dari partisipasimu secepat mungkin. Alamat email kami:
anarhisticki.sajam.knjiga@gmail.com

Segera hubungi agar kami dapat mengetahui cara apa yang kau pilih untuk berpartisipasi.

Di bawah ini ada beberapa pertanyaan, dan kami juga menerima beberapa informasi tambahan.

Juga beritahu kami jika kau membutuhkan akomodasi. Ada beberapa alternatif yang tersedia, namun kami membutuhkan seluruh detail secepat mungkin.

Beberapa detail informasi yang kami butuhkan dari kalian:

1. Pertanyaan untuk semua orang yang datang dari luar Zagreb:
  • Bagaimana caramu untuk bisa berpartisipasi?
  • Apakah kau ingin melakukan presentasi, workshop atau menggagas diskusi di pekan buku?
  • Apakah kau membutuhkan bantuan dalam persoalan akomodasi (Tempat menginap gratis sangat terbatas)

2. Jika kau ingin membuka stall/lapak/warung:
  • Berapa besar ruang yang kau butuhkan?
  • Apakah kau membutuhkan bantuan di stall/lapak mu?
  • Bisakah kau ikut berdonasi untuk memangkas biaya di Pekan Buku? (Ini bukan syarat untuk bisa membuka stall/lapak/warung, karena tempatnya gratis.)
  • Kami membutuhkan beberapa informasi mendasar tentang kau (kontak, buku yang kau publikasikan/distribusikan [bukan berisi daftar/list, namun hanya berupa informasi singkat]…)

Kau bisa mendownload poster dari Pekan Buku Anarkis ini dari web kami. Klik di http://www.ask-zagreb.org/anarchist-bookfair-zagreb-2012.pdf

Juga lihat draft awal dari pekan buku ini (masih belum selesai, program tahun lalu masih online).

Untuk informasi lebih lanjut:
e-mail: anarhisticki.sajam.knjiga@gmail.com

*Follow Up berita dari: NEGASI

V de Vendetta The Comics (Menjelaskan Anarkisme Lewat Komik)


"Kerusuhan dan keributan ini, V… Inikah anarki? ... Anarki berarti "tanpa pemimpin", bukan "tanpa peraturan". Bersama anarki datang masa ordnung, masa keteraturan sejati… dgn kata lain keteraturan secara sukarela. […] Ini bukan anarki, Eve. Ini kekacauan." (petikan percakapan V dengan Eve dari komik V for Vendetta, hlm. 195)

Anarki dan kekacauan, samakah? Ya bila kita lihat pemakaian kata "anarki" dalam bahasa sehari-hari. Tapi tidak bila kita melihatnya dari sejarah aliran pemikiran kritis.Buku Sean M. Sheehan, Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan (Marjin Kiri, 2007) berusaha mengupas sejarah anarkisme sebagai sebuah falsafah politik, dengan dampaknya yang meluas pada bidang kebudayaan dan kesenian.

Sebagai falsafah politik, anarkisme sering dianggap tidak serius dan diasosiasikan sebagai "kenakalan liar" belaka. Sebagian penyebabnya adalah karena anarkisme menolak konsep Negara tunggal atau tersentral, padahal "Negara berdaulat adalah sumber otoritas politik sebagaimana yang kita pahami. Sedemikian kuat konsep ini sampai sulit untuk membayangkan apa jadinya ilmu politik tanpa konsep Negara" (Anarkisme hlm. 23). Meskipun menentang Negara, anarkisme tidaklah menentang pemerin­tahan dalam arti "administrasi sistem politik". Anarkisme mendambakan pemerintahan swakelola yang dijalankan sukarela oleh warganya, bukan lewat paksaan aparatus hukum Negara yang kita kenal sekarang.

Proyek macam ini sering dibilang utopis, namun Sheehan mencontohkan komunitas-komunitas anarkis kuno maupun baru yang terbukti mampu menjalankan ideal macam ini, mulai dari komunitas Diggers di Inggris abad ke-17 sampai komunitas Zapatista di Meksiko yang melancarkan pemberontakan menjelang akhir abad ke-20. Sheehan juga merayakan kejayaan kubu Anarkis dalam memerangi pasukan Fasis dalam Perang Saudara Spanyol tahun 1930-an. Dalam perang inilah terbukti bahwa prinsip-prinsip anarkis mungkin diterapkan dalam penataan kehidupan politik modern. Revolusi anarkis ini terbukti berdampak positif pada kinerja perekonomian. Produksi pertanian Spanyol meningkat antara 1936 dan 1937 (hlm. 102). Sheehan menggugat, meski bukti-bukti ini berlimpah, "namun anehnya tidak dianggap sebagai argumen bahwa anarkisme itu mungkin diterapkan pada abad ke-21." (hlm. 49).

Dianaktirikan dalam lingkup ilmu sosial-politik, anarkisme justru memberi banyak pengaruh dalam kebudayaan dan kesenian. Musik punk misalnya, adalah anak kandung anarkisme. Sheehan memaparkan banyak contoh karya-karya sastra dan film yang mengangkat tema atau prinsip anarkisme dengan stereotipnya masing-masing. Sungguh kebetulan bahwa dalam waktu yang tak beda jauh terbit pula komik V for Vendetta (Gramedia, 2006) yang juga bisa dipakai sebagai contoh bagaimana anarkisme ditampilkan dalam budaya pop. Publik Indonesia mungkin lebih dahulu mengenal V for Vendetta di layar lebar.

Alkisah dalam komik ini, Inggris tahun 1997 dikuasai oleh kediktatoran fasis Takdir yang dipijakkan pada konspirasi militer, birokrat, dan rohaniawan, dengan dipadu oleh kemahakuasaan teknologi. Kebudayaan, kesenian, dan pemikiran pada umumnya diberangus. Rakyat hanya boleh mendengarkan siaran radio yang mengudarakan Suara Takdir. Kamera televisi siaran terbatas (CCTV) dipasang di tiap sudut jalan mengawasi gerak gerik masyarakat. Intel bertebaran di mana-mana. Kebebasan nol. Dalam kata-kata Sang Pemimpin: "Aku percaya pada persatuan. Dan jika kekuatan itu, kesamaan tujuan itu menuntut keseragaman pikiran, kata, dan perbuatan, itulah yang harus diterapkan." (Vendetta, hlm. 37).

Di tengah situasi represif inilah muncul tokoh V yang melancarkan serangkaian perlawanan dengan teknik-teknik anarkis. V adalah tokoh eksentrik yang memakai jubah dan topeng teater yang selalu tersenyum. Dulu ia pernah dijadikan kelinci percobaan medis di kamp konsentrasi, namun tak ada penjelasan bagaimana setelah lolos ia bisa merintis proyek perlawanannya. Yang jelas, di rumahnya berjajar karya-karya sastra, musik, dan film yang telah diberangus dari kehidupan publik. Dari sinilah ia menimba ilmu dan inspirasi tentang kebebasan.

V disebut anarkis karena dalam perlawanannya ia tidak berusaha menggulingkan rezim Takdir lalu menggantinya dengan "pemerintahannya" sendiri. Ia berusaha menyadarkan masyarakat bahwa ada kehidupan lain di luar hidup yang mereka alami sekarang ini. V cuma membuka jalan, hanya pemberontakan bersamalah yang bisa mengubah kehidupan. Hal pertama yang dilakukannya adalah meledakkan Gedung Parlemen. Rezim berusaha berdalih bahwa ini adalah "penghancuran disengaja untuk menghindari kemacetan." Kekuasaan yang hendak berlaku total dalam prakteknya justru mudah digoyang oleh hal-hal kecil, karena itulah V lalu menculik Komandan Lewis Prothero yang setiap harinya menjadi pengisi Suara Takdir di radio. Karena tak berhasil menemukan penggantinya, rezim pun siaran seadanya, dan "seluruh negara mendengarkan. Ada yang salah dengan Suara Takdir. Hal seremeh itu telah menebarkan bayangan gelap […] Segalanya tak lagi sama." (hlm. 36). Totalitas Negara mulai rontok.

Komik V for Vendetta adalah novel grafis serius yang sungguh memukau dalam cerita maupun visualnya. Sayang sekali penggarapan edisi Indonesia ini tidak sepadan dengan kualitas komik ini aslinya. Banyaknya salah penggal kata menunjukkan rendahnya kualitas proofreading, sementara penerjemahan beberapa kutipan yang merujuk pada karya-karya sastra "tinggi" tidak dilandasi pengetahuan memadai tentang kutipan tersebut, sehingga membuat tokoh V jadi kelihatan seperti tukang ngelantur yang tidak jelas apa yang dibicarakannya. Lihat kutipan puisi W.B. Yeats ini di hal. 196: "Berputar-putar di pusaran yang membesar, burung falcon tak dapat mendengar tuannya, segalanya hancur… inti tak dapat bertahan." Andai penerjemah mau sedikit teliti melacak puisi tersebut, tentu akan tahu bahwa puisi "The Second Coming" ini dipakai sebagai epigram pembuka mahakarya Chinua Achebe Things Fall Apart, yang telah diterjemahkan dengan sangat baik menjadi Segalanya Beran­takan (Sinar Harapan, 1986): "Berputar-putar dalam putaran melebar/ elang pun tiada mendengar sang pemburu/ segalanya berantakan; pusat tak dapat bertahan/ hanya anarki kini melanda dunia."

Achebe memakai puisi Yeats sebagai alegori runtuhnya kolonialisme di Afrika, dan Moore mengutipnya di Vendetta sebagai alegori runtuhnya pusat kekuasaan fasisme Takdir--sesuatu yang tak tertangkap dalam terjemahannya di komik ini. Hal sama juga berlaku untuk kutipan soneta-soneta Shakespeare, yang tentunya akan jadi lebih baik bila penerjemah mau menengok terlebih dahulu hasil terjemahan Trisno Sumardjo.

Meski kedua buku ini menyegarkan, sebenarnya ini bukan pertama kalinya buku-buku anarkisme diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Setahu saya, dulu pernah beredar secara bawah tanah terjemahan karya tokoh-tokoh anarkis macam Rudolf Rocker dan Emma Goldman dalam bentuk stensilan. Namun inilah pertama kalinya buku tentang anarkisme digarap secara serius dan beredar di toko buku mainstream. Apakah dengan ini wacana anarkisme diharapkan bisa dengan bebas memasuki ruang publik tanpa disertai kecurigaan dan resistensi? Sepertinya itulah yang hendak disasar oleh penerbit Marjin Kiri, seperti bisa dibaca pada penjelasan mereka: "Apakah kita tengah berada dalam era kebangkitan anarkisme global sebagai respon terhadap neoliberalisme global? Hal ini penting untuk dikaji, karena setelah kapitalisme dan komunisme turut menanggung dosa sejarah yang besar, barangkali anarkisme kontemporerlah yang bisa menawarkan alternatifnya." (Anarkisme, hlm. i). Mengkaji anarkisme secara ilmiah dalam konteks neoliberalisme sekarang tentu saja menarik, meski ada beberapa soal yang masih bisa diperdebatkan. Benarkah gerakan-gerakan antineolib yang sering disebut sebagai "masyarakat sipil global" ini sama dengan "anarkisme global"? Tidakkah neoliberalisme yang bertujuan menciutkan seminimal mungkin peran Negara justru berbatasan tipis sekali dengan prinsip anarkis yang menolak Negara terpusat?

Banyak pertanyaan belum terjawab dari buku Sheehan, namun kehadirannya diharap bisa memberi masukan baru dalam pemikiran progresif di negeri ini. Ketika "kiri" disebut-sebut, asosiasinya diharap tidak lagi tertuju secara kaku pada "sosialisme" atau "komunisme" semata, namun juga "anarkisme" dan pelbagai varian pemikiran libertarian lainnya. Sheehan bahkan menggaris­bawahi keberagaman spektrum politik kiri ini dengan menuliskan bahwa pihak yang paling banyak menghabisi gerakan anarkis justru bukan kaum kapitalis, melainkan Lenin dan Stalin yang komunis.

Tapi sebagai gagasan, anarkisme terbukti mustahil dihabisi. Dalam V for Vendetta tokoh V tanpa gentar menerjang peluru-peluru pistol sambil berkata ke penembaknya: "Kau hendak membunuhku? Tak ada darah atau daging di balik jubah ini yang dapat dibunuh. Hanya ada ide. Dan ide tahan peluru." (Vendetta, hlm. 236). Toh V tetap manusia dan mati juga kena peluru itu. Tapi Eve sang murid mengambil­alih jubah dan topengnya untuk menjadi V baru. Sama seperti ketika Uni Soviet ambruk dan kapitalisme dirayakan se­bagai pemenang tunggal, neo-anarkisme justru dengan cepat merebak di sekujur bumi: Chiapas, Seattle, Praha… Atau dalam kata-kata Eve yang sekarang men­jelma V: "Mereka bilang anarki sudah mati, tapi lihat saja… berita kematianku dibesar-besarkan." (Vendetta, hlm. 258).

Diambil dari: Koran Tempo, 25 Februari 2007
Ditulis oleh: Donni Ramdani (pencinta buku, Jakarta)
Judul Aseli tulisan: Mempopulerkan Anarkisme
Download Komiknya (Pdf, mediafire): V de Vendetta - Alan Moore & David Lloyd - Comp.rar

IMORALITAS NEGARA [pdf download]

Mikhail Bakunin
"Setiap negara, apakah negara itu mempunyai karakter federasi atau non federasi, mempunyai keharusan untuk melahap negara lain, supaya ia tidak dilahap, memperbudak supaya tidak diperbudak dan menguasai supaya tidak dikuasai. Pada hakikatnya, setiap negara itu mempunyai karakter bertentangan dengan nilainilai kemanusiaan. Negara menghancurkan solidaritas diantara manusia dan mempersatukan sebagian manusia hanya untuk menghancurkan, menguasai dan memperbudak sebagian lain manusia. Sebuah negara hanya melindungi warga negaranya, karena negara itu tidak mengakui hak-hak orang lain diluar batas kekuasannya: dan secara prinsipil, negara ini akan memperlakukan orang asing dengan semena-mena. Kalau negara itu memperlakukan orang asing tersebut dengan manusiawi, itu bukan karena kewajibannya: karena negara itu tidak mempunyai kewajiban kepada siapa pun, tetapi kepada dirinya sendiri dan warga negaranya, yang telah membentuknya."


Selanjutnya Bisa didownload Pdf: IMORALITAS NEGARA

PATRIOTISME : ANCAMAN BAGI KEBEBASAN [pdf]

Emma Goldman
Apakah patriotisme itu? Apakah cinta dengan tempat lahir seseorang, tempat seseorang mengenang masa kecil, mimpi dan aspirasinya? Dengan sebuah tempat, dimana kita dengan jiwa kekanak-kanakan memandang awan yang bergerak dan bertanya mengapa kita tak dapat begerak secepat awan itu? Dengan tempat dimana kita melihat bintang-bintang betebaran di langit ? Dengan tempat dimana kita mendengar kicauan burung dan berangan-angan ingin bisa terbang seperti burung ke tempat nun jauh? Atau, apakah cinta dengan tempat kita dipangku ibu mendengar dongeng-dongengnya ? Singkatnya, apakah patriotisme itu adalah cinta dengan setiap jengkal tempat dimana kita dibesarkan dan bermain, dimana kita dapat mengenang masa kecil yang penuh dengan kegembiraan?

Kalau itu adalah patriotisme, hanya sedikit orang Amerika yang bisa menjadi patriotik, karena tempat bermainnya sudah dibangun menjadi pabrik-pabrik dan dengungan mesin telah menggantikan musik (kicauan) burung.

Kalau begitu, apakah patriotisme itu? Leo Tolstoy, anti patriotisme terbesar zaman ini, mendefinisikan patriotisme sebagai suatu prinsip yang membenarkan pelatihan pembunuh; suatu usaha yang memerlukan peralatan yang lebih canggih untuk membunuh manusia daripada untuk membuat keperluan manusia, misalnya, sepatu, pakaian dan rumah; usaha yang dapat membawa kebesaran dan sukses, lebih daripada usaha-usaha lain.

Gustava Herve, juga seorang anti patriot yang besar, mengartikan patriotisme dengan tepat. Menurutnya, patriotisme adalah takhyul yang lebih bahaya dan brutal daripada agama. Takhyul agama berasal dari ketidak mampuan manusia untuk menjelaskan fenomena alami. Misalnya, ketika seorang manusia primitif mendengar geledek dan melihat kilat, dia tidak dapat menjelaskan kejadian itu dan menganggap bahwa ada kekuatan yang lebih besar darinya. Dia juga akan menganggap semua fenomena lain, seperti hujan sebagai fenomena gaib. Lain dengan patriotisme yang merupakan takhyul yang diciptakan dan dipertahankan secara artifisial, melalui jaringan penipuan dan kebohongan; tahkyul yang merebut kehormatan seseorang dan membuatnya sombong.

Memang, egoisme dan kesombongan adalah sifat-sifat yang harus dimiliki seorang patriot. Saya akan coba menjelaskan pernyataan di atas. Paham patriotisme menganggap bahwa dunia ini terpecah menjadi bagian -begian kecil, setiap bagian dikelilingi pintu besi. Mereka yang beruntung (kebetulan) lahir dalam sebuah bagian tersebut, akan menganggap diri mereka lebih tinggi derajatnya, lebih pandai dan lebih segala-galanya (dibandingkan dengan manusia di luar pintu besinya). Jadi merupakan tugas bagi setiap orang yang lahir di bagian yang ’terpilih’ itu untuk berperang, membunuh dan mati untuk membuktikan "kebenaran dan kelebihannya" kepada orang lain di luar pintu besinya.

Selanjutnya anda bisa download pdf-nya: PATRIOTISME : ANCAMAN BAGI KEBEBASAN

Dokumen A-Infos Tentang Pertemuan Pertama Kongres JAFNUS (Jaringan Anti-Fasis Nusantara), 19 Desember 1999


Indonesia JAF Nusantara 1st gathering

From "Reko Ravela" <ravelre@dlc.fi> 
Date Sat, 18 Dec 1999 11:48:31 -0500 

I've had some communications with indonesian anarchist comrade, and here are some bits of information related to 1st gathering of JAF held 2.-3.12. in Yogyakarta and generally situation of Indonesian left scene. Jaringan Anti-Fasis (JAF, Antifascist Network) is new anarchist(-oriented) network of radical youth groups in Indonesia. 

 "Comrades came from Semarang, Jakarta and Surabaya; Bandung FAF did not make it because they've something on in Sumatera. Delegation from Jember (East Java) came late after the meeting. 
 ... A number of resolutions were made during the meeting : 
  1. We ammended the JAF's platform a little bit 
  2. We made a collaborative media called 'sindikat berontak' (The Rebel syndicate) 
  3. JAF is now called JAF Nusantara. "Nusantara" is the ancient name of Indonesia (during Majapahit kingdom) which is is a geographic description, which means islands in between two great oceans, Indian and Pacific oceans. This actually includes, Thailand, Phillippines, Malaysia. This is more appropriate than Indonesia (which is eurocentric). ... 
Could you send me info/addresses of Phillippine's anarko/revolutionaries? ... Delegates from different areas discussed local conditions. There will be more of such gatherings later. We'll have a big gathering, sometimes next year. ... 

These are the antifa organs in here 
  • Jakarta : AFRA 
  • Semarang: SARAF/ RI Boots 
  • Surabaya : Resistance against Oppression (Barisan Anti Penindas) 
  • Yogyakarta : The last Palm Community ... 

We 've yet to have a strong organisation. JAF is a loose network without any sort of concrete programs ... 

Student organizations, KPRP and GMIP included have formed the national students' league and KPRP's newsletter, 'merah' has become the collaborative media. Very strong ML there. GMIP has a good but very ML publication, 'ganesha' ... 

Sindikat berontak #3 is out now with a writing from you (after political revolution - social revolution). And news from the antifascist gathering, bands etc, ZAPATA etc. ... 

The Indonesian Institute of Art's students in people's cultural institute, 'Taring Padi' continued with their publicaton 'terompet rakyat.' Very responsive to a lot of ideas. Realist art with again ML tendency. Strong involvement with farmers/peasents. There will be a few days workshop/trade fair (12-19 Dec) with farmers, Taring Padi and environmental group, focussing on peasants empowerment and once again making farming relevant to the people who have been viewing farming as a lowly occupation. ... 

The Asia pacific anti imperialism conference had just finished. Korea, Japan, Nepal, Philippine delegates attended. Most are ML/ Maoist/New Left. There was an @ delegate from Japan. Other than that, the resolution was to oppose liberalism, IMF, G7 meeting, Okinawa's Us Military base..Action in Phhilippine in 2000, against imperialism ... 

I am looking for books, phamplet, articels on Zapatista to be translated and possibly published in series in our new media if we change the name of 'sindikat berontak'." 

JAF in Yogyakarta can be contacted: tjuangempa@hotmail.com 
JAF 
c/o ISI, Jalan. Gampingan No.1, Wirobrajan,Yogyakarta.


diambil dari: A-infos

JAFI (Jaringan Anarko Feminis Indonesia)


Akhirnya kami menemukan Jaringan ini ... semoga berkembang ya pergerakan Ananrko Feminisme di Indonesia, mengingat semakin maraknya kasus kasus yang melulu mengedepankan perempuan sebagai Objek Penderitanya ... SALUT!!

SOLIDARITAS: BEBASKAN 2 KOMBATAN SOSIAL DI JOGJA!!!



Kami mendapatkan satu lagi kabar buruk terkait dua orang kombatan sosial Jogjakarta yang sudah ditahan sejak tanggal 7 Oktober 2011. Keduanya ditahan terkait aksi penyerangan berupa pembakaran yang berujung pembakaran sebuah fasilitas Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Jogjakarta yang merupakan properti finansial dari salah satu jejaring kapitalisme yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Kedua kombatan tersebut, yaitu Reyhart Rumbayan (Eat) dan Billy Agustan (Billy) merupakan partisipan dari sebuah grup insureksi urban bernama Long Live Tortuga Cell - FAI Indonesia.

Dari informasi yang kami terima, masa penahanan keduanya kembali diperpanjang oleh pihak kepolisian hingga tanggal 5 Januari 2012, meski pada kenyataannya hingga hari ini kedua kombatan sosial tersebut belum juga dibebaskan. Ini berarti sudah 93 hari dan terus berlanjut, kedua insureksioner Jogja tersebut mengalami penyekapan di balik jeruji penjara.

Keduanya kemungkinan besar akan didakwa dengan tuduhan kriminal dengan maksimal hukuman sembilan (9) tahun penjara. Kedua pejuang tersebut dikenakan pasal 187 ayat 1 bagian E dan ayat 2 bagian E, dan pasal 170 KUHP.

Persidangan atas aksi keduanya kemungkinan besar akan dilakukan pada bulan ini, Januari 2012. Namun kami masih belum mengetahui kepastian tanggal persidangannya. Oleh karenanya, kami memohon bantuan dan solidaritas dalam berbagai bentuk dari semua yang sempat membaca berita ini.

Sebarkan kabar ini ke segala sudut dan mari tunjukkan solidaritasmu kepada mereka yang direpresi karena menyerang para penindas.

Bebaskan 2 Kombatan Jogja !!!
Bakar Semua Penjara !!!
Panjang Umur Insureksi !!!

Sumber: NEGASI

Anarchy: A Graphic Guide (Bahasa Indonesia)

"Seperti halnya ide-ide cemerlang, anarki terasa cukup mudah ketika kamu benar-benar menjalaninya—manusia berada dalam kondisi terbaiknya ketika mereka hidup bebas dari otoritas, memikirkan dan memutuskan sesuatu secara bersama-sama dibanding menerima perintah. Itulah maksud dari kalimat—Tanpa Pemerintahan. Seringkali kebanyakan dari kita sudah bersentuhan dengan hal semacam ini (meski ada beberapa golongan orang yang memang menikmati diperintah), namun kita juga mengerti, biasanya kita merasa sulit melakukan sesuatu untuk diri sendiri—ketika kamu mencobanya kamu pasti akan melanggar aturan ataupun menentang beberapa regulasi serta hal yang lainnya.

Namun, sepanjang sejarah manusia banyak orang-orang yang benar benar dapat melakukannya. Untuk hidup dengan bebas. Terkadang mereka melakukannya sendiri, terkadang dalam sebuah kelompok yang kecil, adakalanya juga mereka melakukannya di dalam gerakan popular yang dashyat.

Itulah apa maksud dari Anarki—sebuah panduan grafis yang sebenarnya. Buku ini merupakan sebuah catatan dari beberapa orang tersebut dan orangorang yang ingin membangun sebuah dunia baru dan menghidupi kehidupan yang bebas dari belenggu otoritas. Dan ingat—kamu bukannya sedang memegang sebuah buku sejarah di dalam genggamanmu, karena Anarki adalah mengenai orang-orang biasa, seperti kamu dan aku. Apa yang dijelaskannya sedang menuju ke suatu tempat sekarang, mungkin lebih dekat dari apa yang kamu bayangkan." - Clifford Harper

KEKUATAN NEGARA


Sudah menjadi hal yang umum sekarang ini, bahkan di lingkar kaum anarkis, bahwa negara hanya
dipahami sebagai budak multinasional, IMF, Bank Dunia, dan institusi ekonomi internasional lainnya.
Menurut perspektif semacam ini, negara tidak punya banyak kuasa selain hanya sebagai koordinator
institusi pengendalian sosial yang melaluinya penguasa-penguasa ekonomi berbasis korporat
melanggengkan kekuasaan mereka. Melalui pandangan seperti ini, cukup mungkin untuk membuat kesimpulan bahwa, sedikit banyaknya perspektif seperti ini, akan menghalangi berkembangnya proyek revolusioner yang anarkis. Jika memang negara hanyalah sebuah struktur politis pemelihara stabilitas yang melayani kekuatan-kekuatan ekonomi besar dan bukan sebagai kekuatan yang berdiri dan memiliki kepentingannya sendiri, yang melanggengkan kekuasaannya melalui dominasi dan represi, dengan demikian maka negara dapat direformasi menjadi suatu oposisi institusional terhadap kekuatan multinasional. Berarti untuk membuat alternatif adalah cukup dengan membangun sebuah kekuatan kontra dari “Rakyat” untuk merebut kendali negara. Ide-ide seperti ini tampak memperkuat konsep absurd kalangan anti-kapitalis kontemporer bahwa kita harus mendukung negara-nasion melawan institusi ekonomi internasional. Pemahaman yang cukup jelas mengenai negara sangatlah diperlukan untuk membantah tren semacam ini.

Negara tidak akan ada bila saja kemampuan kita untuk menentukan kondisi eksistensi kita sebagai individu yang berasosiasi secara bebas, bersama dengan yang lainnya, tidak direnggut dari diri kita. Ketidakmampuan seperti ini (atau ketidakpunyaan) adalah alienasi sosial mendasar yang mengkondisikan terjadinya dominasi dan eksploitasi. Alienasi seperti ini akan lebih baik ditelusuri dengan lahirnya hak milik (Saya membawa pengertian hak milik seperti ini karena sedari awalnya sejumlah pemaknaan hak milik bersifat institusional—yakni dimiliki oleh negara). Hak milik dapat dimaknai sebagai hak eksklusif yang dimiliki segelintir individu dan institusi terhadap alat, ruang, dan material-material yang dibutuhkan untuk kehidupan, sebagai konsekuensinya—konsep hak milik—berarti membuat materi-materi tersebut tidak dapat diakses oleh sebagian besar orang. Klaim atau hak seperti ini bila ditelusuri ke belakang dilakukan melalui proses paksaan dan penggunaan kekerasan yang implisit. Ketika telah dicabut dari kebutuhan-kebutuhan mendasar untuk menentukan kondisi hidup, kaum tak berpunya ini, dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi yang ditentukan oleh para pemilik guna melanggengkan eksistensi mereka, dengan kata lain merubah eksistensi mereka menjadi budak. Negara adalah proses institusionalisasi yang merubah alienasi sosial—kemampuan masyarakat untuk merubah dan menentukan kondisi hidup mereka
sendiri—menjadi akumulasi kekuasaan di tangan segelintir orang.

Tidak akan ada gunanya untuk mencoba membedakan apakah akumulasi kekuasan atau kekayaan yang menjadi prioritas ketika negara dan hak milik pertama kali dicetuskan. Karena sekarang ini kedua hal tersebut sangat terintegrasi. Memang, pada awalnya negara dapat dipahami sebagai institusi yang pertama kali mengakumulasi hak milik guna menghasilkan surplus melalui kontrolnya, sebuah surplus yang memberinya kekuasaan nyata terhadap kondisi sosial yang mana subyek tersebut haruslah eksis. Surplus ini membuat negara dapat mengembangkan berbagai macam institusi yang ia gunakan untuk memperkuat kekuasaannya: institusi militer, keagamaan, birokrasi, polisi, dan seterusnya. Dengan demikian, negara, sedari awalnya, dapat disebut sebagai kapitalis dengan sifatnya sendiri, yang memiliki kepentingan ekonominya yang spesifik untuk digunakan sebagai alat pelanggengan kekuasaannya terhadap kondisi eksistensi sosial.

Seperti kapitalis lainnya, negara menyediakan jasa layanan tertentu dengan harganya sendiri. Atau untuk lebih jelasnya, negara menyediakan dua jasa yang saling terkait dan integral: perlindungan hak milik dan ketentraman sosial. Negara menawarkan perlindungan atas hak milik pribadi melalui hukumhukum yang mendefinisikan dan membatasinya dengan keberadaan institusi keamanan (polisi) sebagai penjaminnya. Justru itu, hak milik pribadi hanya dapat eksis dengan adanya institusi negara yang akan melindunginya dari orang-orang yang akan memanfaatkan hak milik tersebut bersamasama. Inilah alasan kenapa Stirner menjelaskan hak milik pribadi sebagai bentuk hak milik pribadi atau negara yang digunakan untuk meniadakan “Yang Unik”. Negara juga menyediakan perlindungan bagi “masyarakat biasa” lewat kekuasaan eksternal yang ditentukan sewenang-wenang oleh negara melalui aparatus-aparatusnya: hukum dan kepolisian. Sebagai satu-satunya pelindung hak milik yang berada di batas-batas kekuasannya—suatu peran yang dilanggengkan oleh negara melalui monopoli kekerasan—ia membangun kontrol yang konkrit dari setiap hak milik tersebut (cukup relatif, tentunya, menimbang kapasitas nyatanya untuk menerapkan kontrol tersebut). Dengan demikian perlindungan ini membutuhkan ongkos berupa pajak dan kewajiban-kewajiban lainnya, juga penyesuaian diri pada peran-peran untuk menjalankan aparatus sosial yang melanggengkan negara dan menerima, dengan “sepenuh hati”, sebuah hubungan antara yang dimiliki (dirimu) dan yang memiliki (negara), yang dapat mengklaim setiap hak milik atau menutup setiap ruang publik demi alasan “kenyamanan bersama” kapanpun ia butuhkan. Keberadaan hak milik butuh negara untuk melindunginya dan keberadaan negara melanggengkan hak milik, oleh karena itu hak milik takkan eksis tanpa negara, seprivat apa pun konsep hak milik pribadi itu.

Kekerasan yang inheren di dalam hukum, polisi, dan militer—yang mana negara menggunakannya untuk melindungi hak milik—adalah juga institusi-institusi yang ia pakai untuk menjamin ketentraman sosial. Kekerasan ini, yang digunakan untuk mencerabut kita—kaum tak berpunya—dari kemampuan kita untuk mengkreasikan hidup adalah apa yang disebut sebagai perang sosial yang biasanya termanifestasikan sebagai pembantaian secara gradual (adakalanya secepat peluru polisi yang bersarang di tubuh) kaum tertindas atau mereka yang termarjinalisasi oleh tatanan sosial. Ketika orang-orang yang termarjinalkan ini mulai mengetahui musuh mereka, mereka akan melakukan serangan balik. Tugas negara untuk menjamin ketentraman sosial adalah suatu tindakan perang sosial yang dilancarkan oleh penguasa terhadap yang dikuasai—untuk mencegah adanya serangan balik dari kaum tertindas. Kekerasan yang dilancarkan oleh penguasa terhadap yang dikuasai merupakan sesuatu yang inheren dalam ketentraman sosial. Kendati demikian, ketentraman sosial yang diciptakan melalui disiplin yang brutal selalu bersifat tak menentu. Cukup penting bagi negara untuk membuat masyarakat percaya bahwa apa yang dilakukan negara terhadapnya diperlukan bagi kehidupan mereka, yang akan membuat mereka mendukung dan patuh pada eksistensi negara untuk menjaga tatanan sosial. Mirip dengan logika kekuasaan Mesir kuno ketika propaganda relijius, ketuhanan Faraoh, dimanfaatkan sebagai alat pemeras kaum tertindas untuk percaya bahwa setiap surplus yang dihasilkan merupakan milik dewa-dewa dan nasib kehidupan masyarakat selalu bergantung pada—meski dalam kondisi kelaparan—niat baik para dewa. Atau logika seperti ini akan mengambil bentuk institusi-institusi demokratis yang menciptakan bentuk pemerasan yang lebih subtil di mana kita diwajibkan untuk berpartisipasi bila kita mempunyai keluhan, yang mana kita harus selalu patuh pada “aspirasi masyarakat” ketika kita memang akan berpartisipasi. Kendati demikian, dibalik semua omongan manis “aspirasi masyarakat” dan “demokratisasi”, selalu terdapat tangan-tangan hukum, militer, dan polisi yang siap memaksa menggunakan kekerasan, dan inilah esensi sebenarnya dari negara dan ketentraman sosial. Selain dari itu semua, hanyalah lapisan-lapisan mukanya. Meski negara dapat dipahami sebagai kapitalis (dalam pengertian bahwa negara mengakumulasikan kekuasan melalui akumulasi surplus kekayaan dalam proses dialektis), kapitalisme sebagaimana yang kita ketahui dengan institusi-institusi ekonominya adalah suatu perkembangan terbarunya yang dapat kita telusuri sejak era modern. Perkembangan ini memang telah membuat perubahan-perubahan signifikan dalam dinamika kekuasaan karena sejumlah besar kelas penguasa sekarang ini tidak secara langsung terlibat dalam aparatus negara, mereka dapat dilihat sebagi “warga negara” seperti halnya masyarakat yang mereka tindas. Namun perubahan-perubahan ini bukan berarti bahwa negara telah ditaklukan oleh berbagai institusi-institusi ekonomi global atau peran negara hanya menjadi peran yang feriferal dalam fungsi kekuasaan.

Apabila negara adalah kapitalis, dengan kepentingan ekonominya sendiri, maka alasannya untuk mempertahankan kapitalisme bukan karena ia telah disubordinasikan oleh institusi kapitalis lainnya, tapi karena ia harus mempertahankan kekuatan ekonominya sebagai kapitalis di antara kapitalis lainnya. Negara-negara kecil yang akhirnya disubordinasi oleh kapitalis global bernasib serupa dengan usaha-usaha kecil yang ditaklukan oleh usaha besar karena mereka tak punya kekuatan untuk terus melindungi dan mempertahankan kepentingan-kepentingan mereka. Negara-negara maju memainkan peranannya untuk menentukan skema kebijakan ekonomi global sama halnya dengan korporasi-korporasi multinasional yang besar, dan justru melalui tangan negara kebijakan-kebijakan seperti ini dapat dijalankan. Kekuatan negara bersandar pada monopoli kekerasannya yang bersifat legal dan institusional. Kekuatan ini adalah modal negara yang dibutuhkan oleh institusi-institusi ekonomi global. Institusi-institusi seperti Bank Dunia dan IMF tidak hanya melibatkan delegasi-delegasi yang berasal dari negara-negara maju untuk membuat keputusan, mereka juga membutuhkan kekuatan-kekuatan militer terkuat di antara berbagai negara maju tadi agar dapat menerapkan kebijakan mereka, suatu ancaman kekerasan fisik yang selalu berada di balik pemerasan ekonomi. Dengan kekuatan kekerasan di tangan mereka, negara-negara maju tidak berperan sebagai sekadar pelayan rejim multinasional. Justru, dalam logika kapitalis yang sebenarnya, hubungan-hubungan mutual dijalin untuk menjamin manfaat bagi setiap kapitalis. Selain monopolinya atas kekerasan, negara juga mengontrol banyak jejaring dan institusi yang dibutuhkan bagi perdagangan dan produksi. Jalan tol, jalur kereta api, pelabuhan, bandar udara, satelit dan sistemsistem yang dibutuhkan bagi jaringan komunikasi dan informasi, semuanya selalu dijalankan dan dimiliki oleh negara. Riset-riset teknologi dan penemuan ilmiah yang dibutuhkan bagi berkembangnya produksi sebagian besar, institusi pendidikan dan militer, dijalankan oleh negara.

Maka kekuatan korporasi juga bersandar pada kekuatan negara agar dapat menjamin eksistensinya. Semua ini tidak dapat dilihat sebagai satu kekuatan menaklukan kekuatan lainnya, tapi berkembangnya suatu sistem kekuasaan integral yang memanifestasikan dirinya sebagai monster berkepala dua: negara dan kapital, sebuah sistem yang berfungsi sebagai suatu keseluruhan untuk mendominasi dan mengeksploitasi, kondisi yang diciptakan oleh kelas penguasa untuk membuat kita tetap seperti ini—tak berpunya. Dalam konteks ini, institusi seperti IMF dan Bank Dunia, adalah alat di mana negara-negara maju dan korporasi multinasional mengkoordinasi aktivitas mereka guna menjaga persatuan para pendominasi terhadap kaum tertindas di tengah iklim kompetisi kepentingan ekonomi dan politik. Oleh karenanya negara bukanlah pelayan institusi institusi seperti ini, tapi institusi-institusi ini yang melayani kepentingan negara-negara maju dan korporasi besar.

Oleh karena itu, sangat tidak mungkin untuk menghancurkan tatanan sosial dengan menggunakan negara-nasion sebagai alat melawan kapitalis. Kepentingan-kepentingan mereka sama, yaitu untuk mempertahankan apa yang ada sekarang. Tugas kita, adalah untuk menyerang dua kekuatan ini semampu kita, dengan memaknai mereka sebagai monster berkepala dua: dominasi dan eksploitasi, yang harus dihancurkan apabila kita ingin merebut kembali kapasitas kita untuk mengkreasikan kondisi hidup yang kita inginkan.

Males baca di blog ini?? atau mau baca nanti?? silahkan download pdf-nya: KATALIS "Kekuatan Negara"

DIBALIK KERAMAHAN SENYUM RONALD Mc DONALDS DALAM SEBUAH KISAH



Waktu menulis ini, saya langsung kepikiran dan teringat masa-masa dulu, dimana saat saya masih sekolah dulu, saya dan teman-teman sering kali menghabiskan waktu di tempat nongkrong paling nyaman, paling asik, paling gaul dan paling bergengsi se-dunia... McDONALD'S. Siapa sih yang gak kenal 'nama' ini?

Kebetulan waktu itu di kota saya, restoran fast food paling ngetop sedunia ini terbilang masih baru dibuka, jadi pasti banyak remaja kayak saya yang menghabiskan waktu disana. Tempat ini benar-benar mengasyikkan sampai kita begitu betah menghabiskan waktu yang tak terasa lewat begitu saja, kita bisa makan-makanan enak sambil dengerin musik, lihat anak-anak kecil bermain, lihat cewek-cewek, pokoknya asik plus nyaman banget lah...

Tapi sebenarnya jika kita duduk didalamnya, terutama di dekat jendela kacanya, kita bisa melihat keluar menatap 'manisnya' realita kehidupan sebenarnya: anak-anak jalanan yang menggantungkan hidupnya di perempatan, ibu-ibu tua pengemis yang duduk sambil menggendong bayi mereka mengharap belas kasihan dari pengunjung-pengunjung McDonalds, abang-abang pengayuh becak yang sepanjang hari sabar menunggu penumpang dan pedagang kaki lima yang berjejer-jejer di pinggir jalan...
Sampai suatu ketika saya pernah membaca tulisan tentang McDonald's ini...

Oke, saya ceritakan apa yang pernah dikatakan salah seorang eks-pekerja McD tentang bagaimana McD mendapatkan ayam-ayamnya.

Dia mengatakan kondisi peternakan McD sangat buruk, bahkan itu lebih mirip tempat penyiksaan ketimbang tempat peternakan. Ayam-ayam diletakkan di kandang yang sama sekali tidak layak disebut kandang. Sempit dan tak punya akses cahaya matahari. Tempat yang seperti itu menyebabkan ayam-ayam tersebut tidak dapat bergerak, bahkan untuk sekedar berdiri. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang patah tulang atau terluka, bahkan tidak sedikit juga yang mati. Sudah sejak kecil ayam-ayam itu disuntik obat anti-biotik dan obat-obatan yang akan membuat mereka cepat tumbuh besar. 44% ayam-ayam tersebut mengalami gangguan kesehatan akibat obat-obatan tersebut dan pengaruh kandangnya. Ayam-ayam yang mengalami hal ini akan dipisahkan dari ayam-ayam lainnya untuk dibantai secara kejam dengan gas beracun. Ayam-ayam yang terpilih, yang tidak cacat dan telah berumur 6-7 minggu kemudian dikirim ke tempat penjagalan. Sebaiknya jangan pernah membayangkan ayam-ayam tersebut dibunuh dengan baik-baik. Di tempat jagal, ayam-ayam itu digantung terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Kemudian ayam-ayam tersebut dicelupkan ke dalam air yang dialiri listrik. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang tidak mati namun begitu menderita akibat sengatan listrik. Barulah setelah itu ayam-ayam tersebut dipotong. Tapi itu bukan pemotongan yang sempurna, melainkan sembarang saja. Satu persen dari ayam-ayam tersebut masih tetap hidup setelah dipotong untuk kemudian dimasukkan ke dalam tangki daging. Ayam-ayam yang masih hidup tersebut memang akan mati, tapi itu adalah kematian yang perlahan dan sungguh menyiksa! Benar-benar horor yang menakutkan bukan...

Dalam proses produksi itu, McD benar-benar telah melakukan eksploitasi tanpa batas terhadap Sumber Daya Alam yang kita miliki. Mungkin sebagian orang beranggapan... "Terus emangnya kenapa, itu kan cuma ayam !?" Memang itu cuma ayam, cuma seekor hewan yang biasa dijadikan sumber makanan bagi manusia, tapi apakah ayam tidak memiliki rasa sakit seperti manusia? Apakah ayam tidak merasa tersiksa karena ekspolitasi yang diperlakukan kepada mereka? Apakah mereka tidak berhak untuk hidup bebas dan berkeliaran? Ayam-ayam itu telah menderita untuk kita, dan apakah McD peduli dengan hal ini? Tentu saja tidak, korporasi mempunyai sifat dasar untuk tidak peduli kepada apapun kecuali kepada PROFIT/KEUNTUNGAN ! Jadi, ayam-ayam itu telah menderita demi keuntungan yang direguk oleh korporat internasional!

Oh jadi seperti itu ya... Ronald McDonalds, badut McD yang kelihatan lucu, ramah dan selalu tersenyum itu ternyata tidak selucu dan tidak seramah yang saya sangka.

Sampai sini, saya memutuskan untuk tidak lagi melangkahkan kaki ke McD ! (Sebuah pilihan dasar yang kamu semua juga punya, seperti kata Arundhati Roy, penulis dan aktivis India: untuk merubuhkan sistem kapitalisme global dan korporat-korporatnya yang merugikan, kamu hanya perlu menggunakan hak pilih kamu yang paling dasar, yaituMEMILIH UNTUK TIDAK MEMBELI LAGI PRODUK-PRODUK KORPORASI INTERNASIONAL !)

Saya juga pernah membaca...

Pada tanggal 31 Maret 1998, digelar pengadilan untuk kasus tuntutan NUS (National United Student – organisasi pelajar di Inggris) kepada McD. Tuntutan NUS yaitu, McDonald's adalah praktek anti-perserikatan pekerja, pengeksploitasian pekerja yang berhubungan dengan pengrusakan lingkungan, kekejaman pada hewan dan promosi produksi-produksi makanan yang tidak sehat. Dan di akhir persidangan, majelis hakim memenangkan tuntutan NUS dan menyatakan bahwa McD bersalah dengan fakta-fakta berikut:

(1) McD mengeksploitasi anak-anak dalam iklan-iklannya
(2) McD bersalah atas kekejamannya terhadap hewan-hewan
(3) Perusahaan tersebut anti-perserikatan pekerja dan membayar pekerjanya di bawah standar
(4) McD bersalah atas penghancuran hutan hujan di negara-negara dunia ketiga
(5) Penyia-nyiaan, polusi, dan sampah dari sisa-sisa produk McD yang tidak bisa didaur ulang
   
(rilisan London Greenpeace, 14 April 1998)

Akhirnya sampai sini, saya lebih yakin untuk memutuskan tidak lagi melangkahkan kaki ke McD ! (Makan nasi pecel masih enak koq, ya gak...). Dan siapakah yang tahu bagaimana McD memperlakukan sisa lebih stok makanan mereka setiap harinya? McD memasukkan burger-burger, daging-daging, nasi dan stok makanan lainnya ke dalam karung dan kemudian menyiramnya dengan air agar makanan-makanan tersebut tidak berbentuk lagi hingga tak dapat dimakan dan kemudian baru dibuang ke tempat sampah! Wah gila benerrr... Sementara, kita tahu ini, semua orang tahu ini dan Tuhan juga tahu ini: di luar jendela kaca McD, di jalanan-jalanan, dimana anak-anak, gelandangan, pengemis dan jutaan rakyat miskin melilit menahan lapar perutnya setiap hari ! Tapi McD lebih memilih untuk memusnahkan kelebihan stok makanannya daripada membagi-bagikan stok lebih makanannya itu kepada mereka !

Dan inilah mitos yang perlu dikembangkan terhadap McD:
- Penyebab Kanker (McCancer) : merusak kesehatan karena setiap yang dijual di McD adalah hasil dari bahan pengawet dan bukan makanan segar
- Pembunuh (McMurder) : pembantai hewan-hewan hanya untuk menambah keuntungan
- Perusak (McDestructor) : menghabiskan hutan-hutan di negara-negara dunia ketiga untuk kepentingan peternakannya demi (lagi-lagi)menambah keuntungannya tanpa mempedulikan hak rakyat dan hak adat pada tanah untuk melanjutkan hidup
- Penyia-nyiaan Bahan (McWaste) : membuat produk yang tidak bisa di daur ulang
- Rakus (McGreedy) : mengeksploitasi tenaga kerjanya dengan waktu yang represif dan upah yang rendah

SEMUANYA ITU DEMI MENAMBAH KEUNTUNGAN !
Jadi... Ini semua berarti bahwa kunjungan kita ke McD adalah pernyataan dukungan terhadap sistem yang telah merusak dan menghancurkan planet bumi ini, yang telah menghancurkan kehidupan para petani dan kaum adat di dunia ketiga, yang telah memperbudak manusia lewat jam kerja yang panjang, tidak masuk akal dengan upah yang minimum, yang telah membuat nilai rupiah jatuh sedemikian rupa di hadapan dollar dan menyebabkan lumpuhnya perekonomian negara ini.

Dan untuk terakhir kalinya...

Kita bisa memilih seperti apa yang dianjurkan Arundhati Roy, MEMILIH UNTUK TIDAK LAGI MEMBELI PRODUK-PRODUK KORPORASI YANG KEJAM !

Dan tentu saja, di era globalisasi dan konsumerisme seperti saat ini(yang bahkan hanya untuk berlebaran, natal, imlek, dan ritual-ritual keagamaan lainnya, kita merasa harus berbelanja!), McD bukanlah satu-satunya produk korporasi yang harus kita tolak !

CARI, BUAT DAFTAR, dan STOP MEMBELINYA !

Catatan dari seorang ERWIND EGALITE, diambil dari blog MANIFESTASI IMAJINASI yang judul aselinya adalah 
Mengapa Saya (sebaiknya) Tidak Makan di McDonald's
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...